Viral Blue Fire Papandayan, Dosen IPB Ungkap Asal-Usul dan Pengamatan yang Aman

ADVERTISEMENT

Viral Blue Fire Papandayan, Dosen IPB Ungkap Asal-Usul dan Pengamatan yang Aman

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 01 Okt 2026 19:30 WIB
Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan
Blue fire Papandayan. Foto: istimewa/dok BBKSDA Jabar
Jakarta -

Viral beberapa waktu lalu fenomena blue fire atau nyala biru tertangkap kamera pendaki di Kawah Manuk, Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Berdasarkan keterangan Badan Geologi, Kementerian ESDM, blue fire terjadi dua hari, yaitu pada 23-24 September 2026.

Blue fire Papandayan semula tampak biru keunguan di beberapa titik dengan sebaran relatif luas. Keesokan harinya, nyala biru menjadi tampak lebih biru keputihan, lebih sedikit dan lebih terkonsentrasi.

Keberadaan blue fire Papandayan dikonfirmasi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Rita Susilawati melalui akun Threads.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nyala tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena blue fire yang berkaitan dengan pembakaran belerang di area solfatara," tulisnya, Jumat (25/9).

Selaras, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, mengatakan blue fire Papandayan merupakan fenomena pembakaran gas belerang yang keluar dari rekahan vulkanik.

ADVERTISEMENT

Fenomena blue fire Papandayan dikatakan Sonni juga serupa dengan blue fire Kawah Ijen yang sudah lebih dulu populer.

Bagaimana Blue Fire Terjadi?

Sonni menjelaskan, blue fire terjadi ketika magma di bawah Gunung Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H₂S) dan sulfur dioksida (SO₂) bersuhu sekitar 200-600 derajat C melalui rekahan fumarol atau solfatara. Area fumarol yaitu lubang tempat gas vulkanik keluar ke atmosfer.

Gas H₂S yang keluar kemudian bereaksi dengan oksigen di udara dan mengalami pembakaran. Reaksi itulah yang menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, dan nyala api berwarna biru, yang disebut blue fire.

"Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius," ucapnya dalam laman IPB, dikutip Kamis (1/10).

Muncul Sejak 2002

Kendati viral baru-baru ini, Sonni mengatakan blue fire di Papandayan sebenarnya sudah ada sejak sekitar 2002. Kemunculannya terjadi setelah erupsi pada November 2002 yang membuka beberapa jalur fumarol dan rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.

"Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi. Ketika bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan blue fire," terangnya.

Menurutnya, kemunculan blue fire dapat lebih sering terlihat karena pengaruh perubahan aktivitas vulkanik Papandayan beberapa tahun terakhir.

Mengutip catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Sonni menjelaskan, ada peningkatan fluks gas SO₂ beserta kenaikan aktivitas gempa vulkanik dangkal pada 2022-2026. Suhu fumarol pun naik dari sekitar 150 derajat C menjadi 300-400 derajat C.

"Pada suhu tersebut, gas H₂S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat," jelasnya.

Cara Melihat Blue Fire dengan Aman

Agar dapat melihat blue fire dengan aman, Sonni mengingatkan agar warga tidak mendekati lokasinya. Ia menjelaskan, tanah di sekitar fumarol bisa rapuh dan gas vulkanik seperti SO₂ dapat berbahaya bagi pernapasan.

"Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh," ujarnya.

Jika hendak mengamati blue fire, amati dari jauh pada malam hari karena di siang hari, cahayanya 'kalah' dari cahaya matahari. Pengamatan di malam hari memungkinkan cahaya redupnya lebih tampak oleh warga tanpa harus mendekati lokasinya.

Blue fire Papandayan sendiri muncul pada pada area fumarol aktif seperti di Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise. Kemunculannya bisa terlihat ketika suasana benar-benar gelap, terutama sekitar pukul 02.00-05.00 WIB.



(twu/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads