Prancis tengah memanas lantaran gelombang demonstrasi para pelajar pecah di sejumlah kota. Lebih dari 400 orang yang sebagian besar anak di bawah umur, ditahan oleh kepolisian Prancis sejak Selasa (29/9/2026).
"Kami belum memiliki jumlah akhir, tetapi saya diberitahu bahwa dua pertiga di antaranya ditahan oleh polisi," kata Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez kepada BFMTV, dikutip dari BBC pada Rabu (30/9/2026).
Isu Kelas Terlalu Besar hingga Kekurangan Guru
Demonstrasi tersebut dimulai di kawasan Ile-de-France, Paris, tetapi kemudian meluas ke berbagai kota. Para pelajar memblokade sekolah mereka selama beberapa hari dan menuntut kebijakan pendidikan yang lebih baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi protes ini melibatkan siswa di ratusan SMA. Para siswa berusia antara 15-18 tahun mengeluhkan permasalahan jadwal pelajaran, kelas yang terlalu besar, kekurangan guru, hingga kelas yang terlalu panas selama fenomena gelombang panas belakangan ini.
Setidaknya 10 guru dan beberapa siswa, serta 48 petugas penegak hukum, terluka selama protes pada Selasa, kata pejabat setempat, dikutip dari BBC. Menurut Kementerian Pendidikan Prancis, setidaknya 400 sekolah terkena dampaknya.
Sementara dilaporkan oleh AFP, di sebuah sekolah di pinggiran Kota Paris, para guru membentuk barisan di sekitar siswa yang berdemonstrasi dalam upaya melindungi mereka dari polisi. Di Paris juga terjadi kebuntuan yang menegangkan antara 30 siswa dan kontingen polisi di sekolah Arago.
Di kota Nantes, para remaja menumpuk puluhan tempat sampah untuk mencegah orang masuk ke sekolah Lycee Gabriel Guist'hau. Selain itu, para siswa yang mengenakan penutup wajah berkumpul di luar SMA Lycee Cesar Baggio di Lille, Prancis utara dan membakar tempat sampah.
Halte bus dan papan reklame dirusak dengan botol. Kemudian batu paving dan benda-benda lain dilemparkan ke polisi. Sementara polisi juga membalas dengan menembakkan gas air mata.
Bentrokan serupa juga dilaporkan di kota-kota termasuk Marseille di selatan, Bordeaux di barat, dan Lyon.
Adapun sekitar 80 siswa berkumpul di luar sekolah Lamartine di Paris, meneriakkan slogan-slogan yang mengeluhkan, "Jam pelajaran lebih banyak daripada waktu tidur."
Suasana tegang turut terjadi di SMA Lycee Brequigny di Kota Rennes. Sekitar seratus siswa melemparkan benda-benda ke gedung tersebut, kata seorang jurnalis video AFP.
Di pinggiran kota Paris di daerah berpenghasilan rendah Seine-Saint-Denis, walikota distrik dari LFI (partai sayap kiri garis keras France Unbowed) Bally Bagayoko, bergabung dengan protes ratusan siswa SMA Lycee Paul-Eluard.
Ia memimpin para siswa menyanyikan lagu kebangsaan. Ia menilai protes tersebut sebagai sepenuhnya sah dan mengeluhkan daerah berpenghasilan rendah menerima lebih sedikit sumber daya daripada daerah berpenghasilan tinggi.
Respons Menteri Pendidikan Prancis
Aksi-aksi tersebut terjadi usai serikat pekerja merencanakan demonstrasi dan pemogokan nasional selama sehari terkait anggaran Perdana Menteri Sebastien Lecornu, sekutu dekat Presiden Emmanuel Macron.
"Kami di sini untuk menyampaikan pesan," kata seorang siswi berusia 16 tahun kepada kantor berita AFP, dikutip dari BBC.
"Kami tidak di sini untuk menghancurkan segalanya tanpa alasan. Kami di sini justru untuk mengatakan bahwa sistem pendidikan benar-benar rusak. Ada 34 siswa di setiap kelas, dan itu tidak mungkin. Para guru terlalu banyak bekerja," ungkapnya.
Berbicara kepada AFP, Presiden Union Syndicale Lycéenne yang mewakili siswa, Ryad Rani, menyebut pemerintah Prancis melakukan penindasan dan polisi menggunakan kekerasan berlebihan. Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengatakan bahwa penggunaan gas air mata dan tongkat untuk menghadapi demonstran, telah dilakukan dengan cara yang sangat proporsional. Ia juga telah dikritik oleh beberapa politisi Prancis.
Menteri Pendidikan Geffray melalui media sosial pada Selasa malam menyebut, "Hak untuk berdemonstrasi adalah kebebasan mendasar yang tidak dapat dijadikan alasan untuk tindakan seperti itu."
"Melegitimasi tindakan tersebut atau, dalam konteks ini, menyerukan perpanjangan blokade berarti membahayakan pelajar kita serta pekerja. Itu tidak bertanggung jawab," ujarnya.
(nah/pal)
