Pesisir Surabaya Barat, tepatnya di kawasan Kalianak Krembangan, Kota Surabaya, Jawa Timur, diperkirakan akan mengalami banjir pesisir atau rob pada akhir September 2026.
Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, potensi banjir rob tersebut dipengaruhi oleh fenomena fase bulan purnama pada 26 September 2026. Diketahui, fase Bulan ini dapat meningkatkan ketinggian air laut maksimum.
Merespons potensi banjir rob tersebut, pakar mitigasi bencana banjir Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Umboro Lasminto ST MSc mengatakan, masyarakat perlu memerhatikan indikator ketinggian air pasang untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari laman ITS, perkiraan pasang air laut di wilayah Surabaya menunjukkan ketinggian pasang mencapai 2,4 meter pada 29-30 September 2026.
"Dari hasil pengamatan yang pernah terjadi sebelumnya, apabila puncak pasang di atas 2,4 meter maka perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir rob," ucap dosen Departemen Teknik Sipil ITS ini, dikutip Minggu (27/9/2026).
Sementara itu, jika ketinggian air pasang berada di bawah angka tersebut, Umboro menilai potensi terjadinya banjir rob relatif lebih rendah. Ia menggarisbawahi, kondisi pasang di lapangan tidak selalu sesuai dengan prediksi.
"Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan ketika terdapat prediksi pasang tinggi di wilayah pesisir Surabaya," pesannya.
Untuk itu, ia mengingatkan agar warga tetap mencermati prediksi air pasang yang dikeluarkan BMKG atau sumber resmi lainnya.
Di samping itu, warga juga dapat mengamankan barang dari tempat-tempat yang berpotensi terkena banjir atau genangan dan menyiapkan alternatif rute perjalanan. Sekalipun tidak jadi banjir rob, langkah ini penting sebagai bentuk kesiapsiagaan.
"Persiapan sejak awal dapat membantu meminimalkan risiko dan dampak apabila pasang berkembang menjadi banjir rob," ucapnya.
Faktor Bulan Purnama di Banjir Rob
Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin ST MT mengatakan, pasang air laut berkaitan dengan siklus bulan. Saat fase bulan purnama berlangsung, dapat terjadi periode pasang yang lebih besar.
"Menurut saya, kenapa September ini terjadi potensi pasang tertinggi hanya karena waktunya kebetulan bersamaan, yakni bulan purnama, pasang tertinggi, kemudian potensi rob," terangnya.
Faktor ini menurutnya ditimpali dengan karakteristik Surabaya sebagai wilayah hilir pesisir. Akibatnya, potensi banjir rob perlu diantisipasi.
Faktor Berkurangnya Area Resapan Air Kota
Ia juga menyoroti area resapan air semakin terbatas lantaran berkembangnya kawasan perkotaan di Surabaya. Menurut Hafiizh, berbagai kawasan terbangun seperti perumahan, perkantoran, hingga kawasan stadion Gelora Bung Tomo (GBT) juga mengurangi area resapan air di Surabaya.
Sementara itu, Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) menurutnya jadi salah satu respons pemkot untuk menangani isu drainase perkotaan.
"Sebagai daerah hilir pesisir, Surabaya tidak dapat menghindari potensi banjir rob sehingga perlu diantisipasi melalui pengelolaan drainase," jelasnya.
