Dapat Dukungan di Medsos tapi Tetap Kesepian, Ini Temuan Studi

ADVERTISEMENT

Dapat Dukungan di Medsos tapi Tetap Kesepian, Ini Temuan Studi

Kalila Untsa - detikEdu
Sabtu, 26 Sep 2026 08:00 WIB
Australia akan menjadi negara pertama yang melayangkan denda pada perusahaan media sosial hingga 49,5 juta dolar Australia atau sekitar Rp544 miliar jika mereka gagal mengambil langkah-langkah untuk memblokir pengguna medsos yang berusia di bawah 16 tahun.
Ilustrasi media sosial Foto: detikINET via Gemini AI
Jakarta -

Rasa kesepian bukan hanya perkara ketika seseorang sedang sendirian. Bahkan, berada di tengah keramaian pun tidak selalu membuat seseorang merasa terhubung dengan orang lain.

Hal serupa dapat terjadi di media sosial. Seseorang bisa sangat aktif berinteraksi di berbagai platform, menerima pesan, dan memiliki banyak koneksi, tetapi tetap merasa kesepian dalam kehidupan nyata.

Sebuah studi terbaru menunjukkan dukungan emosional dari hubungan di kehidupan nyata memiliki hubungan yang jauh lebih kuat dengan kesepian dibandingkan dukungan yang dirasakan seseorang melalui media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan yang diterbitkan dengan judul Real-Life Emotional Support, Social-Media-Based Emotional Support, and Loneliness Among US Adults: A Nationally Representative Study ini menyatakan bukan berarti pertemanan yang dibangun melalui media sosial tidak penting.

ADVERTISEMENT

Penelitian tersebut menunjukkan dukungan secara virtual dan dukungan dalam bentuk tatap muka langsung tidak sepenuhnya dapat saling menggantikan.

Dalam penelitian ini, dukungan emosional merujuk pada perasaan seseorang memiliki orang lain yang bersedia mendengarkan, menerima cerita atau perasaan pribadi, dan membuatnya merasa dihargai.

Media sosial juga bisa memainkan peran berbeda ketika seseorang membutuhkan nasihat, informasi, atau bantuan praktis.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of General Internal Medicine ini meneliti apakah orang dewasa merasa memiliki seseorang yang dapat diajak berbicara, dipercaya untuk menerima cerita pribadi, dan diandalkan secara emosional.

Salah satu peneliti yang terlibat adalah Brian Primack, dokter sekaligus peneliti di Oregon State University, Amerika Serikat yang mempelajari dampak media dan teknologi terhadap kesehatan masyarakat.

"Salah satu fitur penting dari kedua studi ini adalah bahwa kita mengamati orang dewasa, populasi yang kurang mendapat perhatian di bidang ini dibandingkan remaja dan dewasa muda," kata Primack.

Ramai di Media Sosial, tapi Sepi di Kehidupan Nyata

Studi ini melibatkan 1.512 orang dewasa di Amerika Serikat berusia 30 hingga 70 tahun dalam sampel yang dirancang agar representatif secara nasional.. Para peserta mengisi survei secara online pada Juli hingga Agustus 2023.

Peneliti mengajukan pertanyaan mengenai dukungan emosional yang hampir sama untuk dua kondisi. Pertama, apakah peserta memiliki seseorang dalam kehidupan nyata yang mau mendengarkan, menerima cerita pribadi, dan membuat mereka merasa dihargai.

Pertanyaan serupa kemudian diberikan mengenai orang-orang yang mereka kenal melalui media sosial. Dengan menggunakan pertanyaan yang hampir sama, peneliti dapat membandingkan hubungan antara kedua jenis dukungan tersebut dengan rasa kesepian.

Kesepian diukur berdasarkan pengalaman peserta selama tujuh hari sebelumnya. Mereka ditanya apakah merasa dikucilkan, terisolasi, hampir tidak dikenali orang lain, atau berada di tengah banyak orang tetapi tidak benar-benar merasa terhubung.

Hasilnya, sekitar satu dari empat peserta memenuhi batas kesepian yang ditetapkan peneliti. Peneliti kemudian melihat hubungan antara tingkat kesepian tersebut dan dukungan emosional yang dilaporkan peserta. Analisis juga memperhitungkan tujuh perbedaan demografis utama di antara peserta.

Di antara peserta yang dikategorikan mengalami kesepian, 59 persen berada dalam kelompok dengan dukungan emosional kehidupan nyata yang rendah. Sebaliknya, hanya 10 persen yang berada dalam kelompok dengan dukungan kehidupan nyata tinggi.

Setelah memperhitungkan perbedaan demografis, peserta dengan dukungan emosional kehidupan nyata rendah memiliki odds mengalami kesepian lebih dari delapan kali lipat dibandingkan mereka yang memiliki dukungan tinggi.

Angka tersebut merupakan ukuran odds, bukan berarti setiap orang dengan dukungan rendah pasti memiliki peluang delapan kali lebih besar untuk mengalami kesepian.

Peserta dengan tingkat dukungan kehidupan nyata sedang juga memiliki odds kesepian yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan dukungan tinggi. Polanya semakin kuat ketika dukungan emosional dari kehidupan nyata semakin rendah.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa dukungan emosional dari kehidupan nyata memiliki hubungan yang jauh lebih kuat dengan kesepian dibandingkan dukungan emosional melalui media sosial.

Dukungan Media Sosial Menunjukkan Pola Berbeda

Ketika dianalisis secara terpisah, peserta dengan dukungan media sosial rendah memiliki odds mengalami kesepian 45 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan dukungan media sosial tinggi.

Namun, ketika peneliti memasukkan dukungan kehidupan nyata dan dukungan media sosial dalam analisis yang sama, hubungan kuat antara dukungan kehidupan nyata dan kesepian tetap terlihat.

Sebaliknya, hubungan keseluruhan antara dukungan emosional melalui media sosial dan kesepian tidak lagi menunjukkan pola yang jelas. Dengan kata lain, hubungan antara dukungan media sosial dan kesepian terlihat lebih lemah ketika dibandingkan secara langsung dengan dukungan emosional yang diperoleh melalui hubungan di kehidupan nyata.

Geethika Koneru, dokter dan mahasiswa pascasarjana yang memimpin analisis tersebut, mengatakan media sosial tidak dapat dianggap sebagai pengganti dukungan emosional dari hubungan kehidupan nyata.

"Dalam hal dukungan emosional, temuan kami menunjukkan bahwa media sosial bukanlah pengganti dukungan yang kita terima melalui hubungan kita di kehidupan nyata," kata Koneru.

Bukan Berarti Pertemanan Online Tidak Penting

Penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa hubungan atau pertemanan secara online tidak berguna.

Studi tersebut secara khusus melihat satu bentuk dukungan emosional, yakni perasaan bahwa seseorang memiliki orang lain yang bersedia mendengarkan, menerima perasaan pribadi, dan membuatnya merasa dihargai.

Media sosial mungkin memiliki fungsi berbeda ketika seseorang membutuhkan nasihat, informasi, atau bantuan praktis. Penelitian ini juga tidak membedakan berbagai jenis interaksi yang terjadi di dunia maya.

Selain itu, orang yang memberikan dukungan secara online bisa saja merupakan orang yang sama dengan yang memberikan dukungan dalam kehidupan nyata. Teman dekat, pasangan, atau anggota keluarga, misalnya, dapat menjadi sumber dukungan di kedua ruang tersebut.

Penelitian ini juga mengukur dukungan yang dirasakan, bukan menghitung jumlah teman, banyaknya pesan, frekuensi percakapan, atau berapa lama seseorang menghabiskan waktu bersama orang lain.

Studi Belum Bisa Menentukan Sebab-Akibat

Penelitian ini juga tidak dapat menentukan mana yang muncul lebih dahulu.

Apakah kurangnya dukungan emosional menyebabkan seseorang merasa kesepian, atau rasa kesepian justru memengaruhi bagaimana seseorang menilai dukungan yang diterimanya? Kemungkinan lain, faktor berbeda dalam kehidupan seseorang memengaruhi keduanya.

Karena itu, penelitian ini tidak membuktikan bahwa media sosial menyebabkan kesepian. Studi ini juga tidak membuktikan bahwa meluangkan lebih banyak waktu untuk berinteraksi secara langsung otomatis dapat mengatasi kesepian.

Penelitian dengan mengikuti peserta dalam jangka waktu lebih panjang diperlukan untuk mengetahui arah hubungan tersebut.

Ada pula keterbatasan dalam cakupan peserta. Studi ini hanya melibatkan orang dewasa di Amerika Serikat berusia 30-70 tahun. Karena itu, hasilnya tidak dapat secara otomatis diterapkan pada remaja, dewasa muda, orang berusia di atas 70 tahun, ataupun populasi di negara lain.

Pembahasan mengenai media sosial dan kesehatan mental selama ini sering berfokus pada remaja. Namun, orang dewasa juga penting diperhatikan karena mereka merupakan pengguna media sosial dalam jumlah besar.

Di sisi lain, kesepian dan depresi tetap menjadi persoalan kesehatan masyarakat sepanjang masa dewasa.

Menurut Primack, penelitian mengenai kelompok dewasa diperlukan untuk memahami lebih jauh bagaimana media sosial berhubungan dengan kesepian dan kesehatan mental.

Pada orang dewasa yang menjadi peserta penelitian ini, perasaan mendapatkan dukungan dari hubungan kehidupan nyata memiliki hubungan yang jauh lebih kuat dengan kesepian dibandingkan perasaan mendapatkan dukungan melalui media sosial.

Namun, penelitian tersebut belum dapat menentukan apakah salah satunya menyebabkan yang lain. Temuan ini menunjukkan banyaknya interaksi di dunia maya tidak selalu setara dengan dukungan emosional yang diperoleh melalui hubungan di kehidupan nyata.

Halaman 3 dari 2
(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads