Anak Krakatau Sudah Tidak Erupsi Menerus, Kenapa Masih Ada Abu Vulkanik?

ADVERTISEMENT

Anak Krakatau Sudah Tidak Erupsi Menerus, Kenapa Masih Ada Abu Vulkanik?

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 14 Sep 2026 18:30 WIB
Abu dan gas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam citra yang diambil melalui OLI (Operational Land Imager) pada Landsat 8 pada 5 September 2026.
Abu dan gas vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam citra yang diambil melalui OLI (Operational Land Imager) pada Landsat 8 pada 5 September 2026. Foto: NASA Earth Observatory/Michala Garrison
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi per Senin, 14 September 2026 pukul 07.00 WIB. Data diperoleh BMKG dari analisis citra RGB Himawari-9.

BMKG menggarisbawahi, sebaran debu vulkanik belum dapat dipastikan karena wilayah gunung api tertutup awan. Saat debu vulkanik tidak teridentifikasi pada produk analisis satelit, bukan berarti debu vulkanik tidak ada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selaras, sejumlah warganet masih melaporkan adanya abu vulkanik di Jakarta dan Lampung setelah erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berganti menjadi erupsi Strombolian pada Minggu (6/9).

Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan, berbeda dengan erupsi menerus, erupsi Strombolian bersifat putus-putus dan menghasilkan jatuhan piroklastik seperti batu, pasir, kadang gumpalan atau percikan lava, yang menggumpal dan mengendap di sekitar kawah.

ADVERTISEMENT

Lantas, mengapa masih ada abu vulkanik setelah erupsi menerus berhenti?

Mengapa Masih Ada Abu Vulkanik Setelah Erupsi?

Survei Geologi AS (USGS) dalam laman resminya menjelaskan, setelah serangkaian erupsi penghasil abu vulkanik berakhir, angin dan aktivitas manusia dapat mengaduk abu yang jatuh selama berbulan-bulan.

Lebih lanjut, campuran partikel batu dan silika ini dapat terbawa angin sejauh ribuan kilometer. Karena itu, keberadaan abu vulkanik dapat dirasakan warga yang tinggal berjauhan dengan gunung yang telah erupsi tersebut.

Bergeraknya Abu Vulkanik karena Air dan Angin

USGS menjelaskan, abu vulkanik yang telah jatuh ke lingkungan bisa bergerak lagi dan terendap karena bercampur dengan cukup air, di samping bisa terkikis.

Abu vulkanik halus yang telah jatuh juga bisa kembali terbawa angin. Kondisi ini khususnya dapat terjadi di daerah kering dan berangin.

Terbawanya abu vulkanik oleh angin juga dipengaruhi oleh faktor tanah kering tempat abu jatuh. Abu yang terangkat juga dapat menjadi awan abu, yang bisa teramati langsung atau melalui satelit.

Tips Menghindari Dampak Abu Vulkanik

Jika abu vulkanik masih ada, berikut sejumlah tips yang dapat diterapkan:

  • Upayakan untuk tetap di dalam ruangan
  • Pastikan jendela dan pintu tertutup
  • Jangan gunakan pompa penghangat atau AC yang mengambil udara luar ke dalam rumah
  • Jika beraktivitas di luar rumah, pastikan untuk lebih banyak di dalam kendaraan atau bangunan
  • Mengantisipasi jatuhan abu vulkanik terhirup ke saluran pernapasan, gunakan masker atau kain di sekitar hidung dan mulut
  • Gunakan kacamata dan hindari lensa kontak jika memungkinkan, karena abu vulkanik yang terperangkap di antara lensa dan mata bisa merusak mata
  • Pantau informasi dan ikuti instruksi pihak berwenang.

Jika abu vulkanik sudah berhenti menyebar, coba tips ini:

  • Buang dan hindari konsumsi air yang terkontaminasi abu vulkanik
  • Sayur yang terpapar abu vulkanik boleh dimakan jika dicuci terlebih dahulu sampai bersih.


(twu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads