Fakta-fakta Merkurius Ternyata Menyusut, Mengapa Bisa Demikian?

ADVERTISEMENT

Fakta-fakta Merkurius Ternyata Menyusut, Mengapa Bisa Demikian?

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 15 Sep 2026 08:01 WIB
Merkurius
Foto: NASA
Jakarta -

Planet yang terdekat dengan Matahari, yakni Merkurius, ternyata telah mengalami penyusutan. Walau demikian, proses ini juga rupanya masih berlangsung dan bisa jadi penyusutannya berlangsung lebih cepat dari yang sudah diduga oleh para ilmuwan.

Diperkirakan, planet tersebut telah kehilangan antara 10 sampai 30 persen lebih banyak dari perkiraan sebelumnya. Sehingga, Merkurius telah kehilangan radius sebanyak 11 kilometer (6,8 mil) sejak pembentukannya. Secara total, diameternya 38 kilometer (24 mil) lebih kecil sejak ia terbentuk.

"Rata-rata, lajunya akan lebih dari 2,7 km/miliar tahun [1,7 mil/Gyr], sementara ini hanya batas bawah dari penyusutan," kata ilmuwan planet di German Aerospace Center, Gaku Nishiyama kepada IFLScience, dikutip Minggu (13/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Bisa Menyusut?

Pendinginan planet inilah yang menyebabkan penyusutan tersebut. Kerutan-kerutan yang secara teknis disebut fitur pemendekan, diperkirakan terjadi di berbagai bagian tubuh planet, tetapi banyaknya kawah di permukaan Merkurius membuat fitur-fitur tersebut sulit untuk diamati.

ADVERTISEMENT

Merkurius memiliki massa sekitar setengah dari massa Mars dengan volume sepertiganya. Planet ini adalah planet yang padat.

Ia memiliki inti logam yang sangat besar untuk ukurannya. Inti logam tersebutlah yang telah menarik perhatian para ilmuwan. Temuan ini menunjukkan bahwa bagian dalam Merkurius bahkan lebih unik dari yang diperkirakan.

"Hasil ini menunjukkan bahwa Merkurius memiliki lebih sedikit unsur ringan di intinya, inti dalam yang lebih besar, dan suhu awal yang lebih tinggi, dan sebagainya," kata Nishiyama.

Penelitian ini dilakukan menggunakan data historis dari misi MESSENGER NASA yang berakhir pada 2015. Misi Eropa/Jepang BepiColombo beberapa bulan lagi akan memasuki orbit di sekitar planet Merkurius dan akan memberikan data resolusi lebih tinggi tentang semua fitur permukaannya.

"Dengan Altimeter Laser BepiColombo (BELA), kami berharap topografi Merkurius dapat ditangkap dengan resolusi yang lebih baik, dan kemudian kami akan dapat memperoleh informasi yang lebih andal tentang fitur kontraksi dan kekasaran. Informasi ini pasti akan menguatkan temuan dan dapat lebih menyempurnakan perkiraan," kata Nishiyama.

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters dengan judul "Underestimation of Planetary Contraction Due to Obscuration by Surface Roughness: The Case of Mercury".



(nah/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads