Erupsi Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga kini memicu peningkatan gas SO2 yang terdeteksi lewat citra satelit. Lantas, apa sebenarnya gas SO2 ini?
SO2 merupakan gas tidak berwarna dan memiliki bau menyengat yang serupa dengan bau korek api terbakar. Terdiri dari 1 atom sulfur dan 2 atom oksigen, gas ini dilepaskan secara alami oleh aktivitas vulkanik dan dapat dihasilkan melalui aktivitas industri manusia.
Sulfur dioksida ditemukan di Bumi dan terdapat dalam konsentrasi yang sangat kecil di atmosfer. Sumber paling besarnya berasal dari emisi pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi untuk keperluan pembangkit listrik dan kendaraan bermotor. Selain itu, industri logam juga menyumbang dari proses peleburan logam (smelting) terutama tembaga, nikel, dan seng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di planet lain, sulfur dioksida dapat ditemukan dalam berbagai konsentrasi, yang paling signifikan adalah atmosfer Venus, di mana ia merupakan gas atmosfer terbanyak ketiga.
Kembali ke Bumi, keberadaan SO2 di atmosfer punya dampak nyata terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan
Menurut WHO, menghirup SO2 dalam waktu singkat dan konsentrasi tinggi dapat mengganggu fungsi paru-paru, terutama pada penderita asma. Sedangkan, dampak jangka panjangnya belum dapat dipastikan karena korelasi dan bukti yang belum konsisten. Namun, dipercaya hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian.
Selain itu, emisi SO2 yang menaikkan konsentrasi gas ini di udara menyebabkan pembentukan oksida sulfur lainnya yaitu SOx. SOx dapat bereaksi dengan senyawa lain di atmosfer untuk membentuk partikel kecil.
Partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan masalah kesehatan dan juga menyebabkan kabut yang mengganggu jarak pandang. Lebih lanjut, endapan partikelnya juga dapat menodai dan merusak batu atau bahan solid lainnya.
Pada konsentrasi tinggi, SOx berbentuk gas dapat membahayakan pohon dan tanaman dengan merusak dedaunan dan mengurangi pertumbuhan. Gas ini juga dapat berkontribusi terhadap hujan asam yang dapat membahayakan ekosistem yang sensitif.
SO2 dari Anak Krakatau
Fenomena naiknya konsentrasi SO2 ini kini bisa dilihat langsung dari kasus Gunung Anak Krakatau yang hingga Selasa (8/9/2026) masih erupsi.
Peta satelit menunjukkan jumlah SO2 di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan sekitarnya melalui citra warna. Semakin gelap warna merahnya, semakin banyak pula jumlah SO2.
Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan peta berwarna merah ini bukan berarti udara di wilayah tersebut berbahaya, melainkan menggambarkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi SO2 di udara yang kita hirup sehari-hari.
Melalui unggahan yang sama, Badan Geologi juga mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir apabila mencium bau gas SO2 dan segera menerapkan 3 hal yaitu menggunakan masker saat di luar ruangan, berlindung di dalam rumah/bangunan, dan jangan meminum air hujan karena berpotensi bersifat asam.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.
