Pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK/sederajat akan ditutup pada akhir September 2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat lebih dari 3,5 juta siswa telah mendaftar TKA.
Namun, bila dihitung berdasarkan satuan pendidikan jumlah sekolah yang mendaftar TKA di jenjang SMA belum mencapai 50 persen. Hal ini perlu diperhatikan mengingat TKA dilaksanakan bersama Asesmen Nasional (AN) yang menghasilkan rapor pendidikan bagi sekolah.
Direktur SMA Kemendikdasmen, Yuli Haryanto menjelaskan berdasarkan data per 1 September 2026, baru sekitar 43,9% SMA yang mendaftar TKA. Dengan demikian, masih ada sekitar 60% satuan pendidikan yang belum mendaftar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdasarkan data cut off per tanggal 1 September 2026, baru sekitar 43,9% satuan pendidikan jenjang SMA yang telah mendaftar atau sekitar 6.000 dari 14.925 satuan pendidikan seluruh Indonesia," tuturnya dalam Webinar Bincang SMA TKA 2026 dikutip dari laman YouTube Direktorat SMA, Kamis (3/9/2026).
"Artinya masih ada sekitar 60% satuan pendidikan yang belum mendaftar dan sementara batas akhir pendaftaran adalah tanggal 27 September 2026," imbuhnya.
Mengenai hal tersebut, Yuli mengingatkan agar kepala sekolah satuan pendidikan tidak menunda pendaftaran. Sekolah diharapkan tidak mendaftar mendekati batas akhir untuk menghindari berbagai kendala teknis.
"Jangan menunda pendaftaran. Segera periksa status satuan pendidikan. Pastikan data peserta didik kita sudah benar dan selesaikan seluruh tahapan pendaftaran yang diperlukan," tegasnya.
Alasan Pendaftaran TKA Perlu Lebih Awal
Yuli menekankan ada berbagai alasan mengapa SMA perlu mendaftar TKA lebih awal. Ketika mendaftar lebih awal, sekolah memiliki waktu yang cukup untuk berbagai hal.
Berbagai hal yang dimaksud, dari mengecek kembali data, menyiapkan sarana dan prasarana, mempersiapkan guru, dan yang paling penting mendampingi murid dengan sebaik-baiknya.
"Jangan sampai nanti ada persoalan administratif atau keterlambatan sekolah justru membuat murid kehilangan kesempatan ini (mendaftar TKA)," ungkap Yuli.
Persiapan TKA di Sekolah
Pada dasarnya, memang sekolah diperbolehkan untuk mempersiapkan siswa menghadapi TKA. Namun, Yuli mengingatkan persiapan ini bukan berarti mengubah sekolah menjadi tempat latihan soal semata.
"Yang jauh lebih penting adalah memperkuat proses pembelajaran. Kita bantu anak-anak memahami konsep, membangun kemampuan bernalar, membaca dengan baik, menguasai numerasi, serta memiliki kepercayaan diri," tekannya.
Memang, capaian TKA 2025 di jenjang SMA belum bisa dikatakan memuaskan. Yuli membeberkan rata-rata capaian bahasa Indonesia berada pada angka 57,47; matematika 37,34; dan bahasa Inggris 26,87.
Hasil TKA itu disampaikan Yuli perlu menjadi bahan refleksi bersama. Dua mata pelajaran dengan nilai terendah yakni matematika dan bahasa Inggris murid perlu ditingkatkan.
"Maka jawabannya bukan sekedar memperbanyak latihan menjelang tes, tapi yang harus kita perkuat adalah kualitas pembelajarannya," kata Yuli lagi.
