Fenomena yang Perlu Diwaspadai Usai Karhutla, Riset: Lonjakan Kadar Arsenik di Sungai

ADVERTISEMENT

Fenomena yang Perlu Diwaspadai Usai Karhutla, Riset: Lonjakan Kadar Arsenik di Sungai

Kalila Untsa - detikEdu
Sabtu, 29 Agu 2026 09:01 WIB
Ilustrasi karhutla dan dampak asap
Ilustrasi karhutla. Foto: Istimewa
Jakarta -

Usai peristiwa kebakaran hutan, apa yang kebanyakan orang lihat adalah asap, kerusakan lahan, juga abu yang tertinggal. Padahal, ada satu bahaya yang kerap luput dari perhatian.

Setelah terjadinya karhutla, ada peningkatan kandungan arsenik di air, khususnya di sungai. Mengapa bisa demikian?

Ilmuwan dari Departemen Environmental Sciences and Engineering University of North Carolina, Jordan Willeford dan rekan-rekannya pernah menganalisis fenomena peningkatan kadar arsenik di air usai karhutla. Mereka melakukan skrining 676 penelitian dan memabaca secara utuh 105 di antaranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari analisis yang dilakukan, Willeford dkk menyimpan 20 riset yang mengukur kandungan arsenik di dalam air. Sebagian besar riset tersebut dari Kanada, Portugal, dan utara Amerika Serikat.

Selama ini, bentuk anorganik arsenik disinyalir bisa menyebabkan kanker. Paparan jangka panjang juga dikaitkan dengan diabetes dan kerusakan kulit.

ADVERTISEMENT

Bagaimana Arsenik Bisa Terbawa ke Sungai?

Dari 17 studi yang meriset sungai besar dan sungai kecil, 15 di antaranya mengungkap hal yang sama. Tujuh dari studi tersebut melaporkan kadar arsenik sebelum dan sesudah kebakaran. Salah satu studi mencatat adanya peningkatan rata-rata arsenik sebesar 17% dan sisanya melaporkan lonjakan kadar arsenik tertinggi, mulai dari 300-34.900 persen.

Kebakaran menghanguskan tanaman yang bisa menahan air dan menstabilkan lereng. Sayangnya, tanah yang terbakar itu juga menyerap air lebih sedikit, sehingga air hujan yang mengalir deras dapat membawa abu dan lapisan tanah ke aliran sungai terdekat. Dari sinilah arsenik bisa terbawa hingga aliran sungai.

Dari 17 studi, terdapat dua studi yang mengukur kadar arsenik yang masih tinggi, pada 5 dan 10 tahun setelah kebakaran berakhir. Pada studi 10 tahun setelah kebakaran tersebut, air yang diteliti merupakan air minum yang telah diolah.

Asap Menguap bersama Arsenik

Dikutip dari Earth, jalur kedua adalah abu dan asap yang mendarat di perairan terbuka, sehingga zat tersebut langsung menyebar. Satu sampel yang diambil pada saat hari berkabut asap menunjukkan, ada 2.000% arsenik lebih tinggi dari yang tercatat, dibandingkan saat tidak ada asap di sekitar.

Salah satu contoh fenomenanya adalah saat kebakaran besar di California pada 2018 silam. Berdasarkan studi, zat arsenik yang terbawa oleh partikel asap halus mencapai alat pemantau udara di dekat Modesto yang berjarak 124 kilometer dari tempat kebakaran. Asap merupakan jalur yang relatif singkat dibandingkan dengan lereng bukit yang gundul.

Kadar Arsenik Tertinggi di Tambang-tambang Tua

Kadar arsenik tertinggi terdeteksi di aliran sungai di bawah bekas area pertambangan saat terjadi badai. Kandungannya mencapai 70 mikrogram per liter arsenik terlarut dan 740 mikrogram jika termasuk arsenik yang terikat pada partikel.

Hal ini karena lubang galian yang ditinggalkan terbuka mengandung arsenik dan kemudian akan teroksidasi menjadi aliran asam tambang yang beracun. Tambang terbuka ini berpotensi mengaliri air yang telah terkontaminasi hingga ke muara sungai dan selanjutnya akan sangat berbahaya apabila air yang sama digunakan oleh penduduk untuk kehidupan sehari-hari.

Bangunan yang terbakar di area perkotaan juga menghasilkan arsenik dalam jumlah besar, terutama dari abu kayu lama yang pernah dilapisi bahan kimia pengawet. Abu kayu ini mengandung arsenik 33 kali lebih banyak dari abu biasa.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads