Banyak orang tua ingin segera anaknya bisa belajar ke sekolah. Namun, pakar mengatakan pada usia prasekolah, bermain adalah cara paling ampuh bagi anak-anak untuk belajar.
Beberapa orang tua di wilayah perkotaan, banyak yang melakukan pendekatan pembelajaran dengan sebuah soal. Dalam beberapa kasus, bahkan ada anak prasekolah yang sudah diberikan pekerjaan rumah (PR).
Padahal, pembelajaran berbasis bermain justru yang memungkinkan anak-anak belajar melalui aktivitas yang menyenangkan. Bermain dapat membantu anak-anak kecil membangun kemampuan berbahasa, membaca, berhitung, berkonsentrasi, bersosialisasi, dan emosional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara umum, saya pikir kebanyakan orang akan setuju bahwa bermain mendukung perkembangan sosial emosional, tetapi mungkin kurang memahami bagaimana bermain juga dapat mendukung kemampuan literasi atau matematika awal," kata pakar bidang perkembangan manusia dan ilmu keluarga di Universitas Negeri Ohio, Erin G. Fox, dikutip dari earth.com.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa pembelajaran melalui bermain juga dapat membangun keterampilan akademik awal dengan lebih baik daripada pengajaran langsung.
Para Guru Setuju dengan Pendekatan Bermain
Untuk mengetahui bagaimana tanggapan guru, Fox dkk melakukan survei terhadap 110 guru yang berasal dari dua negara bagian di wilayah Midwest, Amerika Serikat. Jumlah tersebut terdiri dari 42 guru daerah pedesaan, 36 guru daerah perkotaan, dan 32 guru daerah pinggiran kota.
Hasilnya, 96,9 persen guru setuju dan sangat setuju bahwa bermain dapat mendukung pembelajaran akademis anak. Para guru juga mendukung adanya waktu bermain yang terjadwal bagi anak, sementara 17,2 persen lainnya menilai bahwa bermain utamanya merupakan hiburan atau kesenangan.
"Dari luar, mungkin hanya terlihat seperti anak-anak sedang bermain, tetapi ketika Anda benar-benar berbicara dengan para guru, itu sangat terencana dan ada tujuan pembelajaran yang jelas di baliknya," kata Kelly M. Purtell, profesor madya ilmu humaniora di Ohio State University sekaligus salah satu penulis studi.
Meski demikian, para guru umumnya merasa bahwa kurikulum yang diwajibkan memberi mereka ruang untuk berkreasi. Dalam hal ini, guru yang lebih berpengalaman cenderung tidak menekankan pembelajaran yang terstruktur dan lebih memilih pembelajaran yang berpusat pada anak.
Guru di Kota Kurang Mendapatkan Dukungan Pembelajaran Berbasis Bermain
Menurut studi tersebut, guru di perkotaan merasa kurang mendapat dukungan keluarga untuk pembelajaran berbasis bermain. Meski begitu, penelitian tidak menanyakan pandangan keluarga tentang hal ini.
Walaupun studi ini memiliki keterbatasan salah satunya adalah tidak mengukur pandangan orang tua anak-anak, Purtell mengungkapkan persepsi guru dapat mencerminkan komentar orang tua, harapan sekolah, tekanan persiapan, atau kesenjangan komunikasi.
"Saat berbicara dengan para guru, baik secara formal maupun informal, mereka mengungkapkan bahwa ketika beberapa keluarga mengirim anak-anak mereka ke prasekolah, mereka benar-benar berharap anak-anak tersebut berada di sana untuk belajar dan siap untuk taman kanak-kanak," tuturnya.
Selain itu, keterbatasan penelitian lainnya adalah jumlah sampel yang kecil dan juga diversitas guru yang terbatas. Namun, peneliti tetap menekankan bahwa mempersiapkan anak-anak untuk melangkah ke jenjang selanjutnya bukan berarti menghentikan waktu bermain.
Permainan yang direncanakan dengan baik justru dapat menjadi cara efektif untuk membekali anak dengan berbagai keterampilan penting.
"Pembelajaran berbasis bermain adalah strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak," ujar Purtell.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
