Bagaimana Pulau Vulkanik Terbentuk? Ternyata Begini Awal Mulanya

ADVERTISEMENT

Bagaimana Pulau Vulkanik Terbentuk? Ternyata Begini Awal Mulanya

Kalila Untsa - detikEdu
Rabu, 26 Agu 2026 07:30 WIB
Cinder cone on the summit of Mauna Kea in Winter on the Big Island of Hawaii. Mauna Loa seen in the background.
Foto: Getty Images/iStockphoto/muchemistry/Mauna Kea di Hawaii.
Jakarta -

Kebanyakan orang mengetahui pulau sebagai daratan yang permanen. Namun, terdapat pulau-pulau yang lahir dari aktivitas vulkanik gunung yang terletak di bawah permukaan laut.

Pulau vulkanik ini memiliki siklus hidup yang bermula dari dasar laut, menembus permukaan laut, dikikis gelombang, dan berpotensi kembali ke laut yang 'melahirkannya'.

Awal Terbentuknya Pulau Vulkanik

Mengutip earth.com, pulau vulkanik adalah gunung bawah laut yang melampaui permukaan air laut. Gunung bawah laut ini diperkirakan berjumlah lebih dari 100.000 di seluruh dunia, dengan masing-masing memiliki ketinggian yang lebih dari 1.000 meter diukur dari dasar laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pulau ini bermula dari kedalaman laut, kemudian magma naik ke mantel bumi melalui titik panas (hotspot) yang menciptakan gunung berapi di bawah permukaan laut. Aktivitas vulkanik ini terus berlanjut hingga gunung bawah laut melampaui permukaan air laut hingga menciptakan pulau vulkanik.

Hawaii merupakan salah satu contoh nyata proses ini. Salah satu gunung bawah laut yang menopang Hawaii saat ini adalah Mauna Kea, yang memiliki ketinggian lebih dari 10.000 meter dari dasar laut.

ADVERTISEMENT

Pulau Vulkanik Bisa Terkikis oleh Gelombang

Begitu pulau vulkanik lahir, secara alami, ia berhadapan dengan perairan laut yang melahirkannya. Gelombang, angin, dan hujan secara terus-menerus menghantam dan mengikis bagian atas pulau tanpa henti, juga berkontribusi terhadap peristiwa ini.

Gelombang laut menghantam tebing pulau secara terus-menerus dan meluruhkan batuan vulkanik yang keras, dinamakan erosi. Luruhan batuan hasil erosi terbawa arus laut menjauh, dan pada saat yang sama hujan juga ikut mengikis dan mengurangi ketinggian gunung ini dari sisi yang lainnya.

Peristiwa ini terjadi dalam kurun waktu ribuan hingga jutaan tahun sebagai akibat dari erosi dan penurunan permukaan tanah. Namun, hasil akhirnya tetap sama yaitu puncak pulau yang semula tinggi dan tajam berubah menjadi permukaan yang relatif datar bahkan nyaris rata.

Kembali ke Dalam Lautan

Setelah erosi terjadi, ada kemungkinan pulau vulkanik kembali menjadi gunung bawah laut. Namun, kali ini puncaknya sangat datar dan juga prosesnya diiringi dengan penurunan permukaan tanah.

Seluruh fenomena ini dipicu oleh pendinginan dan penyusutan kerak samudera. Saat lempeng samudera bergerak menjauh dari hotspot asalnya, maka kerak di bawahnya akan mendingin, memadat dan akan menyusut. Proses ini disebut subsidence.

Selain pulau vulkanik, dasar laut memiliki fitur lainnya, yakni:

- Dataran Abisal

Menurut International Hydrographic Organization (IHO), dataran abisal adalah kawasan luas, datar, landai, atau hampir rata yang berada di kedalaman abisal. Adapun kedalaman abisal berkisar antara 3.000 hingga 6.000 meter di bawah permukaan laut.

- Bukit Abisal

Bukit abisal merupakan gundukan kecil di dataran abisal yang luas. Ketinggiannya tidak lebih dari beberapa ratus meter di atas dataran abisal, dengan lebar kurang dari 100 meter.

- Palung Samudera

Palung samudera merupakan lekukan bawah laut yang menjadi titik terdalam di lautan. Jika dibandingkan dengan gunung tertinggi di dunia, Everest setinggi 8.848 meter di atas permukaan laut, Palung Mariana masih lebih dalam yaitu membentang sedalam 11.034 meter di bawah permukaan laut.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads