×
Ad

Belajar dari Pakar

Buat First Jobber, Self-disclosure di Tempat Kerja Baik atau Buruk?

- detikEdu
Minggu, 23 Agu 2026 16:00 WIB
Dra. Sri Fatmawati Mashoedi, M. Si., Psikolog.
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh ChatGPT
Jakarta -

Buat kamu yang baru diangkat menjadi karyawan baru, sepertinya perlu mempertimbangkan hal ini dengan bijaksana. Di tempat kerja, karyawan dituntut untuk profesional, produktif, dan menjaga batas antara urusan pribadi dengan pekerjaan.

Namun di sisi lain, karyawan adalah makhluk sosial yang butuh relasi sosial dan rasa saling percaya dengan rekan kerja. Di sinilah peran self-disclosure atau pengungkapan diri, sebagai sarana karyawan untuk saling percaya dan membangun relasi sosial.

Apa Itu Self Disclosure?

Menurut Joseph A DeVito (2018), self disclosure adalah proses mengungkapkan informasi pribadi tentang diri sendiri kepada orang lain. Hal yang diungkapkan dapat berupa pikiran, perasaan, pengalaman, atau aspek lain dari diri sendiri yang bersifat pribadi. Dengan self-disclosure, individu memberi kesempatan pada orang lain untuk dapat lebih mengenal individu sehingga akan membantu kelancaran dalam menjalin komunikasi dan bekerja sama.

Namun, self-disclosure juga dapat menjadi pedang bermata dua jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Bisa saja orang lain memanfaatkan informasi yang diberikan oleh individu untuk kepentingan orang lain tersebut. Jadi, self-disclosure yang sudah dilakukan individu sampai titik tertentu justru merugikan individu itu sendiri.

Dalam konteks kerja, self-disclosure dapat membantu karyawan membangun kepercayaan dengan rekan kerja, meningkatkan kesadaran diri (self-awereness) karyawan dan kemampuan untuk bekerja sama dalam tim. Self-disclosure sangat penting untuk membangun hubungan yang kuat di antara para karyawan. Kekompakan tim kerja tidak dapat diragukan lagi dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja karyawan.

Tentu saja karyawan perlu memahami kapan dan bagaimana mengungkapkan diri dengan tepat, agar tidak merusak hubungan atau reputasi mereka di tempat kerja yang dapat berdampak membuat tim kerja menjadi tidak produktif. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang pentingnya self-disclosure dalam konteks kerja, tips atau strategi untuk melakukan self- disclosure yang efektif dan aman.

Dalam self-disclosure, individu melakukan proses pengungkapan diri secara sadar dan sengaja kepada orang lain. Informasi yang dikemukakan mencakup hal-hal yang lebih bersifat pribadi yang umumnya tidak individu kemukakan pada orang lain. Misalnya, kita adalah seorang karyawan dengan pribadi yang takut gagal. Kita selalu menutupi sifat ini, tidak mengemukakannya pada orang lain, karena khawatir dapat merusak reputasi di kantor. Tetapi pada seorang karyawan yang merupakan sahabat kita, kita berani mengungkapkan rasa takut gagal tersebut yang merupakan kelemahan kita.

Selanjutnya, dalam self-disclosure juga tidak ada keterpaksaan, jadi sifatnya suka rela. Tidak ada yang mengharuskan atau meminta individu untuk melakukan self-disclosure, semua dilakukan atas inisiatif atau kemauan individu sendiri. Hal yang dikemukakan juga umumnya bukan berupa informasi yang dapat diperoleh dari orang lain, kecuali disampaikan oleh dirinya sendiri. Seperti rasa takut akan kegagalan tadi, seseorang tidak mendapat informasinya dari orang lain, melainkan mendapatkannya dari individu sendiri.



Simak Video "Video Poltracking: Kepercayaan Publik ke Pemerintahan Prabowo-Gibran 81,5 %"


(nwk/nwk)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork