Perkenalkan Bob, Si Hiu Pengumpul Data yang Bisa Bantu Prediksi Badai

ADVERTISEMENT

Perkenalkan Bob, Si Hiu Pengumpul Data yang Bisa Bantu Prediksi Badai

Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 18 Agu 2026 20:00 WIB
Ilustrasi ikan hiu
Ilustrasi hiu. Foto: Getty Images/iStockphoto/lindsay_imagery
Jakarta -

Hiu identik sebagai hewan air yang haus darah sehingga ditakuti oleh manusia. Namun, oleh ilmuwan ini hiu dijadikan sebagai penyelamat bagi manusia.

Aaron Carlisle, peneliti dari Universitas Delaware menjadikan hiu sebagai 'laboratorium berjalan'. Ia sedang meneliti apakah hiu yang dinamai 'Bob' ini dapat menjadi pengamat data laut seluler dalam waktu yang hampir nyata (near-real-time).

Penelitian ini juga bertujuan membantu para ilmuwan memahami intensitas badai sebelum menghantam daratan. Mengapa harus hiu?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah Hiu Banyak di Lautan

Sebelumnya, Carlisle pernah memanfaatkan anjing laut gajah di wilayah kutub. Kali ini, hiu dipilih karena jumlahnya yang banyak dan ada di hampir setiap lautan.

ADVERTISEMENT

"Sensor yang dibawa hewan telah berhasil digunakan oleh para oseanografer selama bertahun-tahun, terutama pada anjing laut gajah di wilayah kutub di mana observasi ilmiah sangat langka," kata Carlisle dikutip dari Reuters, Selasa (18/8/2026).

Spesies ini juga tergolong sering muncul ke permukaan sehingga label mereka dapat mengirimkan informasi ke satelit. Hiu Bob nantinya akan menyelam ke lapisan mixed layer.

Lapisan ini menyimpan panas yang menjadi bahan bakar utama bagi intensitas badai. Semakin hangat lapisan ini, semakin kuat badai yang akan terbentuk.

"Ini adalah bagian dari kolom air yang benar-benar mendorong intensitas badai lapisan campuran yang lebih hangat berarti badai yang lebih kuat karena lapisan ini menyimpan panas yang memberi energi pada badai," tambah Carlisle.

Cara Kerja Hiu dalam Prediksi Badai

Ilmuwan akan memasang alat elektronik kecil yang diberi label CTD (Conductivity, Temperature, Depth) pada sirip hiu. Alat ini berfungsi mengukur kadar garam (salinitas), suhu air, dan kedalaman laut.

"Label dipasang pada sirip punggung. Kemudian setiap kali sirip hiu berada di permukaan, label dapat berkomunikasi dan mengirimkan data ke jaringan penerima satelit yang mengorbit," kata Carlisle.

Proses pemasangannya pun dilakukan dengan sangat hati-hati. Dalam waktu kurang dari lima menit, proses pemasangan akan selesai.

Saat hiu berenang mendekati permukaan, label akan secara otomatis mengirimkan data. Data kemudian akan dikumpulkan ke jaringan satelit di orbit Bumi.

"Ini lebih seperti Bob dari bagian Akuntansi, yang masuk kerja dengan membawa profil suhu hari itu sebelum dia kembali pergi," kata anggota tim penelitian lain Caroline Wiernicki yang merupakan kandidat doktor ilmu kelautan Universitas Delaware.

Data yang dikumpulkan Bob bisa meningkatkan akurasi prakiraan badai dari Carolina Utara hingga Massachusetts. Nantinya, informasi akan dibagikan kepada komunitas pesisir.

Para ilmuwan berharap proyek ini dapat membuka pengetahuan lebih luas soal hiu. Carlisle menyebut hiu adalah hewan yang bisa bertransformasi jadi penyelamat nyawa banyak orang.

"Mereka adalah hewan luar biasa yang beradaptasi sempurna dengan laut, dan kita bisa belajar banyak dari mereka. Jika kita bisa menunjukkan bahwa hiu dapat membantu manusia, ini adalah situasi yang saling menguntungkan," pungkasnya.



(cyu/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads