25 Agustus telah diputuskan sebagai salah satu hari libur nasional tahun 2026. Jatuh pada hari Selasa pekan depan, warga Indonesia libur pada 25 Agustus dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Hari libur Maulid Nabi ini tidak diikuti dengan cuti bersama. Hal ini diatur dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 1497, 2, dan 5 Tahun 2025 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna Maulid Nabi Muhammad SAW
Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Suakarta (UMS), Dartim, S Pd, M Pd, mengatakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki makna penting sebagai momen refleksi diri untuk meneladani perilaku Rasulullah, yang merupakan suri teladan terbaik umat manusia.
Cara Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Ia menjelaskan, anak muda dapat meniru perilaku Nabi mulai dari akhlak, adab, hingga kejujurannya. Ia menekankan, kejujuran menjadi sifat yang sangat penting dalam membina hubungan antarmasyarakat dan menjawab kemaslahatan umat.
"Nilai-nilai Nabi Muhammad harus hadir dalam kehidupan. Itu bagian dari kita untuk meneladani Nabi," ucapnya, dikutip dari laman UMS.
Dalam momen Maulid Nabi, penting untuk mengingat kembali upaya-upaya Rasulullah dalam memberdayakan ekonomi, menegakkan hukum, sampai membangun sistem pendidikan. Dartim menambahkan, sosok Rasulullah sebagai orang yang teratur dan sabar juga patut ditiru.
"Meneladani beliau adalah bagian dari rasa senang kita atas kelahiran Rasul dan sekaligus merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW," imbuh Dartim.
Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Negara
Sejumlah negara memperingati hari lahir Rasulullah. Dikutip dari Britannica Kids, sejumlah negara muslim juga menjadikannya hari libur nasional.
Di Indonesia sendiri, Maulid Nabi antara lain diperingati dengan doa bersama, makan bersama, serta kompetisi membaca Al-Qur'an, nasyid, hingga pidato di sekolah. Di masyarakat Jawa, peringatan Maulid Nabi antara lain diwarnai dengan praktik membaca riwayat atau manakib Nabi SAW di dalam sejumlah kitab seperti Barzanji, Burdah, dan lain-lain.
Sudan
Di Sudan, ada prosesi Al-Molid yang dimulai 12 hari sebelum hari kelahiran Nabi, yang jatuh pada bulan ketiga kalender lunar Islam (qomariyah). Pada perayaan ini, pemerintah, tentara dan polisi, korps musik, dan masyarakat menampilkan lagu religi, tari, dan doa-doa Sufi, dikutip dari laman Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.
Pada puncak perayaan di lapangan atau alun-alun, ada pidato resmi, pertunjukan dan makanan tradisional, sera kebiasaan membelikan permen dan mainan untuk anak-anak. Kesempatan ini juga jadi momentum berbagai tarekat Sufi menunjukkan solidaritas di seluruh Sudan.
Iran
Perayaan Maulid Nabi di Iran antara lain digelar di masjid dan pusat keagamaan. Anak-anak dan tetangga saling berbagi kue, manisan, mainan, dan buah, serta bunga, sambil mengucapkan selamat memperingati Maulid Nabi.
Malaysia
Maulid Nabi dikenal sebagai Mawlid atau Maulidur Rasul di Malaysia. Pada hari tersebut, warga berjalan kaki sambil bersalawat. Mirip dengan di Indonesia, masjid juga diwarnai dengan kegiatan pengajian tentang ajaran Rasulullah, membaca Al-Qur'an, dan zikir bersama.
Mesir
Festival Moulid di Mesir salah satunya ditandai dengan dengan dekorasi lampu di jalan-jalan sekitar masjid hingga makam orang bersejarah. Pada hari itu, makam didatangi peziarah yang napak tilas sambil berdoa atau membacakan Al-Fatihah.
Warga Mesir pada Festival Moulid juga mengadakan zikir, membawakan musik religi, berdagang mainan, jajanan, sampai topi pesta, dikutip dari Google Arts & Culture.
