Sampah Antariksa Makin Banyak, Apa Dampaknya bagi Bumi?

ADVERTISEMENT

Sampah Antariksa Makin Banyak, Apa Dampaknya bagi Bumi?

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 14 Agu 2026 06:00 WIB
Sampah antariksa
Sampah antariksa. Foto: Jam Press
Jakarta -

Era antariksa dimulai sejak 1950-an. Sejak itu, manusia juga telah telah meluncurkan ribuan roket dan menempatkan banyak satelit ke orbit. Banyak di antaranya masih berada di sana dan ada risiko-risiko tabrakan yang terus meningkat seiring dengan peluncuran lebih banyak lagi objek ke antariksa.

Selama menjelajahi antariksa, manusia juga telah menciptakan masalah sampah. Ribuan satelit yang sudah tidak berfungsi mengorbit Bumi kita, bersama dengan serpihan puing dari berbagai roket yang telah kita luncurkan selama bertahun-tahun. Hal ini bisa menjadi masalah di kemudian hari.

Apa Itu Sampah Antariksa?

Dikatakan dalam Natural History Museum, sampah antariksa atau puing antariksa adalah segala bentuk mesin atau puing yang ditinggalkan oleh manusia di antariksa. Istilah ini bisa merujuk pada objek besar seperti satelit mati yang telah gagal beroperasi atau ditinggalkan di orbit setelah misinya berakhir. Istilah ini juga bisa merujuk pada benda-benda yang lebih kecil, seperti serpihan puing atau pecahan cat yang terlepas dari roket.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagian sampah buatan manusia juga tertinggal di Bulan. Saat ini terdapat sekitar 2.000 satelit aktif yang mengorbit Bumi. Akan tetapi, ada pula 3.000 satelit mati yang berserakan di antariksa.

Selain itu, terdapat sekitar 34.000 keping sampah antariksa yang berukuran lebih dari 10 sentimeter serta jutaan kepingan lebih kecil yang tetap bisa berakibat fatal jika menabrak objek lain. Semua sampah antariksa berasal dari objek yang kita luncurkan dari Bumi dan akan tetap berada di orbit sampai masuk kembali ke atmosfer.

ADVERTISEMENT

Beberapa objek di orbit rendah yang berada pada ketinggian beberapa ratus kilometer, dapat kembali dengan cepat. Objek-objek ini sering kali masuk kembali ke atmosfer setelah beberapa tahun dan sebagian besar akan terbakar habis sehingga tidak sampai ke permukaan Bumi. Namun, puing atau satelit yang tertinggal di ketinggian lebih tinggi, yaitu 36.000 kilometer, dapat terus mengelilingi Bumi selama ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Sebagian sampah antariksa terbentuk akibat tabrakan atau uji coba senjata antisatelit di orbit. Ketika dua satelit bertabrakan, keduanya bisa hancur berkeping-keping menjadi ribuan pecahan baru, sehingga menciptakan banyak puing baru.

Kejadian itu memang jarang terjadi. Namun, beberapa negara termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan India pernah menggunakan rudal untuk latihan menghancurkan satelit mereka sendiri. Tindakan ini menghasilkan ribuan pecahan puing baru yang berbahaya.

Apa Bahayanya?

Untungnya, saat ini sampah antariksa tidak menimbulkan risiko besar bagi upaya eksplorasi kita. Bahaya terbesar yang ditimbulkannya adalah terhadap satelit-satelit lain yang berada di orbit.

Satelit-satelit tersebut harus bermanuver untuk menghindar dari sampah antariksa yang datang agar tidak tertabrak, yang berpotensi menyebabkan kerusakan atau kehancuran. Secara keseluruhan, ratusan manuver penghindaran tabrakan dilakukan setiap tahun untuk berbagai satelit, termasuk oleh Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), tempat para astronaut tinggal.

Bagaimana Cara Membersihkan Sampah Antariksa?

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta semua perusahaan untuk menyingkirkan satelit mereka dari orbit dalam waktu 25 tahun setelah misi berakhir. Namun, aturan ini sulit untuk ditegakkan karena satelit bisa (dan sering kali memang) mengalami kegagalan fungsi. Untuk mengatasi masalah ini, sejumlah perusahaan di seluruh dunia telah menciptakan berbagai solusi inovatif.

Solusi-solusi tersebut mencakup upaya menyingkirkan satelit yang sudah tidak aktif dari orbit dan menariknya kembali ke atmosfer, tempat satelit itu akan terbakar habis. Metode yang dapat digunakan antara lain menggunakan harpun untuk mencengkeram satelit, menangkapnya dengan jaring raksasa, menggunakan magnet untuk menariknya, atau bahkan menembakkan laser untuk memanaskan satelit sehingga hambatan atmosfernya meningkat dan satelit tersebut jatuh keluar dari orbit.

Akan tetapi, metode-metode ini hanya efektif untuk satelit berukuran besar yang mengorbit Bumi. Belum ada cara nyata untuk mengambil serpihan sampah yang lebih kecil, seperti potongan cat dan logam. Manusia hanya bisa menunggu hingga benda-benda tersebut masuk kembali ke atmosfer Bumi secara alami.



(nah/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads