Kenapa Karhutla Bromo Sulit Dipadamkan? Ini Penjelasan Pakar IPB

ADVERTISEMENT

Kenapa Karhutla Bromo Sulit Dipadamkan? Ini Penjelasan Pakar IPB

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 13 Agu 2026 19:00 WIB
Penanganan karhutla TNBTS diperkuat dengan 540 personel dan pemadaman darat-udara. Total area terdampak mencapai sekitar 921 hektare. (Dok. BNPB)
Foto: Penanganan karhutla TNBTS diperkuat dengan 540 personel dan pemadaman darat-udara. Total area terdampak mencapai sekitar 921 hektare. (Dok. BNPB)
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih belum padam hingga hari ini, Kamis (13/8/2026). Kebakaran mengakibatkan 942 hektare lahan hangus.

Terutama di kawasan Dengklik, Penanjakan, dan Tosari. Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jawa Timur Gatot Soebroto, titik-titik tersebut kini jadi perhatian dalam penanganan.

"Alhamdulillah untuk sektor P-30 sudah tidak ditemukan lagi titik api sejak pagi tadi. Namun kami masih melakukan pemantauan ketat di beberapa titik lain," ujar Gatot dikutip dari detikJatim, Kamis (13/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus kebakaran ini pun mendapat perhatian dari banyak pihak termasuk Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo. Ia mendorong pencarian pemicu kebakaran ini harus dilakukan sedini mungkin.

"Pemantauan terhadap indikasi terjadinya kebakaran harus dilakukan sedini mungkin dan sepasti mungkin. Tujuannya untuk menghentikan seluruh potensi api yang akan berkembang menjadi api besar," ujar Bambang dikutip dari laman IPB University, Kamis (13/8/2026).

ADVERTISEMENT

Pemicu Karhutla Bromo Sulit Padam

Menurut Bambang, sejumlah area kebakaran ada dalam kondisi terbuka dan menyimpan sejumlah bahan yang mudah terbakar. Sehingga proses penjalaran api semakin cepat dan membuat alat pemadam sulit dikendalikan.

"Kondisi geografis TNBTS yang menyerupai bentuk kuali turut memengaruhi pola penjalaran api. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika bahan bakar berupa vegetasi kering tersedia dalam jumlah besar," ungkapnya.

Solusi Pemadaman Kahutla Bromo

Bambang menilai pemadaman sulit dilakukan hanya dengan satu metode saja. Perlu kombinasi pemadaman mulai dari pemadaman jalur darat dan udara.

Percepatan pemadaman perlu segera dilakukan supaya dampak ekologisnya segera terselesaikan. Ia khawatir makhluk hidup dalam ekosistem Bromo menjadi terancam.

"Risiko tersebut menjadi semakin penting karena TNBTS memiliki vegetasi khas pada berbagai ketinggian, mulai dari puspa, rasamala, dan saninten di zona pegunungan bawah hingga cemara gunung, edelweis Jawa, dan cantigi di zona pegunungan atas," ujarnya.

Meski pemadaman sudah digalakkan, Bambang tak bisa memastikan bahwa kawasan akan langsung aman. Menurutnya, masyarakat perlu dibekali pengetahuan dasar agar tidak memperbesar api kebakaran.

"Pengendalian kebakaran harus dilakukan secara sungguh-sungguh, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran. Kebakaran besar tahun 2023 semestinya menjadi cermin untuk melakukan perubahan agar kejadian serupa tidak berulang," ucapnya.



(cyu/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads