Cuaca Lagi Panas-panasnya, Bagaimana Pilih Pakaian yang Cocok Menurut Sains?

ADVERTISEMENT

Cuaca Lagi Panas-panasnya, Bagaimana Pilih Pakaian yang Cocok Menurut Sains?

Kalila Untsa - detikEdu
Kamis, 13 Agu 2026 09:01 WIB
Teriknya cuaca musim panas tak menyurutkan antusiasme para penonton yang memadati kawasan The Hill di Wimbledon. Berbekal payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari, ribuan pengunjung tetap bertahan menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa yang disediakan di area tersebut. REUTERS/Toby Melville
Ilustrasi cuaca panas Foto: REUTERS/Toby Melville
Jakarta -

Di tengah cuaca ekstrem dan gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, pakaian yang dikenakan dapat berpengaruh terhadap kemampuan tubuh menjaga suhu tetap nyaman.

Dikutip dari BBC, mengenakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca juga dapat membantu menghemat penggunaan energi. Dalam jangka panjang, langkah sederhana ini berpotensi mengurangi pengeluaran sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.

Dengan pakaian yang tepat, suhu pendingin ruangan bahkan dapat dinaikkan hingga sekitar 2 derajat Celsius tanpa mengurangi kenyamanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, pakaian seperti apa yang paling tepat dikenakan saat cuaca panas?

ADVERTISEMENT

Pakaian Warna Putih Lebih Baik dari Hitam? Ternyata Tidak...

Ketika musim panas tiba, pakaian berwarna putih biasanya menjadi pilihan banyak orang. Alasannya sederhana, warna putih memantulkan sinar matahari, sedangkan warna hitam cenderung menyerap lebih banyak cahaya.

Namun, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan selain warna pakaian. Salah satunya adalah ketebalan pakaian yang digunakan. Pasalnya selain berasal dari matahari, tubuh manusia juga dapat mengeluarkan udara panas.

Sehingga saat menggunakan baju berwarna putih, panas dari tubuh manusia akan memantul kembali ke tubuh. Hal ini pernah diteliti pada 1980 dalam artikel berjudul Why do Bedouins wear black robes in hot deserts?.

Studi ini mengenai pakaian masyarakat Badui Arab, kelompok masyarakat yang hidup di kawasan gurun Semenanjung Arab, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Diterangkan dalam penelitian tersebut paparan panas yang diterima oleh suku Badui yang menggunakan pakaian berwarna hitam dan putih sama saja. Bahkan suku Badui lebih sering menggunakan pakaian berwarna hitam karena dianggap dapat menyerap panas dari tubuh secara maksimal.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan panas yang diterima tubuh ternyata relatif sama, baik ketika seseorang mengenakan jubah hitam maupun putih.

Bagaimana bisa? Kain berwarna hitam memiliki kemampuan lebih baik dalam memancarkan panas. Artinya, pakaian hitam dapat menyerap panas yang berasal dari tubuh dan membantu membuangnya ke lingkungan.

Dengan catatan, suku Badui menggunakan pakaian hitam yang longgar. Pakaian hitam yang longgar menciptakan ruang antara kain dan permukaan kulit. Ketika ruang tersebut menjadi panas, udara di dalamnya bergerak ke atas dan menciptakan aliran udara seperti efek cerobong asap. Mekanisme ini membantu memberikan efek pendinginan pada tubuh, terutama ketika ada angin.

Dengan demikian, ukuran atau potongan pakaian ternyata bisa lebih menentukan dibandingkan warnanya.

Meski begitu, jika pakaian yang dikenakan berukuran ketat, warna putih menjadi pilihan yang lebih masuk akal karena lebih banyak memantulkan radiasi matahari.

Pakaian dengan permukaan bertekstur, seperti seersucker atau piquΓ© yang banyak digunakan pada kaus polo olahraga, juga dapat membantu. Tekstur tersebut membuat kain tidak terlalu menempel pada kulit sehingga memungkinkan udara bersirkulasi.

Bahan Pakaian yang Cocok

Bahan pakaian yang ringan seperti katun dan sutera biasanya lebih baik dalam hal sifatnya lebih jatuh dibandingkan dengan bahan rajut. Pada cuaca yang panas, bahan yang menyerap keringat saja sudah cukup, namun bahan yang berbeda dibutuhkan untuk digunakan pada cuaca pana sekaligus lembap.

Saat cuaca kering dan lembap, pakaian akan menyerap keringat namun tidak dapat mendorong proses penguapan dari keringat pada pakaian karena udara sekitar sudah jemu dengan uap air.

"Dalam hal pakaian, lebih baik menggunakan bahan yang memungkinkan uap air untuk melewatinya. Beberapa bahan pakaian olahraga terbaru dapat mendorong proses ini, sedangkan katun tidak begitu bisa diandalkan dalam hal ini." kata pakar Fisika di Southeastern Louisiana University, Rhett Allain, seperti dikutip dari BBC.

Meskipun dapat menyerap dan mendorong penguapan keringat dari penggunanya, bahan nilon dan poliester cenderung menahan bau, sebagaimana dimuat dalam penelitian 'The Role of Sports Clothing in Thermoregulation, Comfort, and Performance During Exercise in the Heat: A Narrative Review'.

Nilon memiliki daya serap yang lebih tinggi dan kemampuan menyerap keringat yang lebih baik daripada poliester, tetapi lebih lambat dalam proses pengeringan dan menimbulkan ketidaknyamanan saat digunakan dalam keadaan basah.


Jadi, Apa Pakaian Terbaik Saat Cuaca Panas?

Jika ingin benar-benar mengurangi panas tubuh, sebenarnya ada cara paling sederhana yaitu mengurangi jumlah pakaian yang dikenakan, tentu selama situasinya memungkinkan.

Menurut George Havenith, profesor fisiologi lingkungan dan ergonomi di Loughborough University, semakin sedikit pakaian yang menutupi tubuh, semakin besar kesempatan terjadinya pertukaran panas melalui penguapan antara kulit dan udara.

Namun, bukan berarti pakaian sama sekali tidak diperlukan. Pakaian tetap penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet dan risiko kulit terbakar.

Karena itu, memilih pakaian untuk cuaca panas bukan sekadar persoalan putih atau hitam. Ukuran pakaian, jenis bahan, kemampuan menyerap dan menguapkan keringat, serta tingkat kelembapan udara semuanya ikut menentukan.

Dan seiring meningkatnya suhu global, para ilmuwan juga terus mengembangkan material dan jenis kain baru yang dirancang khusus untuk membantu tubuh tetap sejuk.

Para peneliti di University of Maryland di AS saat ini juga sedang mengembangkan serat sintetis dengan lapisan yang dapat berubah sesuai dengan kondisi eksternal.

Contohnya bahan pakaian dengan benang adaptif ini dapat mengembang dan menyusut untuk mengubah jarak antar serat. Saat jarak serat lebih lebar, hal ini memungkinkan bahan untuk bernapas atau dengan kata lain memungkinkan panas dari penggunanya memancar sehingga dapat merasa lebih sejuk.

Pada penelitian lain dengan artikel yang telah dipublikasi berjudul 'Thermoregulatory clothing with temperature-adaptive multimodal body heat regulation' menunjukkan bahan pakaian yang dihiasi dengan aksen strip yang bisa diratakan dan ditekuk, dapat membantu mendinginkan tubuh lebih dari 2Β°C. Saat cuaca panas, strip tersebut dapat menekuk ke arah udara untuk meminimalisir panas tubuh.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Cuaca Panas di Majalengka, Tukang Service AC Diburu Warga"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads