Berbagai gua bawah air saat ini rupanya pernah kering. Manusia dan hewan purba pernah melintasinya, baik untuk tinggal maupun mencari air tawar.
Berdasarkan temuan peneliti, para manusia dan hewan meninggalkan jejak keberadaannya di sana pada belasan ribu tahun lalu, baik disengaja maupun tidak. Apa saja?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gua Bawah Air yang Pernah Di Daratan
Gua Cosquer, Prancis
Gua ini tenggelam sekitar 10.000 lalu. Sebelumnya, permukaan laut sekitar 120 meter lebih rendah dari sekarang dan garis pantai lebih jauh sekitar beberapa km, memungkinkan manusia menghuninya, dikutip dari laman Arkeologi Kementerian Kebudayaan Prancis.
Sekitar 500 lukisan dan ukiran ditemukan di gua ini. Karya tersebut dibuat dalam dua periode pendudukan orang-orang Paleolitikum Zaman Es yang berbeda, yaitu 27.000 tahun yang lalu dan 19.000 tahun yang lalu.
Sebagian lukisan dan ukuran purba tersebut bergambar hewan, mulai dari bison, antelop, kambing gunung, anjing laut, burung auk, dan banyak kuda. Sebagian lainnya berupa 200 desain geometris.
Salah satu ukiran bergambar makhluk setengah manusia, setengah anjing laut. Sedangkan 'perwakilan manusia' lainnya pada gambar cadas tersebut adalah stensil tangan berwarna merah atau hitam, beberapa berbentuk garis luar, dan sebagiannya telapak tangan berwarna.
Uniknya, ibu jari pada tangan-tangan tersebut selalu berwujud utuh. Sedangkan beberapa jari di gambar lain sering hilang atau terpotong. Berdasarkan analisis komputer, gambar tersebut menunjukkan mayoritas tangan perempuan.
Song Toyapakeh, Indonesia
Gua bawah air di Desa Toyapakeh, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali ini semula berada di atas permukaan laut. Area ini bisa diakses manusia prasejarah dan hewan sebelum terendam akibat muka laut naik setelah Zaman Es.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam unggahannya menjelaskan, situs ini menyimpan berbagai fosil hewan bertulang belakang, seperti fosil tulang rahang bawah dan tulang belikat Proboscidae (ordo dari gajah dan mastodon), fosil tulang kelangkang (sacrum) kura-kura, serta tulang paha Cervidae (famili mamalia pemamah biak seperti rusa dan kijang).
Peneliti memperkirakan, Nusa Penida dulu menjadi bagian penting dari rute penyeberangan kepulauan Wallacea dan jembatan darat antara Bali dan Lombok untuk mendukung persebaran manusia prasejarah di Asia Tenggara.
Mereka juga menemukan artefak tajaman berbentuk mata panah atau tombak, yang diduga kuat buatan manusia.
Periset Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN Gendro Keling berharap, pengembangan berbasis riset dan pelestarian mendukung warga setempat dalam memperkaya daya tarik situs sebagai area wisata bawah air bertema sejarah dan arkeologi.
"Dengan pengembangan berbasis riset dan pelestarian, situs ini diharapkan menjadi sarana wisata sekaligus edukasi publik, sambil melibatkan masyarakat lokal untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian situs dan kesejahteraan warga sekitar," ucapnya.
Sistem Gua Semenanjung Yucatan, Meksiko
Sekitar 13.000 tahun lalu, pada akhir Zaman Es terakhir, sejumlah gua bawah tanah di Semenanjung Yucatan masih berada di daratan. Namun, penduduk prasejarah dan hewan biasa menyusuri lorong-lorong gua yang licin untuk mencari air tawar dari sistem gua, sumber air utama mereka.
Dalam pencarian tersebut, berbagai hewan jatuh ke lubang berbentuk lonceng, yang kini dinamakan Hoyo Negro (Lubang Hitam). Kedalamannya sekitar 30 meter dan lebarnya sampai 60 meter, dikutip dari laman Sekolah Jurnalisme, Media, dan Komunikasi Pemasaran Terintegrasi Medill, Northwestern University.
Di lubang tersebut, peneliti menemukan sisa-sisa kerangka manusia prasejarah. Salah satunya Naia, perempuan usia 15-16 tahun setinggi kurang dari 150 meter yang jatuh di ke air dangkal di sana dan menghantam batu hingga meninggal. Kerangkanya hampir utuh dan terawetkan dengan baik di bawah air ketika ditemukan penyelam gua.
Banyak kerangka hewan yang telah punah dari Zaman Pleistosen juga ditemukan di gua tersebut, seperti gomphotetheres (hewan mirip gajah), kucing bertaring pedang, slot tanah raksasa, anjing purba, dan beruang purba. Ada juga kerangka hewan yang hingga kini belum punah, seperti tapir, puma, kelelawar, dan lain-lain, dikutip dari laman Qualcomm Institute, University of California (UC) San Diego.










































