Istilah "In this economy" belakangan ramai berseliweran di media sosial untuk mengeluhkan kondisi ekonomi yang terasa semakin sulit: harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup terasa tidak sebanding dengan pendapatan yang didapat hingga terbatasnya lowongan pekerjaan.
Bagi fresh graduate, ungkapan tersebut terasa begitu dekat karena kelulusan seringkali menjadi gerbang pertama menuju realitas tersebut - dan bersamanya, muncul sebuah pertanyaan besar: setelah ini, aku harus ke mana dan mulai dari mana?
Tanpa disadari, masa kuliah telah lama menjadi zona nyaman yang membentuk ritme keseharian kita. Di sana terdapat jadwal yang mengatur, standar nilai yang dikejar, dan status 'mahasiswa' memberi jeda dari tuntutan untuk sepenuhnya hidup mandiri. Namun, saat wisuda tiba, rasa hampa muncul karena masa kuliah sudah ditinggalkan, tetapi arah hidup berikutnya belum sepenuhnya ditemukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengapa Rasa Hampa Usai Wisuda Muncul?
Lantas, secara psikologis, mengapa rasa hampa setelah wisuda bisa muncul? Rasa hampa setelah wisuda bukan muncul begitu saja. Fase ini dapat dipahami dari beberapa faktor, mulai dari tekanan karier, sampai hilangnya rutinitas dan lingkaran sosial yang sebelumnya melekat dalam kehidupan kampus.
Mari kita telusuri satu per satu, apa saja yang sebenarnya sedang terjadi:
1. Tekanan Karier dan Tuntutan Menjadi Dewasa
Di tengah pasar kerja yang tidak pasti, pertanyaan seperti "kapan dapat kerja?" dan "apakah penghasilanku nanti cukup?" menjadi sumber tekanan tersendiri. Belum lagi, terdapat sederet urusan baru yang tiba-tiba harus dipahami sendiri, di antaranya mengaktifkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) untuk lapor pajak pertama kali, memilih asuransi kesehatan, membaca klausul kontrak kerja hingga memikirkan tempat tinggal.
Kondisi inilah yang disebut sebagai adulting distress, yaitu rasa tertekan karena harus menghadapi tanggung jawab hidup dewasa yang sebelumnya belum benar-benar diajarkan.
2. Hilangnya Struktur dan Jejaring Sosial
Setelah wisuda, fresh graduate tidak hanya berpisah dengan teman-teman kuliah, tetapi juga meninggalkan lingkungan pendidikan yang telah menjadi bagian hidupnya selama hampir 17 tahun. Selama bertahun-tahun tersebut, dunia pendidikan memberikan semacam 'peta' yang membuat kita terbiasa dengan tahapan hidup yang terukur: menyelesaikan tugas, naik kelas, lulus ujian, masuk kuliah, lalu mengejar gelar. Namun, setelah wisuda, peta itu tidak lagi ada.
Teman-teman yang dulu menjadi bagian dari keseharian juga mulai berjalan ke pilihan hidupnya masing-masing. Akibatnya, lulusan perlu belajar membangun rutinitas, arah, dan relasi baru di luar dunia pendidikan.
3. Membandingkan Diri dengan Pencapaian Orang Lain
Di era serba digital, mencari kerja hampir tidak bisa dilepaskan dari media sosial, termasuk LinkedIn. Sayangnya, unggahan tentang pekerjaan baru atau pencapaian teman-teman sekitar juga bisa memicu upward social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih berhasil. Akibatnya, fresh graduate bisa merasa tertinggal, seolah orang lain sudah memiliki arah hidup yang jelas.
Padahal, media sosial biasanya hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, bukan proses, kegagalan, atau kebingungan di baliknya. Jadi, daripada terus-menerus terjebak dalam rasa hampa dan cemas ini, yuk, kita pelajari bersama strategi untuk menavigasi masa transisi tersebut!
Strategi Menavigasi Transisi Pasca-Kelulusan
Lalu bagaimana caranya menavigasi transisi usai wisuda kelulusan? Berikut langkah-langkah yang bisa dicoba.
1. Menemukan Arah dari Pengalaman Kuliah
Cobalah melihat kembali siapa diri kita saat pertama kali masuk kuliah, apa saja yang sudah dilewati, dan bagaimana pengalaman itu membentuk diri kita hari ini. Proses ini dapat membantu kita memahami diri sendiri, menghargai sejauh apa kita sudah bertumbuh, serta menjadikan pengalaman yang telah dilalui sebagai petunjuk untuk menentukan langkah setelah kelulusan.
2. Menyusun Prioritas Setelah Lulus
Proses ini bisa dimulai dengan memecah rasa takut tentang masa depan menjadi langkah-langkah kecil yang konkret. Kita bisa mulai dari hal yang paling dekat, seperti mengatur anggaran bulanan, menyusun daftar perusahaan atau posisi yang ingin dilamar, atau belajar mengurus administrasi pajak, seperti NPWP. Dengan target kecil ini, kita tidak perlu menghadapi semuanya sekaligus, melainkan menjalaninya satu langkah demi satu langkah.
3. Cari Dukungan dan Rawat Diri
Bekal setelah lulus juga dapat diperkuat dengan mengembangkan keterampilan di luar jurusan, mencari mentor, atau berdiskusi dengan alumni yang sudah melewati fase serupa. Jangan lupa juga bahwa masa transisi juga butuh tubuh dan pikiran yang sehat. Jadi, tetap beri ruang untuk istirahat, olahraga, melakukan hobi, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang membuatmu merasa didukung, yaa!
Nah, sekarang sudah lebih paham, kan, mengapa rasa hampa setelah wisuda bisa muncul? Rasa hampa setelah lulus bukan sesuatu yang perlu disalahkan, melainkan bagian dari dinamika fase transisi kehidupan. Semoga kita bisa lebih bijak memberi ruang bagi diri sendiri untuk berproses. Selamat melangkah di babak baru!
*) Dr Dyah Triarini Indirasari, MA, Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
*) Davina Andari Putri
Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Juara II Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Psikologi UI 2026










































