Selama ini, mahasiswa ekonomi terbiasa membahas angka dari inflasi, pengangguran, hingga pertumbuhan GDP. Namun, riset terbaru dari Cornell University menemukan pendekatan penting dalam belajar ekonomi, yakni menghadirkan kebahagiaan. Apa maksudnya?
Profesor ekonomi di Samuel Curtis Johnson Graduate School of Management, Ori Heffetz, mengatakan bahwa mahasiswa ekonomi seharusnya turut mempelajari bagaimana orang-orang bisa merasa bahagia. Peneliti mengusulkan pendekatan agar kebahagiaan dan kepuasan hidup dihadirkan di ruang kelas. Tujuannya agar ekonomi lebih relevan dengan kehidupan nyata.
"Ekonomi terlalu lama berfokus pada indikator objektif seperti pendapatan atau inflasi. Padahal itu tidak selalu mencerminkan bagaimana perasaan orang sebenarnya," ujarnya, dikutip dari Phys.org.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengukur Ekonomi dari Sudut Pandang Kebahagiaan
Dalam makalah berjudul Teaching Happiness (Economics) in Your Dismal-Science Courses yang diterbitkan di The Journal of Economic Education, tim peneliti yang terdiri dari ahli ekonomi dari Cornell University, London School of Economics, dan Santa Clara University mengusulkan agar mahasiswa tak hanya menghitung angka, tetapi juga merenungkan bagaimana kebijakan ekonomi berdampak pada kebahagiaan manusia.
Mereka berpendapat bahwa dengan adanya survei global yang kini menilai kepuasan hidup dan kesejahteraan masyarakat, serta kebahagiaan yang bisa diukur secara ilmiah, sama seperti GDP.
Beberapa instrumen pengukuran yang digunakan antara lain Cantril Ladder (skala 0 hingga 10 yang meminta seseorang menilai kehidupan mereka saat ini dan pada masa depan) serta survei emosi seperti rasa bangga, sedih, atau cemas.
Cara Praktis Menerapkan 'Ekonomi Kebahagiaan' di Kelas
Para peneliti memberikan beberapa saran untuk dosen dan mahasiswa ekonomi yang ingin mengintegrasikan riset kebahagiaan ke dalam pembelajaran:
1. Gunakan survei pribadi di awal semester
Mahasiswa diminta menilai tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidupnya sendiri. Data ini bisa digunakan untuk membandingkan hasil sebelum dan sesudah mempelajari teori ekonomi kesejahteraan.
2. Kaitkan teori ekonomi dengan pengalaman manusia
Misalnya, ketika membahas pengangguran, dosen dapat mengajak mahasiswa menganalisis dampak psikologis kehilangan pekerjaan terhadap kebahagiaan keluarga.
3. Buka ruang refleksi dan diskusi
Menurut tim riset, aktivitas sederhana seperti menulis jurnal tentang apa yang membuat seseorang merasa puas dapat membantu mahasiswa memahami ekonomi bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.
Dengan cara itu, mahasiswa dinilai bisa lebih terhubung dengan realitas sosial dan emosional manusia, bukan sekadar teori pasar dan angka statistik.
"Mahasiswa sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang membuat orang bahagia. Topik ini membantu mereka melihat bagaimana ekonomi berhubungan langsung dengan kehidupan mereka sendiri," tutur Heffetz.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































