Air hujan bisa menghasilkan banjir yang dahsyat dan menggenangi seluruh permukaan bumi. Namun, dari mana asal air hujan di langit yang begitu banyak?
Selama ini, kita semua tahu bahwa 71 persen permukaan bumi tertutup oleh air, yang tersebar di sungai, danau, hingga laut. Selain itu, kita juga tahu air jatuh dari langit saat hujan.
Untuk memahami bagaimana air di langit, bisa membayangkan proses air yang dipanaskan. Ada air, wadah panci dengan tutup, dan tetesan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat air dalam wadah dipanaskan, air akan menguap dan naik ke tutup wadah. Uap air yang naik akan berkumpul membentuk bulir-bulir, yang perlahan akan menetes kembali ke panci.
Dalam proses hujan, tetesan itulah yang akhirnya disebut air hujan.
Terbentuknya Air Hujan
Secara singkat, proses terbentuknya air hujan berawal dari air di permukaan bumi, lalu mengalami proses penguapan, membentuk awan, dan turun menjadi tetesan hujan. Proses ini dipengaruhi oleh Matahari,
Seorang ahli meteorologi dari Washington State University, Nathan Santo Domingo, menjelaskan bahwa Matahari bertindak sebagai sumber energi raksasa. Energi panas dari Matahari mengubah air di samudra, sungai, dan danau menjadi gas yang disebut uap air. Gas ini kemudian naik ke atmosfer.
Semakin tinggi uap air melayang, suhu udara akan semakin dingin. Proses pendinginan ini mengubah kembali uap air menjadi tetesan air cair yang sangat kecil dan ringan.
Ribuan tetesan kecil yang melayang bersama inilah yang kita lihat sebagai awan. Hujan baru akan terjadi ketika tetesan air di dalam awan saling bertabrakan (bonk into each other) dan bergabung menjadi satu tetesan yang lebih besar.
Saat tetesan tersebut menjadi terlalu berat untuk ditopang oleh udara, gravitasi akan menariknya untuk jatuh ke bawah sebagai hujan. Jika suhu udara sangat dingin, tetesan ini bisa jatuh dalam bentuk kepingan salju.
Melalui proses ini, kita tahu bahwa air di langit berasal dari air yang ada di permukaan bumi, seperti di sungai, danau, dan laut.
Mengapa Ada Hujan, Salju, hingga Hujan Es?
Melansir data dari NOAA NESDIS (National Environmental Satellite, Data, and Information Service), pembentukan hujan membutuhkan "benih" agar uap air bisa menempel. Benih ini bisa berupa partikel debu, serbuk sari, atau bahkan kristal es kecil di dalam awan.
Proses yang terjadi di dalam awan menentukan jenis presipitasi apa yang akan jatuh ke bumi:
Hujan: Terjadi saat tetesan air menjadi terlalu berat dan jatuh melalui lapisan udara yang hangat.
Salju: Terjadi jika suhu di dalam awan dan di sepanjang jalur jatuhnya berada di bawah titik beku (0°C).
Hujan Es: Fenomena ini terjadi saat tetesan air tertiup kembali ke atas oleh angin kencang di dalam awan badai (updraft), membeku menjadi es, lalu jatuh kembali, terlapisi air, dan membeku lagi berulang kali hingga menjadi bola es yang berat.
Hujan pembeku (freezing rain): Terjadi saat salju mencair saat jatuh, namun membeku seketika saat menyentuh permukaan bumi yang sangat dingin, menciptakan lapisan es transparan yang berbahaya.
Dalam hal ini, awan bertindak sebagai 'alat transportasi' yang memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain di seluruh dunia. Tanpa adanya siklus ini, distribusi air di permukaan bumi tidak akan merata dan kehidupan akan sulit bertahan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































