Banyak yang menyebut primata, gurita, hingga burung gagak sebagai hewan yang pintar. Namun, ada hewan lain yang juga bisa memecahkan masalah rumit, termasuk teka-teki atau puzzle.
Hewan yang dimaksud adalah rakun. Hewan ini telah lama dikenal sebagai kelompok yang penuh akal, seperti mencari makanan di tempat sampah dengan membuka dan menutupnya kembali.
Studi baru menemukan, cara rakun tersebut bukan hanya mencari makanan, tetapi memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hal ini kemudian diteliti oleh tim peneliti dari University of British Columbia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rakun Terbukti Bisa Pecahkan Teka-teki
Dalam studi yang terbit di jurnal Animal Behaviour Vol. 234 pada April 2026, ilmuwan meneliti rakun bernama latin Rocyon lotor. Rakun tersebut berhasil menyelesaikan teka-teki (puzzle) setelah mereka berhasil mendapatkan makanannya.
Hal ini menantang anggapan lama bahwa hewan hanya bergerak untuk mencari makan semata. Fenomena yang disebut ilmuwan sebagai information foraging menunjukkan bahwa rasa ingin tahu untuk memahami cara kerja sesuatu juga bisa dimiliki hewan selain manusia.
Studi menunjukkan bahwa rakun memiliki perilaku yang mirip dengan manusia, yakni senang bereksperimen dan mencoba hal baru hanya untuk belajar.
Peneliti sendiri menemukan bahwa rakun tetap mencoba memecahkan teka-teki rumit meskipun makanan sudah tidak didapati. Hal ini membuat para ilmuwan kagum akan motivasi hewan ini.
"Kami tidak menyangka mereka akan membuka semua solusi dalam satu percobaan. Mereka terus memecahkan masalah bahkan ketika tidak ada makanan di ujungnya," kata Hannah Griebling, seorang peneliti di University of Wyoming, dikutip dari Live Science.
Tes kepada Rakun
Untuk menguji kemampuan berpikir rakun, serangkaian tes dengan kotak teka-teki khusus yang dirancang Griebling dan Dr Sarah Benson-Amram. Kotak ini punya sembilan cara berbeda untuk dibuka, seperti menggeser pintu, memutar tuas, atau mengangkat pengait.
Dalam tes pertama, 16 rakun di fasilitas penelitian di Colorado dihadapkan pada kotak puzzle dengan tiga tingkat kesulitan, mudah, sedang, dan sulit. Seorang peneliti menaruh makanan di dalam kotak tersebut.
Hasilnya, rakun berhasil memecahkan teka-teki dengan tingkat keberhasilan tinggi. Menariknya, saat kotak terasa mudah, mereka mengeksplorasi banyak cara berbeda untuk membukanya. Namun, saat tingkat kesulitan meningkat, rakun cenderung memilih metode yang sudah terbukti berhasil daripada mencoba inovasi baru yang berisiko membuang energi.
Meski begitu, peneliti menduga perilaku ini bukan sekadar insting mencari makan. Mereka menyebutnya strategi 'information foraging', yaitu mengeluarkan energi untuk mendapatkan informasi yang mungkin berguna di masa mendatang.
Untuk mengujinya lagi, peneliti mengamati bagaimana kemampuan ini membantu rakun beradaptasi di lingkungan perkotaan penuh hambatan. Kali ini, rakun itu memanfaatkan sensitivitas cakar depannya untuk memanipulasi benda-benda manusia, seperti tempat sampah atau kotak kompos.
Hasilnya membuktikan bahwa fleksibilitas perilaku rakun memungkinkan mereka memanfaatkan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah baru, sehingga mereka berhasil bertahan hidup di permukiman manusia dibandingkan dengan hewan liar lainnya.
Ke depan, ilmuwan ingin meneliti apakah rasa ingin tahu rakun yang besar akan memicu 'perlombaan senjata kognitif' antara manusia dan hewan ini. Manusia terus membuat wadah makanan yang lebih kuat, sementara rakun belajar cara-cara baru untuk membongkarnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































