- 6 Cara Membentuk Rasa Aman pada Anak 1. Jangan Asal Merespons, Pahami Perasaan Anak 2. Jangan Membantah Anak dan Beri Ruang kepada Mereka untuk Mengutarakan Pikirannya 3. Tidak Semua Hal Perlu Direspons 4. Jangan Hanya Menilai, Cobalah Memahami Anak 5. Kenali Ciri Anak yang Berkembang Baik dan yang Masih Beradaptasi 6. Refleksikan Emosi Pribadi
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga masa depan. Namun, sering kali pendekatan yang digunakan justru membuat anak tidak nyaman dan membangkang.
Pelatih pengasuhan anak bersertifikasi asal Amerika Serikat, Reem Raouda, mengatakan bahwa penelitian telah menemukan pentingnya rasa aman dan nyaman bagi pertumbuhan anak. Menurutnya, anak yang merasa aman akan menumbuhkan kepercayaan diri dan ketahanan. Skill atau kemampuan inilah yang dianggap Raouda penting.
Dalam studinya terhadap 200 anak, Raouda menemukan bahwa ketidaknyamanan anak memicu sikap pembangkangan dan masalah perilaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan kata lain, seberapa aman anak Anda merasa bersama Anda hari ini akan membentuk siapa mereka di masa dewasa," ujarnya, dikutip dari CNBC Make It.
Untuk membentuk rasa aman pada anak, orang tua perlu memperhatikan pola pengasuhan yang tepat sejak dini. Berikut tips dari Raouda.
6 Cara Membentuk Rasa Aman pada Anak
1. Jangan Asal Merespons, Pahami Perasaan Anak
Saat anak menangis atau rewel, orang tua sering kali merespons dengan cepat untuk menenangkan anak dengan kalimat "Nggak apa-apa, nggak apa-apa." atau "Kamu baik-baik saja". Lalu ketika anak marah, orang tua berkata, "Tenanglah."
Menurut Raouda, respons cepat orang tua tidak tepat. Alih-alih membantu anak, anak justru tidak belajar mengelola perasaannya sendiri karena harus cepat-cepat menuruti orang tua.
Padahal, saat anak menangis atau marah, mereka hanya butuh validasi perasaan. Orang tua seharusnya memvalidasi dengan "Ibu mengerti kamu sangat sedih. Ibu ada di sini. Nggak apa-apa menangis dulu aja ya, Ibu temenin."
Tindakan menemani anak saat emosi mereka naik turun, akan memunculkan perasaan aman pada anak. Kemudian, mereka akan percaya bisa mengatasi situasi.
2. Jangan Membantah Anak dan Beri Ruang kepada Mereka untuk Mengutarakan Pikirannya
Orang tua sering kali membantah keinginan anak yang dianggap tidak masuk akal. Misalnya, setelah makan, anak berkata bahwa ia lapar dan ingin makan sesuatu.
Kesalahan orang tua adalah membantah dengan "Kamu tidak mungkin lapar, kamu baru saja makan.". Bisa juga ketika anak sedang curhat tentang temannya di sekolah, orang tua malah berkata, "Dia temanmu. Kamu tidak membencinya."
Raouda mengatakan, pernyataan di atas cenderung menghakimi anak, sehingga anak kehilangan kepercayaan diri. Anak bisa merasa tidak diberi ruang untuk mendefinisikan perasaan dan pikirannya.
Studi menemukan, anak yang perasaannya sering diabaikan akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang sulit percaya dengan pendapatnya sendiri.
3. Tidak Semua Hal Perlu Direspons
Rasa kasih sayang sering kali mendorong orang tua untuk menjelaskan dan mengoreksi anak secara berlebihan. Namun, tidak semua emosi atau perilaku anak perlu langsung direspons. Itu justru membuat anak kehilangan kesempatan untuk memproses emosi mereka.
Jadi, sesekali biarkan anak mencari jawaban atas permasalahan mereka. Dengan begitu, anak akan belajar untuk mendengarkan isi pikirannya sendiri. Para orang tua hendaknya menahan hasrat untuk mengatur setiap momen, cukup diam dan memperhatikan.
4. Jangan Hanya Menilai, Cobalah Memahami Anak
Dibandingkan dengan mengatakan "kerja bagus" atau "sungguh mengecewakan", sebaiknya ucapkan "Kamu sudah bekerja keras untuk itu". Itu lebih baik karena meninggalkan kesan ingin tahu.
Langkah tersebut, menunjukkan bahwa orang tua lebih menghargai dan memperhatikan usaha anak. Jika orang tua memperlihatkan rasa ingin tahu dengan tulus, maka anak juga akan memperoleh rasa aman.
5. Kenali Ciri Anak yang Berkembang Baik dan yang Masih Beradaptasi
Tak jarang anak yang berperilaku baik justru berantakan secara emosional. Mereka terbiasa untuk patuh, karena sedari kecil, di dalam dirinya telah tertanam bahwa perdamaian melindungi hubungan.
Anak dengan perilaku tersebut, selalu berusaha untuk memberikan apa yang dibutuhkan orang lain terutama orang tua. Secara kasatmata memang sangat baik, tapi sisi emosional mereka justru tidak aman.
Sebaliknya, anak yang kerap melawan dan bebas mengungkapkan rasa frustrasi mereka adalah anak yang paling aman secara emosional.
6. Refleksikan Emosi Pribadi
Selain fokus pada perkembangan anak, orang tua juga butuh waktu untuk mengenali emosi dan mengintrospeksi dirinya. Saat orang tua tidak tulus atau hanya berpura-pura, anak pasti merasakan perbedaannya.
Maka, sebelum menanggapi anak saat mereka kesulitan, hendaknya mengatur napas dan bertanya pada diri sendiri, "Sebenarnya ini tentang perasaan saya atau perasaan mereka?". Jadi, kenali terlebih dahulu emosi secara pribadi sebelum memahami anak-anak.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































