Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan, gelombang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Al) akan mengubah lanskap dunia kerja jauh lebih cepat dibandingkan gelombang otomasi sebelumnya. Untuk itu, pihaknya menyatakan komitmen untuk mempersiapkan tenaga kerja Singapura agar tetap relevan di masa depan.
Dalam pidatonya di May Day Rally 2026, PM Lawrence Wong menyoroti, Al sudah mulai mengubah cara kerja di berbagai sektor, mulai dari pengembangan perangkat lunak, administrasi, hingga industri lainnya.
Salah satu yang ia tekankan adalah kemunculan Al agents, yakni asisten virtual berbasis AI yang mampu merencanakan dan menyelesaikan tugas kompleks untuk penggunanya, dilansir dari Fintech News Singapore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghadapi tantangan ini, Pemerintah Singapura telah membentuk Dewan Al Nasional. Lembaga ini bertugas mengkoordinasikan adopsi Al, membangun kapabilitas nasional, serta memposisikan Singapura sebagai pusat inovasi Al global.
Wong mencontohkan, kehadiran laboratorium Google DeepMind di Singapura meurpakan salah satu bukti kuat tumbuhnya ekosistem Al di negara mereka. Laboratorium tersebut merupakan pusat riset Al pertama Google di wilayah Asia Tenggara.
Transformasi Pekerja di Sektor Perbankan
Salah satu contoh adaptasi AI di Singapura terlihat di sektor perbankan. Bank DBS telah mengintegrasikan Al ke dalam seluruh operasionalnya setelah melakukan investasi selama lebih dari satu dekade.
Tidak hanya adopsi teknologi AI, DBS juga melatih para karyawan untuk menggunakan alat Al. Para karyawan juga didorong untuk membangun solusi digital untuk pekerjaan mereka sendiri.
Wong mengatakan, seorang karyawan DBS berhasil mengintegrasikan teknologi di posisinya. Karyawan tersebut, dikatakan Wong, kini memimpin tim beranggotakan 20 orang untuk menggerakkan proyek Al di pusat layanan pelanggan.
Berkaca dari dinamika saat ini, ia mengatakan, Al akan meningkatkan produktivitas, tetapi juga akan mendisrupsi industri dan mengubah pekerjaan.
la menegaskan, fokus Singapura adalah melindungi pekerja dan bukan sekadar mempertahankan setiap jenis pekerjaan yang ada.
Bentuk Biro Pengembangan Tenaga Kerja & Skill
Sebagai langkah konkret, Singapura melakukan reformasi besar di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan. Pemerintah Singapura akan menggabungkan Workforce Singapore (WSG) dan SkillsFuture Singapore (SSG) menjadi satu entitas baru bernama Skills and Workforce Development Agency (SWDA) atau Badan Pengembangan Keterampilan dan Tenaga Kerja.
Lembaga baru ini akan diawasi bersama oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Kementerian Pendidikan Singapura untuk memastikan keselarasan antara pelatihan dan kebutuhan pasar kerja.
Selain itu, portal SkillsFuture di Singapura juga akan didesain ulang untuk memudahkan pekerja menemukan kelas-kelas yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Insentif bagi yang Mau Belajar AI
Menariknya, pemerintah juga memberikan insentif langsung bagi pekerja yang ingin meningkatkan keahlian. Wong menjelaskan, para pekerja yang mendaftar kursus Al akan mendapatkan akses gratis selama enam bulan ke berbagai alat Al premium.
Menurut Wong, meskipun banyak pekerja yang sudah menggunakan Al, sebagian besar masih memanfaatkannya sebatas alat pencarian (searching) yang lebih canggih. Sementara itu, masih banyak potensi besar AI yang bisa diadopsi secara praktis di tempat kerja, tetapi belum tergali.
Untuk mempercepat transisi ini, Pemerintah Singapura berencana memperluas skala Komite Pelatihan Perusahaan. Upaya ini akan dikoordinasikan oleh Tripartite Jobs Council yang melibatkan kerja sama antar lembaga pemerintah, serikat pekerja, dan pemilik usaha.
(crt/twu)











































