Ilmuwan MIT Kumpulkan Ribuan Soal Olimpiade Matematika dari 17 Bahasa dan Jawabannya

ADVERTISEMENT

Ilmuwan MIT Kumpulkan Ribuan Soal Olimpiade Matematika dari 17 Bahasa dan Jawabannya

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 04 Mei 2026 07:00 WIB
Para peneliti di MIT membuat platform berisi lebih dari 30 ribu soal olimpiade matematika plus jawaban, bisa diakses siapa saja
Foto: MIT/Para peneliti di MIT membuat platform berisi lebih dari 30 ribu soal olimpiade matematika plus jawaban, mencakup 17 bahasa.
Jakarta -

Ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) membuat platform berisikan koleksi soal matematika tingkat olimpiade. Platform ini dapat diakses oleh semua orang.

Dalam platform tersebut ada lebih dari 30.000 soal kejuaraan matematika beserta jawabannya, yang dikumpulkan dari 47 negara. Tentu saja hal ini memberikan wadah berlatih bagi siswa di seluruh dunia.

Setiap tahun, negara-negara yang berkompetisi dalam Olimpiade Matematika Internasional atau International Mathematical Olympiad (IMO) datang dengan buku berisi soal-soal terbaik dan paling orisinal. Buku-buku tersebut dibagikan di antara delegasi, lalu menghilang begitu saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum pernah ada yang mengumpulkannya secara sistematis, membereskannya, dan menyediakannya untuk semua orang, baik untuk peneliti AI yang menguji batas penalaran matematika maupun untuk siswa di seluruh dunia yang berlatih untuk IMO. Para peneliti di Laboratorium Ilmu Komputer dan Kecerdasan Buatan MIT, King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), dan perusahaan HUMAIN kini telah melakukan hal itu.

Platform tersebut dinamai MathNet dan bisa diakses di https://mathnet.csail.mit.edu/. Karya ini dipresentasikan di Konferensi Internasional tentang Representasi Pembelajaran (ICLR) di Brasil pada akhir April kemarin.

ADVERTISEMENT

Mencakup Soal Olimpiade Matematika dalam 4 Dekade

MathNet berbeda dari yang lain bukan hanya kuantitasnya, tetapi juga cakupannya. Dataset tingkat olimpiade sebelumnya hampir secara eksklusif berasal dari kompetisi di Amerika Serikat dan China.

Namun, MathNet mencakup puluhan negara di enam benua, meliputi 17 bahasa, mencakup soal dan solusi berbasis teks dan gambar, dan mencakup empat dekade kompetisi matematika. Tujuan dari membangun platform ini adalah untuk menangkap seluruh rentang perspektif matematika dan tradisi pemecahan masalah yang ada di seluruh komunitas matematika global, bukan hanya dari yang paling terlihat.

"Setiap negara membawa buku kecil berisi soal-soal paling baru dan paling kreatifnya," kata Shaden Alshammari, mahasiswa PhD MIT dan penulis utama makalah tentang ini, dikutip dari laman resmi MIT.

"Mereka saling berbagi buklet, tetapi tidak ada yang berupaya mengumpulkannya, membereskannya, dan mengunggahnya secara daring," lanjutnya.

Membangun MathNet membutuhkan pelacakan 1.595 volume PDF dengan total lebih dari 25.000 halaman. Seluruhnya mencakup dokumen digital dan hasil pindaian puluhan tahun lalu dalam lebih dari selusin bahasa.

Sebagian besar arsip tersebut berasal dari sumber yang tidak terduga, yaitu Navid Safaei, tokoh senior komunitas IMO. Ia juga salah satu penulis yang telah mengumpulkan dan memindai buklet-buklet tersebut secara manual sejak 2006. Arsip pribadinya membentuk sebagian besar tulang punggung dataset tersebut.

Sebagian besar dataset matematika yang ada mengambil soal dari forum komunitas seperti Art of Problem Solving (AoPS), tetapi MathNet secara eksklusif juga mengambil dari buklet kompetisi nasional resmi.

Pemecahan soal dalam buklet tersebut ditulis oleh para ahli dan ditinjau oleh rekan sejawat dan sering kali terdiri dari beberapa halaman. Penulis menjelaskan beberapa pendekatan untuk masalah yang sama.

"Saya ingat begitu banyak siswa yang harus berjuang sendiri. Tidak ada seorang pun di negara mereka yang melatih mereka untuk kompetisi semacam ini," kata Alshammari, yang pernah berkompetisi di IMO sebagai seorang siswa.

"Kami berharap ini memberi mereka tempat terpusat dengan soal-soal dan solusi berkualitas tinggi untuk dipelajari," ungkapnya.

Sultan Albarakati, salah satu penulis, saat ini menjabat di dewan IMO. Para peneliti juga tengah berupaya untuk membagikan kumpulan data tersebut langsung kepada yayasan IMO.

Untuk memvalidasi kumpulan data itu, mereka mengumpulkan sejumlah penilai yang terdiri dari lebih dari 30 evaluator manusia dari berbagai negara, termasuk Armenia, Rusia, Ukraina, Vietnam, dan Polandia, yang berkoordinasi bersama untuk memverifikasi ribuan jawaban soal.

Proyek ini sebagian didanai oleh Schwarzman College of Computing Fellowship dan National Science Foundation.



(nah/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads