Jepang Ternyata Tempat Tinggal Singa Gua pada Zaman Purba

ADVERTISEMENT

Jepang Ternyata Tempat Tinggal Singa Gua pada Zaman Purba

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 03 Mei 2026 06:00 WIB
Panthera spelaea alias singa gua
Foto: Via Science Direct/Andrey Yu Puzachenko dkk
Jakarta -

Siapa sangka, Jepang dulunya merupakan tempat tinggal bagi singa-singa gua. Antara 73.000 hingga 20.000 tahun yang lalu yang merupakan zaman Pleistosen Akhir, Kepulauan Jepang dihuni oleh singa gua atau Panthera spelaea. Kesimpulan tersebut didapat dari analisis genetik dan proteomik terbaru dari sisa-sisa felid fosil yang sebelumnya dikaitkan dengan harimau (Panthera tigris).

Singa dan harimau adalah predator puncak yang tersebar luas selama Pleistosen Akhir dan merupakan komponen integral dari megafauna Asia Timur. Singa gua sebagian besar menghuni Eurasia utara. Sementara, harimau tersebar lebih jauh ke selatan.

"Sebagai predator puncak yang dominan, singa dan harimau kemungkinan membentuk jalur evolusi karnivora simpatrik lainnya melalui persaingan langsung dan tidak langsung, dan memengaruhi populasi herbivora melalui predasi, sejak mereka muncul sekitar dua juta tahun yang lalu," kata peneliti Peking University, Shu-Jin Luo dan rekan-rekannya, dikutip dari Sci.News.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, setelah itu kemungkinan singa dan harimau menjadi pesaing signifikan satu sama lain, ketika singa menyebar keluar dari Afrika sekitar satu juta tahun yang lalu dan mulai memperluas wilayah jelajahnya di seluruh Eurasia.

ADVERTISEMENT

Kenapa Sekarang Wilayah Jelajah SInga dan Harimau Tidak Tumpang Tindih?

Meski demikian, sekarang ini wilayah jelajah geografis singa dan harimau tidak lagi tumpang tindih. Pasalnya, ada penyusutan luas yang terjadi di Eurasia barat daya pada awal abad ke-20, yang didorong oleh aktivitas antropogenik. Populasi terdekat yang ada sekarang berjarak lebih dari 300 km di India, menurut para peneliti.

"Sebaliknya, selama Pleistosen Akhir, tumpang tindih wilayah jelajah dan interaksi antara singa dan harimau mungkin terjadi lebih sering di sepanjang zona transisi-yang disebut sabuk transisi singa-harimau-yang membentang di seluruh Eurasia, dari Timur Tengah melalui Asia Tengah hingga Timur Jauh," kata mereka.

"Di ujung paling timur zona ini, Kepulauan Jepang telah lama dianggap sebagai tempat perlindungan harimau Pleistosen Akhir, yang didukung oleh subfosil felid besar yang secara tradisional dikaitkan dengan harimau, meskipun identitas taksonominya tetap belum terpecahkan," lanjutnya.

Sisa Fosil Dikira Harimau, Padahal Singa Gua

Untuk mengklarifikasi asal usul dan sejarah evolusi kucing besar Pleistosen Jepang, para peneliti memeriksa kembali 26 sisa subfosil yang ditemukan dari beberapa situs di seluruh Kepulauan Jepang.

Peneliti menggunakan penangkapan dan pengurutan hibridisasi genom mitokondria dan nuklir, paleoproteomik, penanggalan molekuler Bayesian, dan penanggalan radiokarbon. Mereka menemukan semua sisa 'harimau' Jepang kuno yang menghasilkan data molekuler, secara tak terduga, ternyata adalah singa gua.

Meskipun kandungan DNA endogen sangat rendah pada sebagian besar spesimen, para ilmuwan mampu memulihkan lima genom mitokondria yang hampir lengkap dan satu genom nuklir parsial.

Analisis filogenetik mereka menunjukkan, spesimen dari Jepang membentuk kelompok monofiletik yang didukung dengan baik yang bersarang di dalam garis keturunan singa gua Pleistosen Akhir yang dikenal sebagai spelaea-1. Analisis genom nuklir dari spesimen yang paling terawat mengonfirmasi hal ini, memisahkan garis keturunan singa dari harimau.

Analisis paleoproteomik lebih lanjut mengidentifikasi varian asam amino diagnostik pada glikoprotein alfa-2-HS yang cocok dengan singa, bukan harimau.

Kapan Singa Gua mulai ke Jepang?

Menurut tim tersebut, singa gua menyebar ke Kepulauan Jepang antara sekitar 72.700 dan 37.500 tahun yang lalu, saat jembatan darat menghubungkan Jepang utara ke daratan utama selama periode Glasial Terakhir.

Hewan-hewan tersebut bahkan mencapai wilayah barat daya kepulauan, meskipun habitat yang sebelumnya dianggap lebih cocok untuk harimau. Mereka hidup berdampingan dengan serigala, beruang coklat, beruang hitam Asia, dan populasi manusia purba, serta membentuk bagian integral dari ekosistem Pleistosen Akhir di kepulauan tersebut.

Para penulis berpendapat, singa gua spelaea-1 bertahan di Kepulauan Jepang setidaknya selama 20.000 tahun setelah kepunahan mereka di Eurasia dan berpotensi lebih dari 10.000 tahun setelah menghilang sepenuhnya dari Beringia timur.

"Pemeriksaan ulang sisa-sisa subfosil singa dan harimau di seluruh Eurasia lintang tengah di masa mendatang akan sangat penting untuk mengklarifikasi dinamika jangkauan spesies dan menyelesaikan fluktuasi sabuk singa-harimau," kata mereka.

Penelitian ini diterbitkan pada 26 Januari 2026 dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul "The Japanese Archipelago sheltered cave lions, not tigers during the Late Pleistocene".

Halaman 2 dari 2
(nah/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads