Ikan sapu-sapu telah digolongkan sebagai spesies invasif yang merusak lingkungan asli. Untuk mengendalikan populasi dan mencegah dampaknya, alih-alih ditangkap dan dikubur, apakah Indonesia bisa merekayasa ikan sapu-sapu?
Sebelumnya, pembasmian ikan sapu-sapu ramai di Jakarta. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta berhasil menyisir 10,189 ton ikan sapu-sapu di 5 kota Provinsi Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Spesies ini diketahui memakan alga hingga telur ikan di Sungai Ciliwung. Hasilnya, jumlah spesies di Ciliwung menurun drastis dari 187 jenis ikan menjadi hanya 20 jenis ikan, demikian menurut Buku Yuk Mengenal Ikan Sapu-sapu Sungai Ciliwung oleh Dewi Elfidasari.
Ikan asal sungai Amazon ini juga tahan banting dari pencemaran. Kelebihannya di sisi lain membuat ikan sapu-sapu jadi ikan invasif yang bertahan di segala kondisi.
Melihat karakteristik ikan sapu-sapu, muncul pertanyaan terkait potensi merekayasa ikan satu ini.
Merespons hal ini,Triyanto selaku Peneliti Ahli Muda Pusat RisetLimnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan rekayasa ikan sapu-sapu bisa dilakukan, tetapi memakan biaya yang tinggi.
"Dan efeknya juga kita nggak tahu ya. Apalagi tadi di-hybrid lagi, dikasih musuh alaminya," ujarnya dalam Media Longue Discussion di Balik Ikan Sapu-sapu Gelombang Spesies Asing di Perairan Indonesia di Gedung BJ Habibie BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta pada Kamis (30/4/2026).
"Berat. Mendingan kita tangkap aja bareng-bareng," sambungnya.
Rekayasa Ikan Perlu Ingat Etika
Ia mencontohkan, negara Jepang sudah menerapkan proses sterilisasi untuk mencegah populasi ikan tertentu. Namun, Triyanto mengatakan ada kode etik yang perlu dipahami sebelum melakukan sterilisasi pada suatu spesies.
"Itu ada clearance ethic-nya juga, kalau kita mau melakukan riset itu. Jadi panjang. Lebih baik kita secara konservatif, tapi terukur dan presisi," ucapnya.
