Sejarah Hari Buruh Internasional 1 Mei, Bermula dari Gerakan Pekerja di Amerika

ADVERTISEMENT

Sejarah Hari Buruh Internasional 1 Mei, Bermula dari Gerakan Pekerja di Amerika

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 30 Apr 2026 07:30 WIB
Ilustrasi Hari Buruh Internasional
Ilustrasi Hari Buruh Internasional. Foto: Luis Quintero/Unsplash
Jakarta -

Hari Buruh Internasional (May Day) akan kembali dirayakan pada Jumat, 1 Mei 2026. Termasuk perayaan internasional, bagaimana sejarah di balik Hari Buruh Internasional?

Hari Buruh Internasional pertama kali bermula dari gerakan pekerja pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat (AS), tepatnya melalui aksi demonstrasi besar di Chicago pada 1 Mei 1886. Pada saat itu, para pekerja bersatu untuk menuntut penerapan jam kerja yang lebih manusiawi.

Berdasarkan laman Encyclopaedia Britannica, Hari Buruh Internasional merupakan hari ketika hak-hak para pekerja terus disuarakan dan diperjuangkan secara global, baik mengenai upah layak, kondisi kerja yang aman, maupun perlindungan tenaga kerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Hari Buruh Internasional (May Day)

Dilansir laman History, Hari Buruh atau May Day yang dirayakan setiap tanggal 1 Mei memiliki sejarah dan tradisi panjang. Pada awalnya, peringatan 1 Mei ini memiliki tujuan khusus untuk menyambut pergantian musim.

Namun, pada abad ke-19, Hari Buruh memiliki makna baru. Tanggal ini berubah menjadi Hari Buruh Internasional yang lahir dari gerakan buruh di Amerika Serikat untuk menuntut hak-hak pekerja, salah satunya jam kerja yang lebih manusiawi.

ADVERTISEMENT

Keterkaitan antara perayaan Hari Buruh dan hak-hak pekerja bermula di puncak Revolusi Industri. Pada masa itu, ribuan pria, wanita, dan anak-anak meninggal setiap tahunnya akibat kondisi kerja yang sangat buruk dan jam kerja yang tidak manusiawi.

Tuntutan 8 Jam Kerja dan Tragedi Haymarket

Sebagai upaya untuk mengakhiri kondisi kerja eksploitatif tersebut, Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) yang kelak menjadi American Federation of Labor (AFL) mengadakan konvensi di Chicago pada 1884. Dalam konvensi ini, FOTLU memproklamasikan bahwa delapan jam akan menjadi standar waktu kerja sehari yang sah, terhitung sejak dan setelah 1 Mei 1886.

Pada tahun berikutnya, Knights of Labor yang saat itu merupakan organisasi buruh terbesar di Amerika, turut mendukung pernyataan tersebut. Kedua kelompok ini sepakat mendorong para pekerja untuk turun ke jalan, melakukan mogok kerja, dan demonstrasi.

Tepat pada 1 Mei 1886, lebih dari 300.000 pekerja dari 13.000 perusahaan di seluruh penjuru negeri meninggalkan pekerjaan mereka. Di Chicago sendiri, tercatat ada sekitar 40.000 pekerja yang ikut serta. Pada hari berikutnya, gelombang protes ini semakin membesar dan jumlah pemogok bertambah menjadi hampir 100.000 orang.

Secara keseluruhan, protes awalnya berjalan damai. Namun, situasi berubah mencekam pada 3 Mei ketika polisi Chicago dan para pekerja bentrok di Pabrik McCormick Reaper. Keesokan harinya, sebuah rapat umum digelar di Haymarket Square untuk memprotes insiden pembunuhan dan penembakan sejumlah pekerja oleh aparat.

Insiden berdarah pun pecah. Saat pembicara bernama August Spies menyudahi orasinya, sekelompok petugas tiba untuk membubarkan massa. Ketika aparat bergerak maju, seorang individu tidak dikenal melemparkan bom ke barisan polisi. Kekacauan tidak dapat dihindari, mengakibatkan setidaknya tujuh petugas polisi dan delapan warga sipil tewas akibat kekerasan hari itu.

Insiden yang dikenal sebagai Kerusuhan Haymarket (Haymarket Affair) ini memicu gelombang represi nasional. Pada Agustus 1886, delapan pria yang dicap sebagai kelompok anarkis dihukum dalam sebuah persidangan yang sensasional dan kontroversial.

Mereka divonis bersalah meskipun tidak ada bukti kuat yang mengaitkan para terdakwa dengan insiden pengeboman. Persidangan tersebut menuai kritik tajam karena juri yang bertugas dianggap bias dan memiliki kaitan erat dengan para pengusaha besar pendukung sistem kapitalis. Tragedi bersejarah inilah yang kelak memicu lahirnya peringatan Hari Buruh Internasional setiap tanggal 1 Mei.

Seruan Proklamasi Perjuangan Buruh 1 Mei 1886

Sesaat sebelum aksi mogok massal pada 1 Mei 1886 dimulai, muncul sebuah seruan radikal dari seorang penerbit yang mengajak para pekerja untuk menuntut hak mereka secara tegas.

Berikut adalah isi seruan perjuangan buruh tersebut yang dikutip dari laman Industrial Workers of the World:

  • Para Pekerja Angkat Senjata!
  • Perang bagi Istana, Damai bagi Pondok, serta Kematian bagi KEMALASAN MEWAH.
  • Sistem upah merupakan penyebab utama dari kesengsaraan dunia. Sistem ini didukung oleh golongan kaya, dan guna menghancurkannya, mereka harus dipaksa bekerja atau MATI.
  • Satu pon DINAMIT lebih baik daripada sekeranjang SURAT SUARA!
  • SUARAKAN TUNTUTAN DELAPAN JAM KERJA dengan senjata di tangan kalian guna menghadapi kawanan anjing pelacak kapitalis, polisi, serta milisi dengan cara yang pantas.

Apakah Hari Buruh 1 Mei Dirayakan di AS?

AS secara resmi tidak mengakui May Day sebagai hari buruh nasional meskipun sejarah pergerakan buruh dunia sebenarnya lahir di negara tersebut. Hal ini menjadi sebuah ironi besar mengingat saat ini terdapat enam puluh enam negara lain yang telah menetapkan peringatan satu Mei sebagai hari libur resmi.

Sebagai pelopor tuntutan hak pekerja, AS justru menjadi salah satu negara yang tidak merayakan hari buruh pada tanggal satu Mei. Pemerintah setempat melakukan strategi pemisahan ini guna menjauhkan pengaruh gerakan radikal dari sejarah asli pergerakan buruh di tanah Amerika.

Presiden Grover Cleveland secara resmi memindahkan peringatan Hari Buruh di AS ke hari Senin pertama bulan September setelah peristiwa Aksi Mogok Pullman pada 1894. la sengaja membuat keputusan tersebut guna memutus ikatan dengan perayaan pekerja internasional. Pemerintah saat itu merasa khawatir bahwa perayaan pada tanggal satu Mei dapat memicu dukungan masyarakat terhadap komunisme dan gerakan radikal lainnya.

Sementara itu, Presiden Dwight D Eisenhower bahkan berusaha mengubah makna tanggal tersebut sepenuhnya pada 1958. la mendeklarasikan tanggal satu Mei sebagai Hari Hukum untuk merayakan peran hukum dalam pembentukan Amerika Serikat. Langkah tersebut sekaligus bertujuan menjauhkan ingatan publik dari tragedi kerusuhan buruh yang terjadi di masa lalu.

Nah, itu dia sejarah Hari Buruh Internasional atau May Day yang lahir dari tuntutan hak para pekerja di AS. Saat ini, para pekerja di seluruh dunia termasuk Indonesia terus memperingati momentum bersejarah tersebut setiap tanggal 1 Mei guna menghargai dedikasi kaum buruh dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads