Penemuan Fosil Mungil Ini Ubah Silsilah Dinosaurus

ADVERTISEMENT

Penemuan Fosil Mungil Ini Ubah Silsilah Dinosaurus

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Rabu, 29 Apr 2026 20:30 WIB
Ilustrasi penggalian benda arkeolog
Ilustrasi arkeolog. Foto: (Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)
Jakarta -

Sepotong bagian penting dari sejarah evolusi akhirnya terungkap. Sejumlah ilmuwan berhasil menemukan fosil dinosaurus mungil baru bernama Foskeia pelendonum.

Penemuan fosil ornithopoda kecil dari zaman Kapur ini telah mengisi celah kosong yang ada pada sejarah evolusi. Fosil berukuran 50 sentimeter tersebut ditemukan di wilayah Vegagete di Burgos, Spanyol.

Studi berjudul "Foskeia pelendonum, a new rhabdodon morph from the Lower Cretaceous of Salas de los Infantes (Burgos Province, Spain), and a new phylogeny of ornithischian dinosaurs," ini terbit di jurnal Papers in Paleontology pada 1 Februari 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dipimpin oleh Paul-Emile DieudonnΓ© dari Universitas Nasional RΓ­o Negro, Argentina, studi ini mengungkap evolusi tak terduga dari dinosaurus mungil tersebut. Tengkorak Foskeia pelendonum disebut dekat dengan awal mula garis keturunan herbivora Eropa, Rhabdodontidae.

Lantas, apa yang membuat tengkorak ini begitu istimewa?

ADVERTISEMENT

Tengkorak Unik dan Rumit

Ukurannya yang kecil, membuat siapapun yang pertama kali melihat tengkorak itu akan takjub karenanya. Namun, dibalik ukurannya yang mungil, ia menyimpan inovasi anatomi yang tidak sesederhana bentuknya.

Fosil Foskeia pelendonum adalah fosil yang ditemukan setidaknya dari lima individu. Fidel Torcida FernΓ‘ndez-Baldor dari Museum Dinosaurus Salas de los Infantes adalah penemu pertamanya.

Para peneliti sudah menyadarinya bahwa fosil tersebut bukanlah temuan biasa karena ukurannya yang mungil. Di samping itu, studi ini juga menumbangkan pemahaman lama tentang evolusi dinosaurus ornithopoda.

Nama genus Foskeia sendiri diambil dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari "fos" artinya ringan, dan "skei" atau boskein yang berarti mencari makan. Nama ini dipilih karena dinosaurus dewasa jenis ini memang berpostur kecil.

Sementara nama palendonum berasal dari Pelendones, yaitu sebuah suku dari Fuentes del Duero dan sekitarnya di Spanyol.

Para peneliti mengatakan betapa pentingnya penemuan fosil Foskeia bagi sejarah evolusi. Peneliti dari Universidad Nacional de CΓ³rdoba, Marcos Becerra mengungkapan, ukuran kecil bukanlah sebuah sifat yang sederhana dalam proses evolusi. Justru tengkorak ini memiliki bentuk yang aneh dan cukup rumit.

Celah Pengetahuan Selama 70 Tahun Akhirnya Terisi

Selaras dengan komentar sebelumnya, peneliti dari Cagar Alam Sainte Victoire bernama Thierry Tortosa, mengatakan Foskeia membantu melengkapi kekosongan selama tujuh puluh tahun. Temuan ini menurutnya adalah sebuah kunci kecil yang mampu membuka bab besar yang sempat hilang.

Kemudian, peneliti dari Universidade Federal do Rio de Janeiro bernama TΓ‘abata Zanesco Ferreira mengatakan temuan ini bukanlah "Iguanodon mini," melainkan sesuatu yang jelas berbeda dari segi paling dasar.

Lalu, peneliti dari Universidad de La Laguna bernama PenΓ©lope Cruzado-Caballero, berkesimpulan bahwa fosil ini memiliki anatomi yang aneh. Ia juga yakin jika temuan ini berhasil merevisi pohon evolusi yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya.

Temuan ini didukung studi histologis oleh D Koen Stein dari Vrije Universiteit Brussel. Analisis jaringan tulang menunjukkan bahwa spesimen dewasa telah mencapai kematangan seksual.

"Struktur mikro tulang menunjukkan bahwa setidaknya satu individu adalah individu dewasa dengan pola metabolisme yang mendekati mamalia kecil atau burung. Pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan sangat penting jika kita ingin membandingkan anatomi Foskeia dengan spesies lain. Individu muda rentan terhadap perubahan fitur anatomi seiring pertumbuhannya," jelas Stein, yang dikutip dari Phys.org pada (2/2/2026).

Menyusun Kembali Silsilah Keluarga Dinosaurus

Analisis filogenetik memposisikan Foskeia sebagai saudara dinosaurus Australia, Muttaburrasaurus, pada kelompok Rhabdodontomorpha. Penemuan ini sekaligus memperluas klad Eropa Rhabdodontia dan menghadirkan kembali gagasan lama terkait Phytodinosauria, yang sejak lama diperdebatkan oleh para ilmuwan.

Menurut DieudonnΓ©, hasil studi ini menunjukkan dinosaurus pemakan tumbuhan mampu membentuk kelompok evolusi baru yang disebut Phytodinosauria. Namun demikian, hipotesis ini tampaknya memerlukan eksperimen lanjutan dengan data yang lebih komplit.

Para peneliti juga menemukan susunan gigi yang menunjukkan perubahan postur selama masa pertumbuhan. Itu artinya, Foskeia mampu beradaptasi di dalam hutan yang lebat dengan mengandalkan kecepatannya.

"Fosil-fosil ini membuktikan bahwa evolusi bereksperimen secara radikal pada ukuran tubuh kecil seperti halnya pada ukuran tubuh besar. Masa depan penelitian dinosaurus akan bergantung pada perhatian terhadap hal-hal yang sederhana, yang terfragmentasi, dan yang kecil," tutup DieudonnΓ©.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads