Mengenal Persinyalan Kereta Api dan Sejarahnya, Rambu-rambu untuk Cegah Tabrakan

ADVERTISEMENT

Mengenal Persinyalan Kereta Api dan Sejarahnya, Rambu-rambu untuk Cegah Tabrakan

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 29 Apr 2026 12:30 WIB
Petugas KAI saat melakukan berbagai penanganan intensif di jalur hilir di KM 32+7/8, Kabupaten Grobogan.
Ilustrasi kereta api. Sejarah persinyalan kereta api. Foto: Dok. KAI Daop 4 Semarang
Jakarta -

Ada berbagai spekulasi yang kini luas dibahas di masyarakat, terkait kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur. Salah satu hal banyak diperbincangkan adalah faktor persinyalan.

Meski demikian, saat ini penyebab pasti kejadian ini masih dalam penyelidikan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan investigasi dalam rangka mengungkap penyebab pastinya.

"Kami juga memberikan kesempatan kepada KNKT untuk melakukan investigasi, melihat secara objektif penyebab dari kecelakaan yang terjadi pada malam hari ini," jelas Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026), dikutip dari detikNews.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sistem Persinyalan Kereta di Indonesia

Sistem persinyalan kereta api sebagaimana kini ramai dibahas di masyarakat, merupakan suatu sarana untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari satu stasiun menuju stasiun berikutnya.

ADVERTISEMENT

Alumnus Teknik Fisika ITB, Agung Prasdianto, pada 2021 lalu pernah menjelaskan setiap perangkat yang ada di sistem persinyalan seperti sinyal wesel, pendeteksi keberadaan kereta api, meja pelayanan operator dan pesawat blok, seluruhnya saling terkait dan saling mengunci satu sama lain dan diatur sistem interlocking.

Sistem interlocking terdiri dari mekanik dan elektrik. Dalam sistem interlocking elektrik, ada berbagai komponen di dalamnya.

"Kereta tidak bisa berhenti begitu saja karena diperlukan perlambatan dari jarak yang cukup jauh untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Untuk mengamankan perjalanan kereta api tidak terjadi kecelakaan, dibutuhkan perangkat sinyal," jelasnya, dikutip dari arsip kampus ITB.

Ada tiga jenis perangkat sinyal yang sering dipakai dalam perkeretaapian di Indonesia yakni tuas mekanik, local control panel, dan visual display unit.

Sejarah Sistem Persinyalan Kereta Api di Indonesia

Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Semarang menjelaskan kereta api mulai diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda sejak abad ke-19. Untuk mengatur lalu lintas kereta api, para petugas menggunakan standar Eropa.

Standar itu mengharuskan para petugas stasiun memberikan sinyal manual, seperti mengibarkan bendera di siang hari dan menyenter bola sinyal atau lentera di malam hari.

Berangkat dari pemberian sinyal manual, pengaturan lalu lintas yang lebih terstruktur digunakan seiring dengan perkembangan zaman. Pada perkembangan awal, sistem sinyal digunakan dengan lengan atau semafor.

Sinyal ini bekerja secara mekanis dan digerakkan dari menara sinyal melalui kawat tarik yang terhubung ke tuas kendali di pos jaga. Setiap tuas mengatur posisi sinyal atau wesel di jalur.

"Untuk mengoperasikannya, petugas harus teliti, karena satu kesalahan bisa membahayakan keselamatan perjalanan," tulis BTP Semarang dalam postingan Instagramnya, dikutip Rabu (29/4/2026).

Menjelang akhir abad ke-19, dunia mulai beralih ke listrik. Sistem sinyal juga ikut berevolusi di mana kini sinyal bisa dikendalikan dari jarak jauh dan lebih andal.

Sistem persinyalan hadir untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api dari satu stasiun menuju stasiun berikutnya. Untuk semakin menjamin keselamatan, diberlakukan sistem blok mekanik.

"Sistem blok mekanik memastikan hanya satu kereta yang boleh melintas di setiap segmen jalur guna mencegah tabrakan," katanya lebih lanjut.

Selain itu, juga ada sistem interlocking yang berfungsi sebagai pengunci sinyal dan wesel. Dengan demikian, jalur bisa diatur agar tidak bertentangan.

Saat ini, sistem sinyal kereta mulai menggunakan lampu berwarna sebagai bentuk komunikasi visual yang lebih jelas bagi masinis. Arti dari lampu lalu lintas kereta, yakni:

  • Merah: Tanda mutlak kereta harus berhenti atau jalur di depan tidak aman.
  • Kuning: Mengindikasikan masinis harus waspada ada pembatasan kecepatan atau sinyal berikutnya mungkin merah.
  • Hijau: Jalur di depan aman, kereta bisa melaju dengan kecepatan normal.

Selanjutnya sistem persinyalan juga dilengkapi dengan teknologi seperti CBTC (Communications Based Train Control) yang memungkinkan kereta dikendalikan secara otomatis dan real-time. Kecepatan, efisiensi, dan keselamatan menjadi satu kesatuan di setiap perjalanan kereta api.




(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads