Kapal perang milik Amerika Serikat (AS) dikabarkan melintasi Selat Malaka pada Minggu (19/4/2026). Berdasarkan konfirmasi oleh TNI Angkatan Laut (AL), kapal AS tersebut dikabarkan sedang transit.
"Pelayaran semata-mata untuk tujuan transit yang terus-menerus, langsung dan secepat mungkin antara satu bagian laut lepas atau ZEE dan bagian laut lepas atau ZEE lainnya, hal tersebut berdasarkan Pasal 37, 38, dan 39 pada UNCLOS 1982," kata Kadispenal Laksamana Pertama Tunggul dalam detikNews, dikutip Senin (20/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas kapal perang tersebut termasuk dalam pelayaran internasional yang sah. Tunggul menyinggung hak kapal, termasuk kapal perang yang melintasi perairan tersebut merupakan Hak Lintas Transit atau Transit Passage, pada strait used for international navigation atau selat yang digunakan untuk pelayaran internasional.
"Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Indonesia telah meratifikasi UNCLOS 1982 melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on The Law of The Sea atau Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut," jelasnya.
"Sehingga seluruh kapal yang melaksanakan Hak Lintas transit di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran internasional wajib menghormati Indonesia sebagai negara pantai," ungkapnya.
Aksi ini menjadi sorotan dunia. Selain SelatHormuz, Selat Malaka juga menjadi salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Letak Selat Malaka
Selat Malaka adalah jalur air yang menghubungkan Laut Andaman (Samudra Hindia) dan Laut Cina Selatan (Samudra Pasifik). Nama selat ini diambil dari pelabuhan dagang Melaka (sebelumnya Malaka) yang penting pada abad ke-16 dan ke-17.
Selat ini membentang antara PulauSumatera di Indonesia di barat dan Semenanjung (Barat) Malaysia dan bagian paling selatan Thailand di timur dengan luas sekitar 65.000kmΒ². Lebar selat adalah 65 km di selatan dan melebar hingga 250 km antara Pulau We di lepas pantaiSumatera dan Tanah GentingKra di daratan.
Sebagai penghubung antara Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan, Selat Malaka merupakan jalur laut terpendek antara India dan China. Berkat faktor inilah, Selat Malaka menjadi salah satu jalur pelayaran yang paling banyak dilalui di dunia.
Menurut Ensiklopedia Britannica, Selat Malaka pernah membantu migrasi besar masyarakat Asia ke Kepulauan Melayu. Selat ini berturut-turut dikuasai oleh bangsa Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris.
Selain Selat Hormuz, selat ini juga menjadi jalur bagi kapal tanker minyak raksasa yang berlayar antara ladang minyak Timur Tengah dan pelabuhan di Jepang dan tempat lain di Asia Timur.
Saksikan Live DetikSore :
(nir/faz)











































