Kekerasan seksual memang sebuah kejahatan yang berdampak besar pada korban. Kekerasan ini bisa timbul bahkan dari hal-hal kecil seperti candaan.
Fenomena berawal dari bercanda kemudian berujung jadi kekerasan seksual dikenal juga sebagai Rape Culture Pyramid. Istilah ini muncul setelah banyaknya kasus sepele yang berujung pelecehan bahkan pemerkosaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Rape Culture Pyramid?
Mengutip buku saku yang diterbitkan BEM FISIP UI berjudul "Introduction to Sexual Violence", Rape Culture Pyramid merupakan pemahaman bagaimana budaya perkosaan tumbuh di masyarakat dan dianggap sebagai hal yang wajar.
Pada akhirnya, fenomena ini mencapai puncaknya berupa pemerkosaan dan penganiayaan. Istilah Rape Culture Pyramid ini telah populer sejak tahun 2000-an.
Dilansir laman Collective Shout, Rape Culture Pyramid terinspirasi oleh buku karya Susan Brownmiller berjudul Against Our Will (1975), Roda Kekuasaan dan Kontrol Duluth (1984), dan konsep-konsep feminis radikal dan interseksional.
Di beberapa negara, Rape Culture Pyramid dijadikan sebagai bahan ajar di universitas, pelatihan aktivias, dan advokasi media sosial. Piramida ini menjadi alat untuk kampanye pencegahan kekerasan seksual.
Tingkatan Rape Culture Pyramid
Sesuai namanya, Rape Culture Pyramid memiliki tingkatan-tingkatan dari dasar hingga puncak sehingga digambarkan menjadi sebuah piramida. Berdasarkan tingkatannya, berikut penjelasan mengenai Rape Culture Pyramid :
- Dasar (fondasi)
Pada bagian dasar ini, disebutkan sikap dan perilaku sehari-hari yang tampak tidak berbahaya. Beberapa hal seolah dinormalisasi, contohnya dapat berupa pelecehan dalam bentuk verbal. Terutama jika pelakunya laki-laki, kerap diabaikan.
- Tingkat menengah
Tingkat menengah ini bisanya menunjukan perilaku yang jauh lebih berbahaya. Namun masih sering diabaikan karena pelaku memiliki kekuasaan atau dilindungi.
- Teratas
Pada tingkat puncak, sisi kriminal sudah jelas. Pada titik ini, kekerasan seksual menjadi tidak bisa dihindarkan.
Contoh-contoh Rape Culture Pyramid
Rape Culture Pyramid juga memiliki beberapa kategori seperti pewajaran, merendahkan, hingga kekerasan gamblang. Berikut contohnya:
- Normalization (pewajaran): Komentar bernada seksual, seksis, dan rape jokes (lelucon perkosaan)
- Degradation (merendahkan): Catcalling, mengambil gambar atau video secara diam-diam, mengirimkan foto kelamin tanpa persetujuan, menguntit, revenge porn (pornografi balas dendam), dan victim blaming (menyalahkan korban)
- Assault (kekerasan gamlang): Memaksa sesorang untuk melakukan hubungan seks, mencekoki seseorang dengan obat terlarang atau alkohol, melepas kondom diam-diam ketika berhubungan seks, penganiayaan sesksual, dan pemerkosaan.
Cara Meruntuhkan Rape Culture Pyramid
Mengutip laman University of Alberta, ada beberapa cara yang bisa dimulai untuk meruntuhkan Rape Culture Pyramid yaitu:
1. Bertanggung Jawab pada Diri
Artinya, setiap individu harus sadar untuk menentang kekerasan seksual dalam bentuk apapun. Setiap orang harus berkomitmen untuk menjaga batasan fisik dan emosional orang lain.
2. Menerima Masukan
Jika seseorang telah melakukan hal yang memancing kekerasa seksual dan kemudian diingatkan, maka hal itu perlu disyukuri. Alih-alih berprilaku defensif, seseorang harus mengevaluasi diri agar tidak melakukan hal buruk lagi.
3. Jangan Salahkan Korban
Korban adalah hasil dari tidak bertanggung jawabnya seseorang. Sehingga korban tidak bisa disalahkan dan perlu dibantu untuk pulih.
4. Jaga Ucapan
Jagalah ucapan, jangan sampai mengarah pada pelecehan seksual dalam bentuk verbal. Jangan berkata yang mengarah pada pemicu kekerasan.
