Studi inimemperingatkan bahwa populasi manusia saat ini telah tumbuh melebihi kapasitas bumi. Selain itu, hal ini menuntut sumber daya melebihi kemampuan bumi untuk menopangnya secara berkelanjutan.
Penelitian ini menunjukkan Homo sapiens terus mendorong batas kapasitas dukung planet, terutama dalam memanfaatkan solusi teknologi dan bahan bakar fosil untuk mengatasi keterbatasan alami. Para peneliti menjelaskan bahwa kapasitas dukung lingkungan adalah jumlah individu dari suatu spesies yang bisa bertahan dalam jangka panjang berdasarkan ketersediaan sumber daya dan laju peremajaan sumber daya tersebut.
Populasi Manusia Tekan Batas Kapasitas Bumi
Corey Bradshaw dari Flinders University di Australia bersama timnya membuat perkiraan daya dukung manusia berbasis bukti. Mereka membedakan daya dukung maksimal, yaitu batas teoritis mutlak tanpa mempedulikan kelaparan atau perang, dengan daya dukung optimal. Yang terakhir adalah kondisi di mana populasi berkelanjutan sekaligus memenuhi standar hidup minimum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan perhitungan dalam studi, populasi ideal atau daya dukung optimal Bumi berada di angka 2,5 miliar jiwa. Angka ini jauh di bawah populasi saat ini yang sudah mencapai 8,3 miliar. Sementara itu, daya dukung maksimal Bumi diperkirakan sekitar 12 miliar jiwa.
Peneliti memperkirakan jika tren perlambatan pertumbuhan saat ini terus berlanjut, populasi global akan mencapai puncaknya antara 11,7 dan 12,4 miliar jiwa pada akhir 2060-an atau 2070-an.
"Bumi tidak bisa mengimbangi cara kita menggunakan sumber daya. Bahkan untuk memenuhi permintaan hari ini, perubahan besar diperlukan. Temuan kami menunjukkan bahwa kita mendorong planet ini lebih keras daripada kemampuannya untuk bertahan," jelas Bradshaw.
Krisis Lingkungan dan Solusi Berkelanjutan
Kesenjangan besar antara angka optimal 2,5 miliar dan populasi aktual 8,3 miliar membantu menjelaskan masalah konsumsi berlebih yang mengancam umat manusia. Contohnya, pada Januari 2026 lalu PBB mengumumkan bahwa dunia sedang menghadapi kekurangan air.
Studi tersebut menunjukkan bahwa anomali suhu global, jejak ekologis, dan total emisi lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan ukuran populasi dibandingkan sekadar peningkatan konsumsi per orang.
Meski situasinya mengkhawatirkan, para peneliti menegaskan bahwa waktu belum sepenuhnya habis. Bencana ekologis masih bisa dihindari jika terjadi perombakan besar-besaran dalam praktik sosial dan budaya terkait penggunaan lahan, air, energi, serta keanekaragaman hayati.
"Populasi yang lebih kecil dengan konsumsi yang lebih rendah menciptakan hasil yang lebih baik bagi manusia dan planet ini. Waktu untuk bertindak semakin sempit, tetapi perubahan yang bermakna masih dapat dicapai jika negara-negara bekerja sama," tegas Bradshaw.
Penulis adalah peserta program magang Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































