Nilai kuliah yang makin tinggi belum tentu berarti mahasiswa makin pintar. Penelitian terbaru justru menemukan adanya fenomena "inflasi nilai" di jenjang pendidikan pascasarjana, seperti S2 dan S3.
Dilansir dari Phys.org, fenomena ini terjadi ketika nilai akademik meningkat bukan karena kemampuan mahasiswa yang lebih baik, melainkan faktor lain seperti kebijakan kampus atau tekanan akademik. Dampaknya, semakin banyak mahasiswa yang mendapat nilai tinggi dari waktu ke waktu.
Temuan ini berasal dari analisis data selama lebih dari dua dekade yang melibatkan puluhan ribu mahasiswa pascasarjana di sebuah universitas besar di Amerika Serikat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Temuan utama kami adalah bahwa inflasi nilai juga terjadi pada tingkat pascasarjana dan bukan hanya fenomena yang terbatas pada pendidikan sarjana," ujar Vivien Lien, peneliti dari University of Minnesota.
"Inflasi Nilai" di Program S2 dan S3
Penelitian pleh tim dari University of Minnesota menganalisis data 40.516 mahasiswa dari 75 program magister dan 78 program doktoral selama periode 1999 hingga 2022. Peneliti menggunakan skor GRE (tes terstandar masuk pendidikan pascasarjana) untuk memastikan peningkatan nilai bukan karena meningkatnya kemampuan mahasiswa.
Hasilnya menunjukkan inflasi nilai terjadi baik pada program magister maupun doktoral. Namun, fenomena ini lebih kuat terjadi pada program S2 dibandingkan program S3.
Peneliti juga menemukan inflasi nilai tidak terjadi secara merata di semua program studi. Beberapa bidang mengalami peningkatan nilai yang lebih signifikan dibandingkan yang lain.
Namun, peneliti juga menemukan, fenomena ini terjadi pada berbagai bidang, baik STEM maupun non-STEM. Artinya, inflasi nilai tidak hanya terjadi pada jurusan tertentu saja.
"Kami mengetahui banyak hal tentang inflasi nilai pada tingkat sarjana, tetapi hanya sedikit yang diketahui pada tingkat pascasarjana. Kami memperoleh basis data besar dan langka: informasi lebih dari 40.000 mahasiswa pascasarjana selama periode 23 tahun," jelas peneliti.
Inflasi Nilai Meroket Saat Pandemi
Penelitian juga menemukan inflasi nilai paling signifikan terjadi pada periode 2017 hingga 2020. Peneliti menduga perubahan sistem pembelajaran selama pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tren tersebut.
Namun, pada periode 1999 hingga 2016, nilai di beberapa bidang justru sempat mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan tren inflasi nilai tidak selalu konsisten dari waktu ke waktu.
(rhr/twu)











































