Pernah mendengar suara dari dalam tanah? Baru-baru ini tim peneliti memantau kesehatan lingkungan dengan pendekatan ilmu baru, yakni ekoakustik tanah. Peneliti mengungkap suara dari dalam tanah dan mengidentifikasinya. Bagaimana hasilnya?
Dalam studi yang terbit di jurnal Trends in Ecology and Evolution pada 13 Januari 2026, peneliti memakai alat yang bisa menangkap suara dan getaran dari dalam tanah, untuk mendeteksi proses ekologis dengan hampir tidak meninggalkan bekas. Pendekatan ini dinilai dapat mengubah cara manusia dalam menjaga ekosistem di Bumi.
Tanah yang Perlu "Didengar"
Seperti yang diketahui, tanah menjadi pilar penting dalam ekosistem. Namun, kini sekitar 75 persen tanah di bumi telah mengalami kerusakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka itu, para peneliti begitu yakin bahwa cara tersebut efektif dan memudahkan pengelola lahan serta masyarakat untuk memantau perubahan ekosistem.
"Tanah yang sehat menopang ketahanan pangan, penyimpanan karbon, dan ketahanan iklim, namun keanekaragaman hayati di bawah permukaan tanah sangat sulit dipantau," ujar Dr Jake Robinson, salah satu penulis studi, dikutip dari Phys.org, Senin (30/3/2026).
Hasil dari studi ini juga telah membuktikan bahwa ekoakustik mampu berfungsi di hutan tropis, hutan berhutan, lahan pertanian, dan sistem kering. Temuan tersebut menyoroti peluang dan tantangan yang ditimbulkan oleh ekoakustik tanah, sekaligus mendorong adanya standar global dan kerja sama dengan penelitian terbuka.
Dr. Robinson menyebutkan beberapa prosedur yang perlu dijelaskan seperti:
- Bagaimana cara suara untuk merambat di berbagai jenis tanah,
- Bagaimana cara membedakan suara makhluk hidup dan mati di dalam tanah,
- Diperlukannya referensi data yang lebih terpercaya.
"Diperlukan jaringan penelitian ekoakustik tanah global dan prosedur operasi standar sumber terbuka untuk mendorong konsistensi dalam metodologi yang digunakan, yang akan memungkinkan para ilmuwan untuk membandingkan data di berbagai lokasi," tuturnya.
Suara Apa Saja yang Ada di Dalam Tanah?
Pemanfaatan berbagai disiplin ilmu seperti bioakustik, biotremologi, fisika tanah, dan ekologi, memastikan ekoakustik tanah mampu merekam suara-suara yang dihasilkan organisme di dalam tanah.
Suara cacing tanah, larva kumbang, semut, hingga rayap, saat mereka bergerak, makan, dan berkomunikasi dapat direkam. Bahkan sinyal abiotik seperti pergerakan air dan retakan tanah juga ikut tertangkap.
Lanskap suara tanah (soil soundscapes) ini mampu menemukan pergerakan aktif yang terjadi di dalam tanah, serta bagaimana ekosistem merespons gangguan, pemulihan, dan restorasi.
Metode yang digunakan untuk mengukur kesehatan tanah adalah teknik minimal invasif, yakni teknik pembedahan yang hampir tidak meninggalkan jejak. Kelebihannya, pemantauan berbasis suara dari dalam tanah ini juga dapat diterapkan dalam skala besar.
Studi ini menyimpulkan bahwa menggabungkan ekologi, ilmu tanah, dan akustik dapat berfungsi secara efektif dalam pemantauan keanekaragaman hayati serta upaya global untuk mengetahui perubahan ekosistem.
Pendekatan ini menawarkan alat yang ramah lingkungan, serta mudah diaplikasikan untuk memeriksa kehidupan dan kesehatan tanah, sekaligus mendukung upaya restorasi berkelanjutan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































