Fosil 18 Juta Tahun Ditemukan di Mesir, Diduga Leluhur Kera Modern

ADVERTISEMENT

Fosil 18 Juta Tahun Ditemukan di Mesir, Diduga Leluhur Kera Modern

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Minggu, 29 Mar 2026 20:00 WIB
Fragmen rahang dari Masripithecus moghraensis, difoto pada saat penemuan.
Fragmen rahang dari Masripithecus moghraensis, difoto pada saat penemuan. Foto: Profesor Hesham Sallam via Live Science
Jakarta -

Selama ini, diyakini bahwa nenek moyang kera modern berasal dari wilayah Afrika Timur sekitar 25 juta tahun yang lalu. Persebarannya cepat hingga mencapai seluruh Afrika, Eropa, bahkan Asia.

Namun, studi terbaru mengungkap fosil kera yang berusia sekitar dari 18 juta tahun lalu. Para peneliti cukup terkejut atas penemuan fosil pada wilayah yang tak pernah disangka sebelumnya, di bagian Utara Mesir.

"Penemuan fosil kera di wilayah ini sangat signifikan dan agak mengejutkan. Namun, hal ini juga menyoroti betapa tidak lengkapnya gambaran kita selama ini," ujar penulis utama studi sekaligus paleontolog di Mansoura University Shorouq Al-Ashqar, dikutip dari Live Science, Jumat (27/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-Usul Kera Modern

Alih-alih satu garis keturunan dengan jenis kera purba seperti gibbon dan siamang, fosil ini justru lebih mirip dengan kera modern saat ini. Jika dilihat jejak evolusinya, fosil kera purba memang lebih banyak ditemukan di wilayah Afrika Timur bukan di Mesir.

Maka, studi yang terbit di jurnal Science pada tanggal 26 Maret 2026 ini meyakini bahwa wilayah tersebut tempat munculnya leluhur kera modern. Meski tidak lengkap, penemuan sisa-sisa fosil sudah berlangsung sejak tahun 2023 sampai 2024.

ADVERTISEMENT

Tim peneliti berhasil menemukan fragmen tulang rahang bawah dan beberapa buah gigi yang sudah aus. Menurut Al-Ashqar, bagian tersebut cukup akurat untuk memahami sejarah evolusi kera.

"Dalam paleontologi mamalia, anatomi gigi merupakan landasan untuk menafsirkan pola makan dan sejarah evolusi," ucapnya.

Setelah melakukan analisis, para peneliti memastikan bahwa sisa tulang tersebut bukan berasal dari spesies yang sama dengan kera saat ini. Maka dari itu, mereka mengelompokkan fosil tersebut ke dalam genus dan spesies baru.

Spesies yang Baru

Meski awalnya diduga sebagai pendahulu kera modern, fosil tersebut menunjukkan ciri-ciri yang tidak diketahui sebelumnya. Oleh karena itu, para ilmuwan memberi nama baru Masripithecus moghraensis.

Kata "Masripithecus" berasal dari bahasa Arab dan Yunani artinya monyet Mesir atau pengecoh, dan "mogharaensis" diambil dari lokasi penemuannya Wadi Moghra. Selain itu, peneliti juga menganalisis berbagai jenis DNA kera yang masih hidup untuk menemukan posisi M. mograensis dalam pohon evolusi kera.

Hasilnya, spesies baru itu berada sangat dekat dengan nenek moyang kera yang masih hidup. Posisinya berada tepat sebelum pemisahan garis keturunan antara kelompok kera besar serta kera kecil seperti siamang dan gibbon.

Walaupun secara langsung bukan pendahulu kera modern, M. moghraensis memiliki hubungan erat dengan leluhur mereka. Di masa lalu, keduanya pernah hidup dan berkembang biak di tempat yang sama.

"Kemungkinan terbesarnya adalah [ia hidup] di bagian utara daratan Afro-Arabia," ujar salah satu penulis studi dan ahli biologi evolusi di Universitas Southern California di Los Angeles Erik Seiffert.

Masih Perlu Penelitian Lanjutan

Penemuan ini mendapat perhatian dari antropolog biologi di Miquel Crusafont Catalan Institute of Paleontology, Spanyol, Sergio AlmΓ©cija. Ia mengatakan setiap penemuan tentang kera sangatlah penting, apalagi di wilayah yang tak diduga sebelumnya.

Namun, ia mengungkapkan bahwa penemuan ini "agak mengada-ada," yang membuat tidak semua orang setuju. Menurutnya, fosil dari kera tersebut harus ditemukan secara lebih lengkap lagi sebelum memperbaharui gagasan sebelumnya.

Sedangkan menurut seorang paleontolog dari Miquel Crusafont Catalan Institute of Paleontology, David Alba, fosil 17-18 tahun di Afrika Utara tersebut masuk akal dan memenuhi syarat.

Ia memberi contoh saat kera non-manusia ditemukan di Afrika dan Asia Tenggara, tapi fosil menunjukkan mereka juga pernah hidup di Asia Barat. Akan tetapi, data resminya tetap menunjukkan bahwa mereka berasal dari Afrika dan Asia Tenggara.

"Hominoid modern [kera] pasti telah melewati Afro-Arabia timur laut," ujar Alba.

Maka dari itu, penelitian terkait spesies kera yang baru ditemukan ini masih dilanjutkan karena mungkin fosil mereka masih tersimpan di titik lain di Mesir.

"Penelitian lebih lanjut di sana dapat secara signifikan mempertajam pemahaman kita tentang evolusi kera purba," tandas Al-Ashqar.




(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads