Warna Pakaian Ini Bikin Nyamuk Tertarik, Tapi...

ADVERTISEMENT

Warna Pakaian Ini Bikin Nyamuk Tertarik, Tapi...

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 23 Mar 2026 17:00 WIB
Ilustrasi nyamuk penyebab DBD
Foto: Muhajir Arifin/detikJatim
Jakarta -

Warna pakaian manusia rupanya jadi salah satu sinyal bagi nyamuk bahwa ada kita di sekitarnya. Namun, ini bukan faktor satu-satunya nyamuk betina mendekat dan mengisap darah kita.

Peneliti mendapati, kombinasi pakaian dengan warna gelap sekaligus pelepasan karbon dioksida (CO2) yang benar-benar membuat nyamuk tertarik dan mengunci target gigitan. Artinya, saat manusia bernapas dan mengembuskan CO2, nyamuk melihatnya sebagai tanda ada mahkluk hidup untuk diisap darahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekilas, cukup satu faktor pakaian warna gelap saja untuk membuat kita digigit nyamuk. Sebab, manusia pada dasarnya sudah pasti bernapas, kecuali sengaja menahan napas atau meninggal.

Namun, peneliti menjelaskan, temuan bahwa kombinasi faktor warna baju gelap dan faktor pelepasan CO2 tidak sekadar untuk mengingatkan orang agar kurangi pakai baju gelap di daerah rawan nyamuk pembawa penyakit.

ADVERTISEMENT

Mereka menilai, hasil temuan ini bisa digunakan untuk mengembangkan alat perangkap isap nyamuk yang bisa melepaskan CO2 atau punya sumber cahaya konstan.

"Studi kami menunjukkan, menggunakannya secara berkala dan mengaktifkan isap pada interval tertentu, mungkin lebih baik. Sebab, nyamuk cenderung tidak berlama-lama di sekitar targetnya ketika kedua isyarat tersebut (visual dan kimiawi) tidak digunakan secara bersamaan," jelas peneliti Christopher Zuo yang juga mahasiswa S2 Georgia Institute of Technology dilansir dari Science Daily, Senin (23/3/2026).

Menguji Ketertarikan Nyamuk

Hanya nyamuk betina yang mengisap darah manusia. Tujuannya agar dapat bertelur. Sedangkan nyamuk jantan menghisap nektar dan zat manis dari tanaman, demikian dikutip dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS.

Untuk memastikan faktor yang membuat nyamuk betina datang menggigit, peneliti membuat tiga percobaan berbeda.

Bola Hitam, Bola Putih, CO2

Pada percobaan pertama, sebuah bola hitam rupanya menarik nyamuk mendekat, tetapi setelah itu langsung pergi menjauh.

Kemudian, benda hitam diganti dengan benda putih, kemudian ditambahkan CO2. Nyamuk bisa menemukan bola itu, tetapi hanya dalam jarak dekat.

Sementara itu, saat benda hitam dipasang kembali, dan ditambahkan CO2, nyamuk ramai-ramai mengerumuninya dan mencoba mengisap darah.

Pakaian Hitam, Putih, dan Campuran

Zuo lalu menguji perilaku nyamuk itu pada dirinya sendiri. Ia masuk ke ruangan dengan pakaian berbeda-beda: serba hitam, serba putih, dan campuran, lalu berdiri dengan tangan terentang. Ia mengenakan baju panjang, celana panjang, dan penutup kepala.

Berdasarkan analisis pada rekaman pergerakan nyamuk, hasilnya selaras dengan uji coba pada bola. Hewan ini seolah menganggap Zuo hanya objek lain di ruangan uji coba. Saat nyamuk tertarik, mereka paling banyak berkerumun di sekitar kepala dan bahu.

Berdasarkan percobaan mereka, para peneliti mendapati, 20 nyamuk mengubah arah terbang, mempercepat terbang, dan juga melambat, berdasarkan tanda-tanda visual (dalam hal ini warna bola/pakaian), dan CO2.

"Studi sebelumnya menunjukkan bahwa isyarat visual dan karbon dioksida menarik nyamuk. Tapi (dari situ) kami belum tahu bagaimana mereka menggabungkan isyarat-isyarat itu untuk menentukan ke mana arah nyamuk itu terbang," kata Zuo.

Hasil studi ini dipublikasi dengan judul 'Predicting mosquito flight behavior using Bayesian dynamical systems learning' dalam jurnal Science Advance, 18 Maret 2026.




(twu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads