Mayoritas orang mengira bahwa Iran adalah negara Arab karena terletak di Timur Tengah dan merupakan negara Islam. Namun, latar belakang sejarah, bahasa, dan etnis tidak menunjukkan demikian. Lantas, mengapa Iran bukan termasuk negara Arab?
Mengutip NDT World, Iran dalam bahasa kuno berarti "Tanah Bangsa Arya" yang dahulu merupakan Kerajaan Akhemenid, yang didirikan oleh Cyrus Agung pada abad ke-6 SM. Wilayah tersebut membentang dari Lembah Indus hingga Mediterania dan dikenal sebagai kerajaan Persia.
Dunia Persia meliputi kekaisaran Parthia dan Sasaniyah. Kawasan yang terdiri dari negara-negara dengan sistem pemerintahan, arsitektur, ilmu pengetahuan, perdagangan, dan sastra yang membentuk peradaban berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara bangsa Arab berkembang di Semenanjung Arab, yang semakin luas karena masuknya Islam pada abad ke-7 M. Islam di tanah Arab menyatukan suku-suku dan melakukan ekspansi ke sebagian besar wilayah Asia Barat dan Afrika Utara.
Persia Takluk oleh Pasukan Muslim Arab pada Abad ke-7
Persia takluk oleh pasukan Muslim Arab pada abad ke-7 dan Islam mulai mendominasi wilayah tersebut. Meski begitu, identitas dan bahasa Persia justru semakin melekat dan berkembang seiring zaman.
Itulah mengapa meski negara mayoritas muslim, Iran tidak berasal dari etnis yang sama dengan bangsa Arab. Sekitar 60 persen dari total populasinya merupakan keturunan Persia kuno, serta terdapat pula komunitas besar orang Azeri, Kurdi, Lur, dan Baluchi. Hanya sebagian kecil masyarakat di Asia barat daya tersebut yang merupakan orang Arab.
Bahasa Iran: Farsi atau Persia
Perbedaan yang paling mencolok antara Iran dan mayoritas negara Arab terletak pada bahasa yang digunakan. Meski secara aksara mirip tulisan Arab, bahasa yang digunakan di Iran adalah bahasa Persia atau Farsi. Bahasa tersebut termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, seperti bahasa Inggris, Hindi, dan Prancis.
Dalam bahasa Persia juga terdapat huruf yang tidak ada pada ejaan bahasa Arab, seperti "p," "ch," "g," dan "zh." Secara visual, penulisannya memang tampak sama, tapi tetap saja berbeda dari segi makna. Sementara itu, dilansir dari India Today, bahasa Arab masuk ke dalam rumpun bahasa Semit.
Agama di Iran: Zoroastrianisme-Islam Syiah
Perbedaan juga terlihat pada agama yang dianut: Iran Islam Syiah, sedangkan Arab Islam Sunni. Sebelumnya, masyarakat Persia kuno memiliki keyakinan atau agama yang disebut dengan Zoroastrianisme. Agama tersebut merupakan agama monoteistik tertua di dunia.
Unsur-unsur pada agama tersebut masih melekat pada budaya di Iran dan terus berkembang sampai sekarang. Seperti perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz yang digelar pada awal musim semi yang sudah ada berabad-abad sebelum Islam masuk. Jelasnya, budaya tersebut bukanlah budaya yang diadopsi dari bangsa Arab.
Identitas Politik Iran: Bukan Anggota Liga Arab
Status negara Timur Tengah tidak membuat Iran lantas masuk sebagai anggota Liga Arab. Meski letak geografis menyatukan Iran dengan negara-negara Arab, identitas sebagai bangsa Arab tidak dimilikinya.
Meski hubungan Iran dengan negara-negara Arab sudah terjalin selama lebih dari 1.400 tahun, latar belakang sejarah dan etnis tidak mempersatukan mereka. Hal ini serupa dengan Turki yang berada di Asia Barat, tapi tidak termasuk bangsa Arab.
Negara-Negara yang Termasuk Kawasan Timur Tengah
Mengutip Britannica, berikut negara-negara yang termasuk dalam lingkup Timur Tengah:
- Semenanjung Arab: Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
- Levant: Suriah, Lebanon, Israel, Yordania, Tepi Barat dan Jalur Gaza.
- Irak, Turki, Mesir, Siprus
- Asia Tengah dan Selatan: Afghanistan, Pakistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, Kyrgyzstan, Turkmenistan, dan Azerbaijan.
- Afrika Utara: Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Sahara Barat.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
