Jika kita melihat ke langit pada malam yang cerah, kita akan melihat ribuan bintang. Logikanya, jika alam semesta ini tidak terbatas dan dipenuhi oleh bintang di setiap sudutnya, maka ke mana pun mata memandang, kita seharusnya melihat cahaya bintang.
Berdasarkan anggapan tersebut, seharusnya, langit malam akan bersinar terang benderang seperti permukaan Matahari, bintang pusat Tata Surya. Namun, mengapa langit gelap saat malam hari?
Fenomena kebingungan ini dikenal dalam dunia astronomi sebagai Paradoks Olbers, yang diambil dari nama astronom Jerman, Heinrich Wilhelm Olbers, pada 1823. Namun, butuh waktu ratusan tahun bagi para ilmuwan untuk benar-benar memecahkan misteri ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirangkum dari penjelasan ilmiah University of Western Australia dan data kosmologi terkini, berikut adalah alasan-alasan ilmiah mengapa langit malam tetap gelap.
Alasan Ilmiah di Balik Gelapnya Langit Malam
Sederhananya, langit gelap pada malam hari karena Bumi berputar membelakangi Matahari. Karena itu, atmosfer tidak lagi menerima cahaya langsung untuk disebarkan dan ditangkap mata manusia.
Sementara itu, menurut para ahli astrofisika, kegelapan malam bukan sekadar karena Matahari sedang terbenam. Ada keterbatasan-keterbatasan berikut yang membuat langit gelap saat malam hari.
1. Usia Alam Semesta yang Terbatas
Salah satu alasan utama adalah alam semesta tidaklah abadi. Ilmuwan sepakat bahwa alam semesta bermula dari peristiwa Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Karena cahaya membutuhkan waktu untuk merambat, cahaya dari bintang-bintang yang sangat jauh belum memiliki cukup waktu untuk sampai ke Bumi.
Banyak bintang yang cahayanya masih dalam perjalanan menuju manusia di Bumi. Akibatnya, bagian langit tersebut masih terlihat gelap di mata manusia.
2. Ekspansi Alam Semesta (Redshift)
Alam semesta terus meluas ke segala arah dengan kecepatan yang sangat tinggi. Pergerakan ini menyebabkan cahaya dari galaksi yang sangat jauh mengalami fenomena yang disebut pergeseran merah atau redshift.
Saat galaksi menjauh dari Bumi, gelombang cahayanya merenggang menjadi gelombang yang lebih panjang. Cahaya tampak yang seharusnya bisa kita lihat berubah menjadi gelombang inframerah yang tidak kasatmata bagi mata manusia telanjang. Inilah mengapa ruang angkasa terlihat hitam, meski sebenarnya penuh dengan pancaran radiasi.
3. Bintang Tidak Hidup Selamanya
Bintang memiliki siklus hidup. Mereka lahir, bersinar selama jutaan hingga miliaran tahun, lalu mati.
Di alam semesta yang luas ini, tidak semua bintang bersinar di waktu yang bersamaan. Banyak bintang yang sudah padam sebelum cahayanya sempat menerangi seluruh sudut langit malam secara merata.
Sejarah Paradoks Olbers: Pertanyaan yang Mengubah Dunia
Selama lebih dari 200 tahun, pertanyaan "Kenapa langit malam gelap?" dianggap sebagai tantangan besar bagi teori alam semesta yang statis. Dulu, orang percaya bahwa alam semesta itu tidak terbatas dan selalu ada selamanya. Jika itu benar, maka langit seharusnya memang terang benderang.
Namun, keberadaan langit malam yang gelap justru membuktikan bahwa alam semesta itu dinamis, ia memiliki awal (Big Bang) dan terus berkembang. Penulis terkenal Edgar Allan Poe adalah salah satu orang pertama yang secara intuitif memberikan penjelasan dalam esainya 1848, sebelum para ilmuwan modern membuktikannya dengan perhitungan matematika yang rumit.
Poe menyarankan bahwa jarak antar bintang sangat jauh sehingga cahayanya belum sempat menyentuh mata kita. Kini, dengan bantuan teleskop canggih seperti James Webb, kita bisa melihat "kegelapan" itu sebenarnya dipenuhi oleh cahaya inframerah dari galaksi-galaksi purba yang sedang menjauh.
(rhr/twu)











































