Kriteria Menteri Agama Brunei Indonesia Malaysia Singapura (MABIMS) sepakat menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Kriteria ini digunakan pada rukyatul hilal, yaitu pengamatan bulan sabit pertama awal bulan Hijriah.
Hilal atau bulan sabit pertama menunjukkan awal bulan baru tahun Hijriah, termasuk kapan 1 Syawal 1447 H atau hari raya Idul Fitri 2026.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam laman resminya menjelaskan, kriteria MABIMS terbaru disepakati oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021 dan mulai digunakan pada 2022. Sebelumnya, kriteria hilal awal Hijriah adalah ketinggian 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, kenapa tinggi hilal minimal 3 derajat pada rukyatul hilal?
Kenapa Rukyatul Hilal 3 Derajat?
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN dan anggota Tim Falakiyah Kementerian Agama (Kemenag) Prof Dr Thomas Djamaluddin MSc menjelaskan alasan di balik pentingnya penggunaan kriteria MABIMS, yang salah satunya menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat.
Ia menjelaskan, berdasarkan data global dari Ilyas (1994) dan Caldwell dan Laney (2001), tidak ada data rukyatul hilal yang terpercaya saat perbedaan antara tinggi Bulan dan Matahari kurang dari 4 derajat, atau tinggi Bulan kurang dari 3 derajat. Hal ini disebabkan oleh gangguan cahaya senja yang kuat saat mengamati hilal (rukyatul hilal).
Karena itu, pada pembentukan kriteria MABIMS terbaru, para ahli saat itu mengusulkan tinggi Bulan minimal 3 derajat.
"Dalam kriteria MABIMS, ketinggian minimum 3 derajat didasarkan pada data global. Oleh karena itu, hilal di bawah 3 derajat tidak dapat dilihat karena gangguan dari cahaya senja yang kuat," kata Thomas dalam jurnal HTS Theological Studies (2023).
Sementara itu, Thomas menambahkan, elongasi minimum 6,4 derajat didasarkan pada catatan bulan terdekat, seperti yang dilaporkan oleh astronom internasional Mohammad Shawkat Odeh. Elongasi kurang dari 6,4 derajat juga dinilai terlalu tipis dan redup untuk mengalahkan cahaya senja.
"Elongasi minimal 6,4 derajat diperoleh dari kompilasi Odeh terhadap data pengamatan global (2006). Kriteria untuk ketinggian Bulan menggambarkan faktor gangguan senja di cakrawala barat, di mana semakin tinggi bulan, semakin lemah faktor gangguannya," tulis peneliti BRIN dan Institut Agama Islam Khozinatul Ulum Blora, Abdul Mufid dan Thomas dalam studi tersebut.
"Sementara itu, parameter elongasi menggambarkan faktor fisik hilal, di mana semakin besar elongasi, semakin tebal hilalnya," sambungnya.
Rukyatul Hilal dan Hisab
Abdul dan Thomas menjelaskan, menurut studi ilmiah, hisab dan rukyat adalah satu kesatuan yang saling bersinergi. Hisab, atau model untuk menghitung posisi Bulan dan Matahari secara tepat dengan memasukkan koreksi, tidak mungkin dibangun tanpa data yang tepat dari rukyat.
Di samping itu, hisab untuk menentukan awal bulan Islam tidak hanya menghitung posisi Bulan dan Matahari tetapi juga menggunakan kriteria yang benar dan cermat untuk visibilitas hilal. Rukyatul hilal juga digunakan untuk menguji hasil prediksi hisab akan visibilitas hilal.
Dikutip dari laman Kemenag, hilal 1 Syawal 1447 H dipantau di 117 titik, mulai dari Aceh hingga Papua Barat.
"Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatulhilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat," kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad, Senin (16/3/2026).
Berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), pada 29 Ramadan atau Kamis, 19 Maret 2026, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di atas ufuk dengan kisaran antara 0Β°54'27'' hingga 3Β°7'52''. Sementara itu, sudut elongasi hilal berkisar antara 4Β°32'40'' hingga 6Β°06'11''.
Ia menambahkan, seluruh sistem hisab menunjukkan ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Meski demikian, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.
Pada sidang isbat, Tim Hisab Rukyat Kemenag akan memaparkan posisi hilal. Kemudian, perwakilan ahli, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan Islam akan menggelar sidang tertutup untuk membahas hasil rukyatulhilal yang masuk dari berbagai daerah. Hasil sidang isbat rencananya akan diumumkan kepada masyarakat malam ini.
Hasil studi Abdul Mufid dan Thomas Djamaluddin di atas dipublikasi dengan judul "The implementation of new minister of religion of Brunei, Indonesia, Malaysia, and Singapore criteria towards the Hijri calendar unification" dalam jurnal HTS Teologiese Studies/Theological Studies, 30 Juni 2023.
(twu/nwk)











































