Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026 mendatang. Pada waktu ini, umat Hindu dilarang menyalakan api, tidak melakukan pekerjaan, dan keadaan rumah menjadi sepi.
Pelaksanaan Hari Raya Nyepi diawali dengan dua rangkaian upacara adat, yakni Melasti dan Tawur Kesanga. Bagaimana pelaksanaan upacara adat tersebut?
Dirangkum detikEdu dari Jurnal Tampung Penyang: Jurnal Ilmu Agama dan Budaya Hindu. Volume 19. Nomor 2. 2021 karya Ni Wayan Gateri, ini penjelasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upacara Adat Melasti
Upacara Melasti pada dasarnya bertujuan untuk menyucikan arca, pratima, nyasa atau pralingga, seperti Arca Brahma, Wisnu, Siwa, Ganapati, dan diri sendiri. Seluruh arca ini merupakan media yang digunakan untuk memusatkan pikiran dalam memuja Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
Tujuan inti dari upacara Melasti adalah memohon agar mendapatkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam hidup. Upacara Melasti dilaksanakan 3 atau 4 hari sebelum Nyepi.
Pada waktu ini, umat Hindu mengantarkan sesajen ke Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem, dan pura-pura lain yang menjadi milik Desa. Di pura, umat Hindu akan memohon izin kehadapan Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari agar arca diantar ke Bale Agung atau tempat lain yang telah ditentukan.
Sesajen ini dihaturkan oleh para pemangku dan kemudian memohon agar Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari berkenan disucikan ke laut/sumber air suci. Tujuannya agar kekotoran alam dihanyutkan dan menjadikan air tersebut menjadi suci atau Tirtha Amerta.
Di tempat Melasti, Tirta Amerta dipercikkan dahulu kepada Arca, Pratima, Pralingga, dan semua perangkat dan masyarakat yang ikut dalam upacara itu. Setelahnya, umat Hindu akan melakukan sembahyang dan dilanjutkan dengan memohon Tirtha Amerta.
Momen ini juga jadi waktu umat Hindu mulai memantapkan diri untuk merayakan Hari Raya Nyepi. Setelah upacara berakhir, umat Hindu akan menuju Pura Bale Agung dan secara simbolin menstanakan pratima, arca, pralingga-Nya.
Selama proses itu, Umat Hindu wajib mempersembahkan sesajen prani dan Nunas Tirtha Amerta untuk kesejahteraan diri dan alam serta lingkungan.
Upacara Tawur Kesanga
Tawur kesangan juga disebut dengan Upacara Bhuta Yandya. Tujuan upacara ini adalah untuk memohon agar kekuatan alam bergerak secara seimbang dan harmonis.
Ketika hal itu terjadi, kelestarian alam, kesejahteraan, dan keselamatan makhluk hidup dipercayai akan terjadi. Upacara Tawur Kesangan dilaksanakan sehari sebelum Upacara Nyepi.
Kementerian Agama (Kemenag) Bali menjelaskan bila tawur memiliki makna melepas sifat-sifat tamak, serakah, dan sifat jelek lainnya. Secara arti, tawur bermakna mengembalikan atau membayar, dalam hal ini memberikan persembahan kepada alam semesta agar kembali seimbang.
Tawur dilaksanakan berdasarkan wilayahnya, dari provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, banjar, dan rumah masing-masing. Di rumah, keluarga biasanya memberikan tawur/persembahan kepada Sang Hyang Bhuta Kala dan Sang Kala Bela di merajan, halaman meraja, serta pintu masuk halaman rumah.
Tawur diberikan dalam bentuk sesajen seperti yang telah ditentukan. Sesajen ini dilengkapi dengan tirtha tawur (semacam air suci) yang didapatkan dari tawur provinsi, kabupaten, desa, atau banjar.
Setelah memberikan sesajen, dilakukan Upacara Ngerupuk. Upacara Ngerupuk adalah proses berkeliling di halaman rumah sembari membawa obor, bunyi-bunyian, disertai dengan menaburkan nasi tawur.
Prosesi ini dilengkapi dengan berdoa dengan harapan para bhuta kala tidak menggangu kehidupan manusia. Setelah melaksanakan upacara, semua anggota keluarga kecuali yang belum tanggal gigi melakukan penyucian diri dan siap menjalani Nyepi.
Itulah gambaran rangkaian pelaksanaan upacara adat sebelum Hari Raya Nyepi. Selamat menjelang Nyepi detikers yang merayakan!
(det/nah)










































