Manusia Purba Ternyata Sudah Bisa Jahit Baju, Seperti Apa Bentuknya?

ADVERTISEMENT

Manusia Purba Ternyata Sudah Bisa Jahit Baju, Seperti Apa Bentuknya?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Kamis, 19 Mar 2026 10:00 WIB
Artefak di gua-gua AS yang menunjukkan bukti awal pakaian dijahit
Foto: Kredit: Rosencrance dkk., Sci. Adv. 12/Artefak di gua-gua AS yang menunjukkan bukti awal pakaian dijahit
Jakarta -

Sebuah penelitian baru mengungkap artefak menakjubkan dari dua gua di negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Arkeolog menemukan potongan kulit hewan yang dijahit dan jarum tulang purba.

Temuan ini menjadi bukti tertua tentang teknik menjahit yang digunakan manusia purba untuk bertahan hidup di iklim ekstrem sekitar 12.000 tahun lalu. Selain itu, ada juga temuan artefak berupa sepotong kulit rusa yang dijahit, yang menunjukkan bagaimana teknologi pakaian, sudah dilakukan.

Kulit Jahit, Jarum Tulang, dan Tanda Awal "Teknologi Pakaian"

Artefak ini pertama kali digali di sebuah situs pada 1958 oleh arkeolog amatir John Cowles di Cougar Mountain Cave (CMC), lalu disimpan di Favell Museum, Klamath Falls. Setelah puluhan tahun, para arkeolog modern akhirnya meneliti ulang koleksi ini bersama temuan dari Paisley Caves (dua situs penting dari masa Pleistosen Akhir).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Phys,org, penelitian mengungkapkan bahwa dua gua di Oregon menyimpan berbagai benda organik yang jarang bertahan selama ribuan tahun, seperti serat tumbuhan, tali anyaman, potongan kulit rusa dan elk, hingga jarum tulang kecil. Kondisi kering wilayah tersebut membuat bahan-bahan mudah rusak ini terawetkan dengan sangat baik.

Salah satu artefak yang menarik perhatian para peneliti diberi kode CMC21-1, yaitu sepotong kulit yang telah dibersihkan dan dijahit menggunakan tali kecil dari campuran serat tanaman dan rambut hewan. Polanya menunjukkan bahwa bahan itu kemungkinan bagian dari pakaian ketat, alas kaki, atau kantong pembawa.

ADVERTISEMENT

"Kami menafsirkan CMC21-1 sebagai bagian tepi dari pakaian yang dijahit rapat, mungkin sepatu, tas, atau bagian dari tempat berlindung portabel," tulis para peneliti dalam laporannya.

Proses menjahit seperti ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar membungkus tubuh dengan kulit hewan. Jahitan memungkinkan pakaian lebih rapat dan lentur, menjaga tubuh tetap hangat tanpa menghambat gerakan.

Kemampuan tersebut penting bagi manusia purba yang hidup di tengah cuaca dingin ekstrem pada masa Younger Dryas, sekitar 12.600-12.050 tahun lalu.

Bukti Ketangguhan dan Kecerdikan Manusia Purba

Peneliti mencatat bahwa artefak berjahit pada masa itu menjadi bukti penting dari inovasi manusia menghadapi berbagai tantangan, salah satunya perubahan iklim. Saat mantel kulit sederhana tak lagi cukup melawan dingin, kemampuan menjahit menjadi langkah evolusi teknologi untuk bertahan hidup.

Menariknya, setelah periode tersebut berakhir dan memasuki era Holosen yang lebih hangat, jarum tulang menjadi semakin jarang ditemukan. Ini menandakan bahwa kebutuhan akan pakaian berlapis mulai berkurang, sementara teknologi tekstil berbasis serat mulai berkembang.

"Tidak pernah ada jarum tulang bermata yang ditemukan dari situs berusia Holosen di wilayah ini," tulis tim peneliti.

"Hal ini menunjukkan bahwa seiring meningkatnya industri serat, kebutuhan menjahit pakaian ketat menurun," tambahnya.

Temuan ini memberikan gambaran kehidupan manusia ribuan tahun lalu sekaligus menyoroti bagaimana kreativitas dan ketahanan manusia selalu menjadi kunci bertahan di lingkungan paling keras.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan di jurnal Science Advances dengan judul "Complex perishable technologies from the North American Great Basin reveal specialized Late Pleistocene adaptations", pada 4 Februari 2026.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads