Studi: Influencer Tingkatkan Hoaks dan Lingkungan Toksik, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Studi: Influencer Tingkatkan Hoaks dan Lingkungan Toksik, Ini Alasannya

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Minggu, 15 Mar 2026 19:00 WIB
Social networking service concept. Influencer marketing.
Foto: Getty Images/iStockphoto/metamorworks/Ilustrasi influencer
Jakarta -

Influencer atau pemengaruh di media sosial banyak menjadi tren bagi generasi muda. Padahal, studi dari Inggris menyebutkan bahwa influencer justru berkontribusi dalam menyebarnya informasi yang salah atau hoaks.

Dalam studi yang terbit di jurnal Psychology & Marketing pada 19 Januari 2026, peneliti menemukan bahwa popularitas influencer menimbulkan risiko baru, yaitu potensi menyesatkan informasi tertentu. Di sisi lain, influencer juga membawa lingkungan toksik atau negatif terutama saat membahas isu sosial-politik.

"Kita tahu bahwa influencer media sosial sering kali memiliki pengikut yang sangat banyak yang dapat sangat bermanfaat bagi merek yang ingin meningkatkan penjualan. Penelitian ini menunjukkan dampak negatif dari apa yang terjadi ketika influencer memutuskan untuk mendukung atau menyebarkan informasi yang salah," kata Dr Giandomenico Di Domenico, penulis utama studi, dikutip dari Phys.org.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Influencer Mendapat Keuntungan Jika Banyak Like dan Komentar

Sederhananya, apa yang ditemukan oleh studi yaitu fakta bahwa ketika influencer membawa topik tertentu, maka akan diikuti oleh narasi saling serang di kolom komentar. Hal tersebut, oleh para peneliti, disebut sebagai lingkungan negatif atau toksik.

Belum lagi, menurut penelitian, sering kali saling serang di media sosial justru menyebarkan informasi yang salah. Sementara bagi influencer, meningkatkan komentar bisa menguntungkan profilnya.

ADVERTISEMENT

"Para influencer memiliki insentif yang justru sebaliknya karena keuntungan mereka meningkat seiring dengan meningkatnya keterlibatan," kata peneliti.

"Temuan kami menunjukkan bahwa influencer menghasilkan lebih banyak toksisitas daripada pengguna biasa, menyebarkan konten dalam kondisi yang sama yang meningkatkan visibilitas dan pengaruh mereka," lanjut Di Domenico.

Tantangan untuk Membujuk Influencer agar Lebih Bertanggung Jawab

Sayangnya, dunia marketing atau pemasaran saat ini banyak bergantung pada influencer. Ini artinya, kehadiran influencer akan terus dibutuhkan oleh pasar meski memicu lingkungan toksik.

Menurut peneliti, menjadi tantangan tersendiri, jika pola baru harus bisa membujuk agar influencer lebih bertanggung jawab dalam unggahan mereka. Karena, para influencer telah mendapatkan keuntungan dari banyaknya like dan komentar yang datang.

"Mereka memiliki insentif untuk mempertahankan tingkat keterlibatan yang tinggi, berbagi konten yang memecah belah, mempolarisasi, dan membangkitkan emosi, seperti informasi yang salah, mungkin merupakan strategi bisnis yang jelas," papar Di Domenico.

Cara Influencer Memperkuat Misinformasi

Peneliti menemukan dua mekanisme yang membuat misinformasi dari influencer lebih kuat menyebar.

- Legitimation (pemberian legitimasi)

Ketika influencer membicarakan sebuah klaim atau teori, banyak pengikut menganggap informasi itu lebih kredibel karena datang dari figur yang mereka percayai.

- Community enmeshment (dukungan komunitas)

Komunitas pengikut influencer sering kali ikut membela atau menyebarkan klaim tersebut, bahkan tanpa memeriksa kebenarannya.

Ketika dua faktor ini muncul bersamaan, misinformasi dapat berubah menjadi "echo chamber" beracun, yaitu situasi di mana informasi yang sama terus berulang di dalam komunitas dan membuat orang semakin yakin bahwa hal tersebut benar.

Peneliti juga menyoroti contoh pada awal 2025 ketika beberapa influencer di TikTok menyebarkan klaim bahwa merek mewah seperti Hermès, Louis Vuitton, dan Chanel sebenarnya memproduksi barang di pabrik China tetapi memasarkan produknya sebagai buatan Prancis atau Italia. Video tersebut mendapat jutaan penonton meski tidak disertai bukti yang jelas.

Menurut peneliti, fenomena ini menunjukkan bahwa semakin besar pengaruh influencer, semakin besar pula risiko penyebaran misinformasi dan konflik di media sosial.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads