Ini 3 Kebiasaan yang Dimiliki Orang Cerdas dalam Berpikir, Kamu Punya?

ADVERTISEMENT

Ini 3 Kebiasaan yang Dimiliki Orang Cerdas dalam Berpikir, Kamu Punya?

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Selasa, 10 Mar 2026 10:00 WIB
Young woman relaxing at a cafe, holding a smartphone, interacting with digital content while sipping a hot chocolate
Foto: Getty Images/WeBond Creations/Ilustrasi orang cerdas
Jakarta -

Kecerdasan seseorang kerap dikaitkan dengan kecepatan merespons sesuatu dan memiliki pendapat yang kuat. Namun, psikolog menyebut, orang cerdas justru tidak selalu bertindak cepat dan tegas. Kenapa?

Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Mark Travers, PhD, telah mengamati banyak orang dengan kemampuan kognitif tinggi. Mereka kerap disalahpahami sikapnya karena berbeda dari anggapan kebiasaan orang cerdas selama ini.

Sebaliknya, orang cerdas justru lebih banyak berpikir, juga sempat bimbang. Banyak orang mengira itu pertanda bahwa orang itu tidak cerdas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Padahal sebenarnya hal itu mencerminkan proses kognitif yang lebih dalam," katanya, dikutip dari Psychology Today.

Travers menjelaskan, ada ciri khusus bagaimana orang cerdas biasanya berpikir. Apa saja?

ADVERTISEMENT

3 Kebiasaan yang Dimiliki Orang Cerdas dalam Berpikir

1. Mengulang Percakapan

Mayoritas orang cerdas akan mengulangi sebuah percakapan yang sedang mereka pikirkan. Proses tersebut bertujuan untuk membayangkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi kemudian hari. Kebiasaan ini ternyata bentuk fungsi dari simulasi mental tingkat lanjut.

Sebuah studi menunjukkan bahwa, kecerdasan fluid atau kemampuan berpikir logis dapat memproses berbagai skenario "bagaimana jika". Manfaatnya, seseorang mampu mengidentifikasi bahaya tersembunyi, dan merencanakan tindakan mereka.

"Cara berpikir ini membutuhkan banyak memori kerja, karena otak tengah bekerja keras menguji setiap kemungkinan yang ada di kepala," ujar Travers.

Itulah mengapa orang cerdas kerap larut dalam pemikirannya sendiri, bahkan saat sendirian atau dianggap melamun.

Dalam kondisi simulasi mental, cara tersebut justru melatih kemampuan analitis seseorang. Meski tampak sama-sama diam dan melamun, proses kognisi pada maladaptif dan simulasi mental berbeda.

2. Nyaman dengan Dua Ide yang Saling Berlawanan

Tidak semua orang dapat bertahan dengan dua pemikiran di kepalanya, bahkan yang bertolak belakang sekaligus. Namun, itu adalah hal yang biasa bagi kebanyakan orang cerdas.

Saat orang lain berusaha memecahkan dan menyederhanakan ketidaknyamanan yang bertentangan, orang cerdas justru nyaman dengan hal tersebut dalam waktu yang lama. Orang dengan kemampuan kognitif yang tinggi, mampu menilai berbagai perspektif secara bersamaan dengan valid.

Mereka tidak langsung mengambil keputusan, pemikiran mereka akan membiarkan perspektif berbeda tetap hidup berdampingan. Itulah mengapa, orang cerdas biasanya lebih lama untuk memutuskan sesuatu.

Studi pada tahun 2023 menunjukkan orang dengan IQ tinggi cenderung nyaman dengan kondisi yang penuh dengan ketidakpastian, dan lebih toleransi terhadap perubahan. Itu karena, mereka menganggap kerumitan yang dihadapi bukan sebuah ancaman.

"Dari sisi psikologis, kemampuan mempertahankan kontradiksi tanpa runtuh justru ciri pemikiran yang canggih. Perilaku ini menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan mencari informasi akurat," ungkap Travers.

3. Tidak Tergesa-gesa Saat Menjawab, Meski Sudah Tahu Jawabannya

Kecepatan seseorang dalam menjawab dan merespons pertanyaan biasanya dijadikan sebagai indikator kecerdasan. Namun, kecerdasan sejati tidak berpaku pada kecepatan, tapi lebih pada pengendalian diri.

Dalam teori kognisi proses ganda, otak manusia memiliki dua mode berpikir yakni cepat dan intuitif, serta lambat dan analitis. Meski keduanya kerap digunakan, orang cerdas lebih memilih untuk menahan respon spontan berupa jawaban yang mungkin keliru.

Sebuah studi pada 2022, menunjukkan seseorang dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi cenderung menahan intuisi awal dan bertahan pada pemikiran yang kompleks. Orang cerdas biasanya lebih peka terhadap potensi kesalahan, sehingga mereka akan memperlambat respon demi keakuratan.

Meski terlihat lebih lambat dari yang lain, sikap ini justru menahan diri dari jawaban yang tidak matang. Orang dengan tingkat kognisi tinggi lebih mengutamakan ketepatan dibanding kecepatan.

Nah, dari kebiasaan-kebiasaan di atas, adakah yang detikers biasa lakukan?

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads