Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan prediksi cuaca dan iklim selama periode Idulfitri 1447 H. Bagaimana cuaca Lebaran 2026, apakah panas atau hujan?
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyebut saat ini Indonesia masih ada di periode musim hujan. Potensi curah hujan tinggi hingga banjir rob masih mengintai.
Faisal menyebut cuaca Lebaran 2026 akan dipengaruhi oleh berbagai fenomena seperti masih aktifnya Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, dan bibit siklon tropis.
"Yang pertama perlu kami sampaikan bahwa saat ini kita masih berada di puncak musim hujan pada Januari-Februari, kemudian akan melandai. Namun hujan dengan intensitas tinggi ini masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia," katanya dikutip dari laman BMKG, Jumat (20/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prediksi Cuaca Lebaran 2026: Hujan Lebat di Daerah-daerah Ini
Pada masa Lebaran, ada tradisi masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman atau mudik. Perlu diperhatikan, pada periode mudik Lebaran, beberapa daerah diprediksi punya potensi curah hujan tinggi.
Daerah yang masih dalam kategori berpotensi hujan lebat selama Februari 2026 yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Sementara pada puncak Lebaran 2026 yakni sekitar Maret, hujan dengan curah menengah hingga tinggi berpotensi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.
Curah Hujan Meningkat pada Periode Ini
Faisal juga mengingatkan adanya potensi peningkatan curah hujan pada minggu ke-4 Februari hingga minggu ke-2 Maret 2026.
Berikut perkiraan BMKG tentang cuaca selama Maret 2026:
- 1-10 Maret 2026: Hujan ringan hingga sedang masih dominan, dengan peluang hujan lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Papua Tengah, dan Papua.
- 11-20 Maret dan 21-30 Maret 2026: Cuaca didominasi hujan ringan hingga sedang.
Ada Pembentukan Awan Cumulonimbus
Masih pada Maret 2026, BMKG mengingatkan potensi tumbuhnya awan Cumulonimbus (CB). Awan ini perlu diwaspadai di daerah Sumatera Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua hingga Pasifik Utara.
Keberadaannya dapat berpengaruh pada turbulensi selama penerbangan, badai guntur, wind gust (embusan angin kencang mendadak), hingga wind shear di sekitar area bandara.
Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG dalam unggahan @aviationbmkg menjelaskan, wind shear adalah perubahan mendadak kecepatan atau arah angin dalam jarak sangat pendek, baik horizontal maupun vertikal.
Fenomena ini dapat mengubah kecepatan udara, ketinggian, gaya angkat, dan sumbu rotasi pesawat (pitch) secara mendadak. Wind shear berisiko menyebabkan pendaratan keras, pesawat tergelincir dari landasan, atau kecelakaan serius dalam kasus yang parah.
Banjir Rob di Wilayah Pesisir
Pada 19 Maret 2026, akan terjadi fenomena bulan baru. Kemudian pada 22 Maret, Bulan memasuki fase perigee.
Pada fase perigee Bulan, masyarakat wilayah pesisir perlu waspada dengan potensi banjir rob. Air laut bisa mengalami pasang yang cukup tinggi.
Meski demikian, Faisal menegaskan prediksi ini masih bisa berubah seiring dengan pembaruan analisis. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk memantau secara berkala informasi dari media sosial atau website BMKG.
(cyu/twu)











































