Selama beberapa tahun terakhir, kelompok ahli biologi dari Schmidt Ocean Institute berhasil menemukan sebanyak 28 spesies hewan laut langka. Mereka menemukan hewan-hewan tersebut di dalam laut Samudra Atlantik Selatan.
Mulanya, mereka datang untuk meneliti area laut yang mengandung metana dan emisi kimia. Namun, saat melihat zona rembesan aktif mereka terkejut dengan kehadiran banyak spesies tersebut.
"Kami tidak menyangka akan melihat tingkat keanekaragaman hayati seperti ini di laut dalam Argentina, dan sangat gembira melihatnya dipenuhi kehidupan," kata kepala ilmuwan ekspedisi MarΓa Emilia Bravo dikutip dari Popular Science, Jumat (6/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temukan Siput Laut hingga Landak Laut Baru
Bravo dan tim menemukan sebanyak 28 spesies baru. Mulai dari anemon, cacing, landak laut, hingga siput laut.
Hewan-hewan tersebut banyak yang bersembunyi di balik terumbu karang Bathelia candida. Bahkan koloni di sekitarnya memenuhi area yang hampir seukuran Kota Vatikan.
"Melihat semua keanekaragaman hayati, fungsi ekosistem, dan konektivitas yang terungkap bersamaan sungguh luar biasa. Kami membuka jendela ke keanekaragaman hayati negara kami hanya untuk menemukan bahwa masih banyak jendela lain yang belum dibuka," kata Bravo.
Ada Ubur-ubur Hantu dan Gurita Langka
Temuan yang menarik oleh Bravo dan tim adalah ubur-ubur hantu (Stygiomedusa gigantea). Ubur-ubur tersebut merupakan jenis yang langka.
Selain itu, mereka melihat bangkai seekor paus yang panjangnya mencapai 2,3 mil di bawah permukaan laut. Tulang-tulangnya menjadi habitat bagi para hiu dan hewan lain.
Potensi Penemuan Spesies Lain Masih Mungkin
Bravo menyebut kemungkinan masih ada lebih dari 100 spesies baru yang potensial ditemukan di lepas pantai tersebut. Belum ditambah dengan spesies yang mungkin ada di lepas pantai lainnya.
"Dengan setiap ekspedisi ke laut dalam, kita menemukan bahwa lautan penuh dengan kehidupan sebanyak yang kita lihat di darat, dan mungkin lebih banyak lagi karena lautan mengandung 98 persen ruang hidup di planet ini," tambah direktur eksekutif Schmidt Ocean Institute, Jyotika Virmani.
Sayangnya, para peneliti juga menemukan banyak kantong sampah dan jaring ikan di sana. Mereka mengumpulkannya untuk menjadi untuk diteliti lebih lanjut.
"Kami mengumpulkan sejumlah besar sampel kimia, fisik, dan biologis yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang akan digunakan untuk memahami keterkaitan di perairan kita selama bertahun-tahun mendatang," kata ahli biologi kelautan Institut Argentino de OceanografΓa, Melisa FernΓ‘ndez Severini.
Sampel tersebut akan digunakan untuk mengungkap ekosistem tersebut dan memetakan kerentanan wilayah. Ini menjadi penting mengingat banyaknya spesies hewan laut langka di sana.
(cyu/faz)











































