Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan kemunculan siklon tropis. Namun menurut teori, siklon tidak bisa terjadi di wilayah khatulistiwa.
Kemunculan siklon berkaitan dengan gaya coriolis atau gaya yang timbul akibat rotasi Bumi. Semakin jauh dari khatulistiwa, gaya Coriolis semakin besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada garis khatulistiwa, gaya Coriolis bernilai nol. Itulah sebabnya siklon dan fenomena rotasi fluida lainnya sangat jarang terbentuk di sekitar khatulistiwa
Namun dalam kasus kali ini, siklon terjadi di lautan sempit yakni Selat Malaka. Sementara umumnya, siklon terbentuk di wilayah laut yang luas. Siklon juga terbentuk di wilayah khatulistiwa.
Prof Eddy Hermawan selaku Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN membenarkan Indonesia terbebas dari tornado seperti yang terjadi di Belahan Bumi Utara. Namun Indonesia tidak terbebas dari angin monsoon/monsun/muson Asia.
"Indonesia tidak bebas dari serangan monsoon Asia yang diperkuat nanti tropical cyclone yang terjadi di Australia," ujarnya dalam Media Lounge Discussion: Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Siklon yang menimpa wilayah Sumatera pada akhir Desember lalu akibat tidak ada wilayah tempat siklon tersebut bisa melepaskan diri. Siklon Senyar itu terhimpit siklon dari Bangladesh dan Filipina.
Eddy berpesan kepada masyarakat untuk memahami mekanisme siklon tropis. Baik dari perpasuan angin, gelombang Kelvin, gelombang Rossby, dan fenomena atmosfer lainnya.
"Bikin sistem peringatan dini, yang tepat waktu, tepat sasaran, localized," pesan Eddy.
(nir/nwk)











































