Mengapa Harga Emas Bisa Meroket? Ini Penjelasan Dosen Ekonomi

ADVERTISEMENT

Mengapa Harga Emas Bisa Meroket? Ini Penjelasan Dosen Ekonomi

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 03 Feb 2026 09:30 WIB
Mengapa Harga Emas Bisa Meroket? Ini Penjelasan Dosen Ekonomi
Ilustrasi Harga Emas. (Foto: Vecteezy/graphicsstudio)
Jakarta -

Harga emas ramai dibahas lantaran mencapai rekor terbaru Rp3,003 juta per gram pada Rabu (28/1). Apa penyebabnya?

Sebelumnya, harga emas setahun yang lalu atau 1 Januari 2025 berada di angka Rp1,506 juta per gram. Kemudian tahun 2025 ditutup dengan harga emas di angka Rp2,537 juta per gram, demikian seperti diumumkan oleh Pegadaian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah satu bulan, harga emas telah melompat jauh dengan selisih hampir Rp500 ribu ke angka Rp3,003 juta per gram.

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho, PhD, mengatakan meroketnya harga emas bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Namun salah satunya adalah kondisi politik global.

ADVERTISEMENT

Penyebab Kenaikan Harga Emas

Wisnu menyampaikan kenaikan harga emas disebabkan oleh kebijakan The Fed dan dolar yang melemah. Pasar memperkirakan penurunan suku bunga AS, yang melemahkan dolar dan sekaligus meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven atau aset aman.

Selain itu, situasi global yang tidak stabil mulai dari ketegangan militer hingga sanksi ekonomi menjadi pemicu permintaan emas karena dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik.

Faktor lain adalah permintaan dari Bank Sentral & Exchange Traded Fund (ETF). Bank-bank sentral di negara berkembang secara aktif menambah cadangan emas. Sementara investor institusi semakin agresif membeli emas melalui ETF.

"Inflasi dan ketidakpastian pasar saham membuat emas menjadi pilihan utama sebagai pelindung nilai jangka panjang", jelas Wisnu dalam laman UGM dikutip Sabtu (31/1/2026).

Tren Kenaikan Harga Emas akan Berlanjut

Apabila kondisi ekonomi dan politik global belum stabil, ekonom UGM tersebut memperkirakan tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut. Kendati demikian, penguatan dolar atau kenaikan suku bunga AS secara signifikan berpotensi menekan harga emas.

Wisnu menyebutkan gejolak politik dan ekonomi global mendorong masyarakat untuk memperkuat portofolio melalui aset yang lebih stabil seperti emas.

"Banyak masyarakat yang membeli emas juga salah satu bentuk respon dari kebijakan moneter yang terjadi. Investor mencari aset yang aman dari volatilitas," ucapnya.




(nir/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads