Suasana haru menyelimuti Kebun Binatang Ueno di Tokyo ketika ribuan pengunjung datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dua panda kembar Xiao Xiao dan Lei Lei. Keduanya akan dikembalikan ke Tiongkok pada akhir Januari 2026, yang menandai berakhirnya kehadiran panda di Jepang untuk pertama kalinya dalam setengah abad.
Dilansir oleh Reuters dan Associated Press, kepergian panda-panda ini terjadi di tengah hubungan diplomatik Jepang dan Tiongkok yang sedang tegang. Untuk banyak orang Jepang, kepergian mereka bukan sekadar kehilangan hewan lucu, tetapi menandakan simbol meredupnya 'diplomasi panda' yang sudah berlangsung sejak 1972.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuan Orang Antre Perpisahan dengan Panda
Para pengunjung memadati area si panda di Kebun Binatang Ueno, Tokyo, Minggu (25/1/2026). Foto: REUTERS/Issei Kato |
Kebun Binatang Ueno dipenuhi pengunjung yang ingin melihat Xiao Xiao dan Lei Lei untuk terakhir kalinya. Ribuan orang mendaftar undian tiket perpisahan, dengan setiap pemenang hanya diberi waktu satu menit untuk melihat si kembar berusia empat tahun itu.
Bagi banyak warga Jepang, panda adalah hewan sekaligus teman yang memberikan semangat di tengah kesibukan hidup. Salah satu pengunjung, Machiko Seki, 54 tahun, yang bekerja di sektor keuangan, mengatakan kepada Reuters bahwa panda memberikan energi positif padanya.
"Panda telah memberikan saya begitu banyak energi, keberanian, penyembuhan. Saya ingin datang hari ini untuk menyampaikan rasa terima kasih saya," ujar Seki.
Para pengunjung berbondong-bondong ke Kebun Binatang Ueno satu hari setelah pengumuman pengembalian kedua panda sejak 16 Desember 2025. Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon |
Menurut Katsuhiro Miyamoto, profesor ilmu ekonomi di Universitas Kansai, ketiadaan panda di kebun binatang ini akan berdampak besar secara ekonomi. Diperkirakan, kerugian mencapai sekitar 20 miliar yen atau sekitar Rp 2,18 triliun per tahun.
"Jika situasi ini terus berlanjut selama beberapa tahun, dampak ekonomi negatif akibat tidak adanya panda diperkirakan mencapai puluhan miliar yen," ujar Miyamoto
Sebagai pecinta panda, Miyamoto juga berharap panda dapat kembali ke Jepang secepatnya. Hal ini mungkin juga dirasakan oleh pecinta panda yang hadir di Kebun Binatang Ueno saat itu.
"Bagi pecinta panda di Jepang, termasuk saya sendiri, saya berharap mereka bisa kembali secepatnya," ujarnya.
Warga datang bersama anak untuk melihat langsung Xiao Xiao dan Lei Lei terakhir kalinya di Kebun Binatang Ueno, Tokyo. Foto: REUTERS/Issei Kato |
Diplomasi Panda yang Mendingin
Kehadiran panda di Jepang sebenarnya bermula dari 'diplomasi panda' pada 1972. Saat itu, China menghadiahkan sepasang panda Kang Kang dan Lan Lan untuk menandai normalisasi hubungan diplomatik kedua negara.
Sejak itu, Jepang selalu memiliki panda di kebun binatangnya. Negara ini bahkan sempat mengalami booming panda nasional.
Namun, sejak 1984, kebijakan China berubah. Panda tak lagi diberikan sebagai hadiah, melainkan dipinjam dengan hak kepemilikan tetap berada di tangan China, termasuk anak-anak panda yang lahir di luar negeri. Xiao Xiao dan Lei Lei sendiri lahir di Kebun Binatang Ueno pada 2021.
Dalam beberapa bulan terakhir, hubungan Jepang-Tiongkok kembali memanas, terutama setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyebut bahwa serangan Tiongkok ke Taiwan bisa memicu respons militer dari Jepang.
Pernyataan itu menuai kecaman dari Beijing. Isu panda ikut disorot sebagai simbol hubungan yang merenggang.
Ketika ditanya soal kemungkinan China mengirim panda pengganti, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, memberikan jawaban diplomatis.
Lei-lei di Kebun Binatang Ueno, Tokyo. Foto: REUTERS/Issei Kato |
Ia menyampaikan, masyarakat Jepang yang rindu panda bisa datang langsung ke China untuk melihatnya.
"Saya tahu panda raksasa sangat dicintai oleh banyak orang di Jepang, dan kami menyambut teman-teman Jepang untuk datang mengunjungi mereka di China," ujarnya.




