- Faktor Cuaca Sepekan ke Depan
- Prediksi Cuaca 27-29 Januari 2029 Hujan Sangat Lebat-Hujan Ekstrem (Awas) Hujan Lebat-Sangat Lebat (Siaga) Hujan Sedang Angin Kencang
- Prediksi Cuaca 29 Januari - 1 Februari 2026 Hujan Lebat-Sangat Lebat (Siaga) Hujan Sedang (Waspada) Angin Kencang
- Prediksi Cuaca Jabodetabek 27 Januari - 2 Februari 2026
- Cuaca Jabodetabek 27-28 Januari 2026 Hujan Lebat Hujan Sedang
- Cuaca Jabodetabek 28-29 Januari 2026 Hujan Sedang
- Cuaca Jabodetabek 29-30 Januari 2026 Hujan Lebat Hujan Sedang
- Cuaca Jabodetabek 30-31 Januari 2026 Hujan sedang Hujan Ringan
- Cuaca Jabodetabek 31 Januari - 1 Februari 2026 Hujan Sedang Hujan Ringan
- Cuaca Jabodetabek 1-2 Februari 2026 Hujan Sedang Hujan Ringan
- Penyebab Hujan Ekstrem 23-26 Januari 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan potensi cuaca masih signifikan di wilayah RI. Perkiraan ini menyusul hujan lebat dan hujan ekstrem di Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan pada 23-26 Januari 2026 kemarin.
BMKG dalam unggahan Instagram resminya mengimbau warga untuk tetap waspada. Di samping itu, warga diminta melakukan langkah-langkah untuk mengurangi risiko dampak bencana akibat cuaca ekstrem bagi diri sendiri, diri, keluarga, dan lingkungan, termasuk banjir, genangan, banjir bandang, dan longsor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor Cuaca Sepekan ke Depan
Kedeputian Bidang Meteorologi, Direktorat Meteorologi Publik BMKG menjelaskan, cuaca sepekan ke depan di antaranya dipengaruhi El NiΓ±o-Southern Oscillation (ENSO) menguat pada fase negatif. Sistem iklim dari perubahan pola suhu permukaan Samudra Pasifik ini memengaruhi curah hujan, suhu, dan pola cuaca global.
Kondisi ENSO saat ini menandakan suhu muka laut di Pasifik timur dan tengah menjadi lebih dingin dari normalnya, yang disebut fenomena La NiΓ±a, dalam intensitas. Keberadaan La NiΓ±a lemah berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang bisa memicu terbentuknya awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur.
Sementara itu, aktivitas monsun Asia diperkirakan masih muncul hingga 10 hari pertama Februari 2026. Aktivitas ini salah satunya memicu hujan ekstrem pada 23-26 Januari lalu di Jakarta.
Cuaca sepekan ke depan juga akan dipengaruhi fenomena aliran angin dari Laut Cina Selatan yang melintasi garis khatulistiwa, Cross Equatorial Northerly Surge (CENS). Faktor lainnya yaitu daerah tekanan rendah yang berpotensi terbentuk di Samudera Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, dan daratan Australia barat laut, sehingga membentuk daerah perlambatan kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian selatan.
Prediksi Cuaca 27-29 Januari 2029
Hujan Sangat Lebat-Hujan Ekstrem (Awas)
- Jawa Barat
Hujan Lebat-Sangat Lebat (Siaga)
Bengkulu
Banten
Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Hujan Sedang
Sumatera Barat
Jambi
Sumatra Selatan
Kepulauan Bangka Belitung
Bengkulu
Lampung
Banten
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Tengah Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Kalimantan Selatan
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Maluku Utara
Maluku
Papua Barat Daya
Papua Barat
Papua Tengah
Papua Pegunungan.
Angin Kencang
Bali
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Kalimantan Barat
Prediksi Cuaca 29 Januari - 1 Februari 2026
Hujan Lebat-Sangat Lebat (Siaga)
Sumatera Barat
Jawa Timur
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Sulawesi Selatan
Papua Pegunungan.
Hujan Sedang (Waspada)
Sumatera Barat
Jambi
Sumatera Selatan
Kepulauan Bangka Belitung
Bengkulu
Lampung
Banten
Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
Kalimantan Utara
Kalimantan Selatan
Sulawesi Utara
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Maluku Utara
Papua Barat Daya
Papua Tengah
Papua Pegunungan
Papua.
Angin Kencang
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Selatan
Maluku
Papua Barat Daya.
Prediksi Cuaca Jabodetabek 27 Januari - 2 Februari 2026
Berikut prediksi cuaca Jabodetabek per pukul 07.00 WIB hingga 07.00 WIB keesokan harinya.
Cuaca Jabodetabek 27-28 Januari 2026
Hujan Lebat
Jakarta Pusat
Jakarta Barat
Jakarta Timur
Jakarta Utara
Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bogor
Kota Tangerang
Kabupaten Tangerang
Hujan Sedang
Jakarta Selatan
Kepulauan Seribu
Kota Bekasi
Kota Depok
Kota Tangerang Selatan
Kota Bogor
Cuaca Jabodetabek 28-29 Januari 2026
Hujan Lebat
Jakarta Selatan
Jakarta Timur
Kota Bekasi
Kota Depok
Kota Tangerang
Kota Tangerang Selatan
Hujan Sedang
Jakarta Pusat
Jakarta Barat
Jakarta Utara
Kepulauan Seribu
Kabupaten Bekasi
Kabupaten Bogor
Kota Bogor
Kabupaten Tangerang
Cuaca Jabodetabek 29-30 Januari 2026
Hujan Lebat
Kabupaten Tangerang
Hujan Sedang
DKI Jakarta
Kota Bekasi
Kabupaten Bekasi
Kota Depok
Kabupaten Bogor
Kota Bogor
Kota Tangerang
Kota Tangerang Selatan
Cuaca Jabodetabek 30-31 Januari 2026
Hujan sedang
Jakarta Selatan
Jakarta Timur
Kabupaten Bekasi
Kota Bekasi
Kabupaten Bogor
Kota Depok
Kota Tangerang Selatan
Hujan Ringan
Jakarta Pusat
Jakarta Barat
Jakarta Utara
Kepulauan Seribu
Kota Bogor
Kota Tangerang
Kabupaten Tangerang
Cuaca Jabodetabek 31 Januari - 1 Februari 2026
Hujan Sedang
Jakarta Barat
Jakarta Selatan
Kepulauan Seribu
Kota Tangerang
Kabupaten Tangerang
Kota Tangerang Selatan
Kabupaten Bogor
Kabupaten Bekasi
Kota Depok
Hujan Ringan
Jakarta Pusat
Jakarta Timur
Jakarta Utara
Kota Bekasi
Kota Bogor
Cuaca Jabodetabek 1-2 Februari 2026
Hujan Sedang
Jakarta Barat
Jakarta Utara
Kepulauan Seribu
Kabupaten Bogor
Kota Tangerang
Kabupaten Tangerang
Hujan Ringan
Jakarta Pusat
Jakarta Selatan
Jakarta Timur
Kabupaten Bekasi
Kota Bekasi
Kota Depok
Kota Bogor
Kota Tangsel
Penyebab Hujan Ekstrem 23-26 Januari 2026
Sementara itu, cuaca ekstrem sepekan terakhir antara lain dipengaruhi aktivitas Monsun Asia. Pada fenomena ini, kecepatan angin meningkat di Laut Cina Selatan, sementara massa udara dari Asia bergerak ke arah selatan dan memasuki wilayah Indonesia.
Berdasarkan temuan di Laut China Selatan dan Selat Karimata, hal tersebut membentuk pola awan memanjang karena pertemuan dua massa udara atau konvergensi antartropis (InterTropical Convergence Zone_ITCZ) dari wilayah Samudra Hindia barat Bengkulu, Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Laut Arafura.
Sedangkan siklon tropis Luana TC melemah menjadi Pusat Tekanan Rendah. Kondisi ini juga memicu terbentuknya pola awan yang memanjang. Pembentukan ini juga didorong kelembapan yang tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Indonesia.
Labilitas atmosfer yaitu kondisi saat massa udara di atmosfer bebas bergerak naik sehingga menciptakan awan yang memicu hujan lebat. Fenomena ini khususnya terpantau lebih masif di bagian selatan RI , sehingga memicu serangkaian bencana hidrometeorologis sepekan terakhir.
(twu/nwk)











































